Kabar Santri Terbaru
41
Sedekah Air, Menguatkan Harapan di Tengah Kekeringan: Komunitas Sedekah Subuh Jogja Salurkan 25 Tangki Air Bersih untuk Purwosari dan Panggang
GUNUNGKIDUL — Di tengah kemarau yang menghadirkan keterbatasan air bersih bagi masyarakat, kepedulian tumbuh menjadi sumber harapan. Melalui gerakan berbagi yang berangkat dari ketulusan dan semangat gotong royong, Komunitas Sedekah Subuh Jogja, salah satu program di bawah Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badko TKA-TPA DIY, menginisiasi kegiatan penyaluran air bersih bagi masyarakat di wilayah Purwosari dan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Sebanyak 25 tangki air bersih disiapkan untuk didistribusikan secara bertahap kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyerahan secara simbolis dilaksanakan di Masjid Nurul Huda, Dringo, Girijati, Purwosari, Gunungkidul. Dalam seremoni tersebut, empat tangki air bersih disiapkan sebagai bagian dari penanda dimulainya ikhtiar bersama untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Bantuan ini merupakan hasil penghimpunan kepedulian dari Komunitas Sedekah Subuh Jogja bersama PRA Prenggan Kotagede. Keduanya menyatukan semangat berbagi dalam sebuah gerakan yang sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi warga yang tengah menghadapi kesulitan memperoleh air bersih. Bagi sebagian orang, air mungkin begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga kehadirannya kerap luput dari perhatian. Namun, bagi masyarakat yang sedang mengalami kekeringan, setetes air dapat menjadi jawaban atas kecemasan, penawar kegelisahan, sekaligus penguat keyakinan untuk terus menjalani hari. Hadir bersama, menguatkan kepedulian Kegiatan penyerahan simbolis tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Badko TKA-TPA Wilayah DIY, Bapak H. Suprapto, S.Ag., M.A., beserta jajaran; Ketua UPZ Badko TKA-TPA DIY, Bapak Muchlis Umaidi, beserta jajaran Komunitas Sedekah Subuh Jogja; serta Ketua Umum Badko TKA-TPA Daerah Gunungkidul, Bapak Arif Tyas Firitiyanto, beserta jajaran. Turut hadir takmir Masjid Nurul Huda, kepala dukuh, Ketua Badko Rayon Panggang, jamaah setempat, serta para santri TKA-TPA Nurul Huda dan TPA Daarul Hidayah. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial merupakan ruang perjumpaan yang menyatukan banyak pihak, melampaui batas organisasi dan peran masing-masing. Masjid menjadi tempat bertemunya niat baik, masyarakat menjadi penerima manfaat, dan air bersih menjadi perantara hadirnya kebahagiaan yang dapat dirasakan secara langsung. Sedekah air, amal yang menghidupkan Dalam kesempatan tersebut, Bapak Arif Tyas Firitiyanto menyampaikan pesan tentang keutamaan sedekah air. Menurutnya, air bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan juga kebutuhan mendasar yang menentukan keberlangsungan kehidupan. Ketika air sulit diperoleh, bantuan air bersih menjadi bentuk kepedulian yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Pesan tersebut sejalan dengan sebuah hadis ketika Sa'ad bin Ubadah r.a. bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sedekah yang paling utama. Rasulullah ﷺ menjawab: سَقْيُ الْمَاءِ “Memberi minum (menyediakan air).” (HR. Abu Dawud, no. 1679; dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis). Pesan singkat tersebut mengandung pelajaran yang mendalam: kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar dan mewah. Terkadang, menyediakan sesuatu yang paling dibutuhkan sesama justru menjadi amal yang sangat berarti. Air yang dialirkan dapat menghidupkan kembali harapan. Air yang dibagikan dapat meringankan beban keluarga. Dan air yang disedekahkan dapat menjadi saksi bahwa di tengah kesulitan, masih ada tangan-tangan yang tergerak untuk menolong. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk melihat bahwa sedekah bukan hanya tentang seberapa banyak yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa dekat pemberian itu menjawab kebutuhan orang lain. Membangun kebiasaan baik melalui Sedekah Subuh Koordinator Komunitas Sedekah Subuh Jogja, Ibu Yuliana Azizah, menyampaikan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana berkat kebaikan dan dukungan para muhsinin, yakni orang-orang yang berbuat baik dan mengulurkan bantuan melalui komunitas tersebut. Menurutnya, keberadaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak dimaksudkan sekadar menjadi ruang untuk menjalankan rutinitas bersedekah. Lebih dari itu, komunitas ini berupaya membangun habits atau kebiasaan baik, menumbuhkan lingkungan yang saling menguatkan, serta menghidupkan budaya berbagi melalui berbagai program yang dijalankan. Sedekah, dalam pandangan tersebut, bukan hanya tentang menyisihkan sebagian rezeki pada waktu tertentu. Sedekah adalah proses mendidik hati agar semakin peka, membiasakan diri untuk peduli, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kebahagiaan tidak harus berhenti pada diri sendiri. Dukungan para muhsinin menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Setiap rupiah yang dititipkan, setiap niat baik yang disatukan, dan setiap kepedulian yang dipelihara menjadi mata rantai kebaikan yang memungkinkan manfaat menjangkau lebih banyak orang. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah, tumbuh sebuah gerakan yang menghadirkan dampak lebih luas. Dari sedekah yang dihimpun bersama, lahir pertolongan yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang sedang membutuhkan. Ketika air datang, harapan kembali tumbuh Bagi masyarakat setempat, bantuan air bersih ini memiliki arti yang jauh melampaui jumlah tangki yang disalurkan. Di balik setiap tangki, terdapat kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, kecemasan yang selama ini dipendam, serta harapan agar kehidupan sehari-hari tetap dapat berjalan. Salah seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa syukur dan kelegaan atas terlaksananya kegiatan tersebut. “Kami para warga di sini banyak yang bingung, besok mau makan apa, mau minum bagaimana. Alhamdulillah, datang pertolongan Allah melalui droping air bersih ini sebagai penghapus keraguan, menambah keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa beratnya beban yang dirasakan warga ketika kebutuhan dasar semakin sulit dipenuhi. Dalam situasi demikian, bantuan air bersih bukan hanya meringankan persoalan sehari-hari, tetapi juga memberikan ketenangan batin. Ketika air datang, ada kecemasan yang perlahan mereda. Ketika bantuan diberikan, tumbuh keyakinan bahwa masyarakat tidak menghadapi kesulitan seorang diri. Dan ketika kepedulian hadir secara nyata, kepercayaan kepada sesama kembali menemukan ruang untuk bertumbuh. Pertolongan Allah dapat hadir melalui berbagai jalan, termasuk melalui tangan orang-orang yang tergerak untuk berbagi. Di situlah nilai kemanusiaan dan keimanan bertemu: ketika kepedulian tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi diwujudkan menjadi tindakan yang meringankan beban sesama. Distribusi tahap pertama masih berlangsung Penyaluran sebanyak 25 tangki air bersih ini menjadi bagian dari upaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan di wilayah Rayon Purwosari dan Rayon Panggang. Distribusi dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di wilayah sasaran. Hingga berita ini disusun, proses distribusi air bersih masih berlangsung di Rayon Purwosari dan Rayon Panggang. Diharapkan bantuan tersebut dapat menjangkau warga secara bertahap dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan persoalan sosial membutuhkan kepedulian yang berkelanjutan. Ketika kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi, kerja sama berbagai pihak menjadi penting agar bantuan dapat hadir secara tepat dan memberi manfaat sebesar-besarnya. Badko TKA-TPA DIY: membina generasi, merawat kepedulian sosial Kegiatan droping air bersih ini menunjukkan bahwa kiprah Badko TKA-TPA Wilayah DIY bersama unit-unit program dan jejaringnya tidak semata-mata berfokus pada pembinaan pendidikan Al-Qur'an. Di tengah kehidupan masyarakat yang terus menghadapi beragam tantangan, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari pengabdian. Pembinaan TKA-TPA pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca Al-Qur'an, tetapi juga tentang menumbuhkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata. Nilai kasih sayang, tolong-menolong, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama perlu tumbuh bersama pendidikan yang diberikan kepada para santri. Karena itu, kegiatan sosial semacam ini memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya menjadi ikhtiar membantu masyarakat memperoleh air bersih, melainkan juga menjadi teladan bahwa ajaran kebaikan perlu hadir dalam tindakan sehari-hari. Terlebih, perhatian terhadap masyarakat di sekitar unit-unit TKA-TPA yang dinaungi menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan Al-Qur'an yang dekat dengan kehidupan, peka terhadap persoalan sosial, serta mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Inilah wajah pengabdian yang diharapkan terus tumbuh: membina generasi agar dekat dengan Al-Qur'an sekaligus menanamkan kepedulian agar mereka kelak mampu menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat. Menyalakan harapan, mengalirkan kebaikan Dua puluh lima tangki air bersih mungkin belum mampu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Namun, setiap upaya yang dilakukan dengan ketulusan memiliki arti. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari kesediaan untuk mengambil bagian, mengulurkan tangan, dan tidak membiarkan kesulitan sesama berlalu tanpa kepedulian. Dari Sedekah Subuh Jogja, PRA Prenggan Kotagede, para muhsinin, Badko TKA-TPA Wilayah DIY, Badko TKA-TPA Daerah Gunungkidul, hingga masyarakat setempat, terjalin sebuah pesan sederhana: kebaikan akan menemukan jalannya ketika banyak hati bersedia berjalan bersama. Semoga air yang mengalir menjadi keberkahan bagi setiap keluarga penerima manfaat, menjadi amal jariyah bagi para pemberi, serta menjadi penguat persaudaraan di tengah masyarakat. Semoga ikhtiar ini juga menumbuhkan semakin banyak kebiasaan baik, sehingga sedekah tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya yang menghidupkan kepedulian. Sebab, pada akhirnya, yang mengalir bukan hanya air, melainkan juga kasih sayang, harapan, dan keyakinan bahwa di tengah kesulitan, kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk hadir. Pantau jalannya kegiatan Masyarakat dan para Sahabat Kebaikan dapat mengikuti dokumentasi serta perkembangan kegiatan penyaluran air bersih melalui tautan berikut: dokumentasi dan pemantauan kegiatan dokumentasi Komunitas Sedekah Subuh Jogja — merawat kebiasaan baik, menguatkan kepedulian, dan mengalirkan manfaat bagi sesama.
Baca Serunya!
92
FASI XIII Sleman Himpun 720 Santri, Kalasan Raih Predikat Rayon Terbaik
SLEMAN, Yogyakarta — Semangat syiar Al-Qur’an dan pembinaan generasi Qur’ani terasa kuat dalam pelaksanaan Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) XIII Daerah Sleman yang digelar pada Ahad, 11 Oktober 2026, di SMA Negeri 1 Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 720 peserta dari berbagai rayon mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Sejak kegiatan dimulai, suasana lokasi dipenuhi semangat para santri, pendamping, orang tua, serta para pengurus Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TKA-TPA). Mereka hadir bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi juga membawa semangat untuk menunjukkan kemampuan, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dari seluruh rayon yang berpartisipasi, Rayon Kalasan berhasil meraih predikat sebagai Juara Umum FASI XIII Daerah Sleman. Prestasi tersebut menjadi buah dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan sekaligus menjadi motivasi bagi para santri dan pembina untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran BADKO TKA-TPA Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hadir Ustadz H. Suprapto, S.Ag., selaku Ketua Umum BADKO TKA-TPA DIY, yang menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada seluruh peserta, pendamping, dan tamu undangan. Dalam suasana yang penuh semangat tersebut, Ustadz H. Suprapto mendorong para santri agar menjadikan FASI bukan semata-mata sebagai ajang mengejar juara, tetapi sebagai bagian dari proses membangun karakter, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta membentuk generasi yang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik. FASI diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi ruang pembinaan dan penguatan generasi Qur’ani yang mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Selain menghadiri rangkaian FASI, BADKO TKA-TPA DIY juga turut mendampingi Ustadz Wahyu Pujananto, selaku pengurus UPZ BADKO TPA DIY, dalam kegiatan pentasyarufan yang diinisiasi oleh Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Pentasyarufan tersebut merupakan bagian dari program yang dikembangkan Komunitas Sedekah Subuh Jogja sebagai anak program UPZ BADKO TPA DIY, dengan sasaran khusus santri berprestasi. Bantuan ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus apresiasi terhadap santri yang telah menunjukkan prestasi dan kesungguhan dalam mengikuti proses pendidikan serta pembinaan keagamaan. Kehadiran program tersebut memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan FASI XIII Sleman. Di tengah suasana kompetisi, para santri tidak hanya mendapatkan pengalaman bertanding dan menunjukkan kemampuan, tetapi juga merasakan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan generasi muda dan pendidikan Al-Qur’an. Suasana di SMA Negeri 1 Prambanan berlangsung semarak. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan perlombaan. Sorak dukungan dari pendamping dan orang tua sesekali terdengar mengiringi penampilan para santri. Di sisi lain, para panitia dan pembina terlihat aktif memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar. Momentum FASI XIII juga menjadi ruang silaturahmi bagi para pengelola TKA-TPA, ustadz dan ustadzah, orang tua, serta para santri dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman. Pertemuan tersebut mempertemukan banyak pihak dalam satu semangat yang sama, yakni membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki karakter Islami. Pelaksanaan FASI XIII Daerah Sleman mendapat dukungan dari berbagai pihak. Apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, jajaran BADKO TKA-TPA, panitia pelaksana, pengurus rayon, para ustadz dan ustadzah, orang tua, komunitas, donatur, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, fasilitas maupun doa. Dukungan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan memberikan pengalaman berharga bagi ratusan santri yang terlibat. Pelaksanaan FASI XIII Daerah Sleman diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan TKA-TPA sekaligus meningkatkan kualitas generasi Qur’ani di Sleman. Lebih dari sekadar mencari pemenang, FASI diharapkan mampu melahirkan anak-anak yang berprestasi, percaya diri, berakhlak mulia, serta memiliki kecintaan yang kuat terhadap Al-Qur’an. Para peserta yang belum berhasil meraih juara juga diharapkan tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai akhir dari perjuangan. Sebaliknya, pengalaman mengikuti FASI dapat menjadi bekal untuk terus belajar, berlatih, dan memperbaiki diri. Sementara bagi para juara, prestasi yang diraih diharapkan menjadi amanah untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjadi inspirasi bagi santri lainnya. Dengan semangat kompetisi yang sehat, silaturahmi yang kuat, dan pembinaan yang berkelanjutan, FASI XIII Daerah Sleman diharapkan tidak hanya meninggalkan catatan prestasi, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan dalam perjalanan pembentukan generasi Qur’ani di Kabupaten Sleman. FASI XIII Sleman akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara, melainkan tentang bagaimana 720 santri belajar untuk berani tampil, berprestasi, mencintai Al-Qur’an, dan tumbuh menjadi generasi yang membawa manfaat bagi masa depan.
Baca Serunya!
147
1.287 Santri Bersemangat, FASI XIII Bantul Menguatkan Langkah Menuju Generasi Saleh
BANTUL – Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) XIII Daerah Bantul berlangsung pada Ahad, 11 Oktober 2026, bertempat di Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) II Kabupaten Bantul. Kegiatan ini diikuti sebanyak 1.287 santri TKA-TPA dari berbagai rayon di Kabupaten Bantul, sebagai wujud semangat generasi muda Islam dalam mengembangkan potensi, keterampilan, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dalam penyelenggaraan tahun ini, Rayon Kapanewon Banguntapan berhasil meraih gelar juara umum. Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus buah dari kerja keras para santri, ustaz dan ustazah, orang tua, serta seluruh pihak yang turut mendukung proses pembinaan santri di lingkungan TKA-TPA. Hadir dalam kegiatan tersebut, Ustaz H. Anas Yusuf selaku Pengurus BADKO TKA-TPA Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain memberikan sambutan, ia juga mendampingi kegiatan pentasyarufan tali asih kepada santri pilihan. Kegiatan sosial ini diinisiasi oleh Komunitas Sedekah Subuh Jogja, sebuah program anak dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BADKO TKA-TPA DIY. Pentasyarufan tali asih tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan FASI, bahwa di balik semarak perlombaan, terdapat nilai kepedulian, kebersamaan, dan semangat untuk saling menguatkan. Perhatian kepada santri diharapkan menjadi penyemangat agar mereka terus bertumbuh, berprestasi, dan istiqamah dalam menuntut ilmu serta mengamalkan nilai-nilai Islam. Lebih dari Perlombaan, FASI Menjadi Ruang Pembentukan Karakter Ustadzah Aqiella Fadia Risqi, S.I.Kom. sekretaris Panitia Fasi XIII Bantul. Menyampaikan harapannya agar semangat FASI tidak berhenti ketika perlombaan usai. Menurutnya, antusiasme dan euforia yang hadir selama kegiatan perlu terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari para santri. “Semoga euforia dan semangat FASI tidak hanya terasa saat hari perlombaan saja, tetapi terus hidup di keseharian anak-anak untuk senantiasa rajin belajar, mengaji, dan berakhlak mulia,” ungkapnya. Pesan tersebut menegaskan bahwa FASI bukan semata-mata ajang untuk mengejar prestasi dan memperebutkan piala. Lebih dari itu, FASI merupakan sarana pembinaan generasi Qur’ani yang memiliki kecakapan, keberanian, kedisiplinan, serta akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh ustaz, ustazah, dan orang tua yang telah mendampingi perjalanan anak-anak dalam belajar dan berproses. Kesabaran para pendidik dan keluarga dalam membimbing santri sejak tahap awal menjadi bagian penting dari keberhasilan pembinaan generasi penerus bangsa. Lelah yang dirasakan panitia, pendidik, dan orang tua dalam mempersiapkan kegiatan ini bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Sebaliknya, setiap waktu, tenaga, dan perhatian yang diberikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak Indonesia. Merawat Solidaritas, Menumbuhkan Generasi Qur’ani Penyelenggaraan FASI XIII Daerah Bantul juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antarlembaga, rayon, pengurus BADKO, serta unsur kepemudaan Islam. Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menghadirkan lebih banyak ruang positif bagi anak-anak dan santri untuk belajar, berkarya, berkompetisi secara sehat, serta mengembangkan potensi diri. Harapan pun disampaikan agar BADKO dan kepemudaan Islam terus solid, inovatif, dan tidak pernah lelah menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi generasi muda. Semangat Bantul Bisa Juara Satu diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian tertinggi dalam kompetisi. Lebih dari sekadar piala dan gelar juara, kemenangan sejati adalah ketika para santri tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua dan guru, serta menghadirkan manfaat bagi sesama. FASI XIII Daerah Bantul pun menjadi pengingat bahwa membangun generasi saleh tidak cukup dilakukan dalam satu hari perlombaan. Dibutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, ketulusan para pendidik, dukungan keluarga, serta kepedulian masyarakat agar semangat kebaikan terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, prestasi boleh mengantarkan santri ke atas panggung juara, tetapi karakter dan ketulusanlah yang akan menuntun mereka menjadi generasi penerus bangsa yang sesungguhnya. berikut ini adalah dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan FASI XIII Daerah Bantul : dokumen foto (Kamera Fadhli) dokumentasi Video
Baca Serunya!
77
Semarak FASI XIII Kota Yogyakarta: 1.002 Santri Berkompetisi, Kepedulian Sosial Turut Menginspirasi
Yogyakarta, 11 Oktober 2026 — Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Kota Yogyakarta berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, bertempat di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 1.002 peserta dari berbagai unit TKA-TPA, sebagai wujud semangat dalam membangun generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak mulia, dan berprestasi. Pelaksanaan FASI XIII menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sekaligus mengembangkan potensi santri dalam bidang keagamaan. Melalui berbagai cabang perlombaan, para santri mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan, melatih keberanian, serta membangun jiwa kompetitif yang sehat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Pada penyelenggaraan tahun ini, Rayon Umbulharjo berhasil meraih predikat juara umum. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi bagi seluruh santri, ustadz-ustadzah, pengelola TKA-TPA, dan orang tua untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ustadz Fajar Wijanarko, pengurus Badko Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kehadiran perwakilan Badko Wilayah DIY menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur’an serta pembinaan generasi muda Islam melalui kegiatan yang edukatif dan kompetitif. Ketua Badko Kota Yogyakarta Sampaikan Harapan Dukungan Pemerintah Ketua Umum Badko Kota Yogyakarta, Ustadz Dicky Artanto, M.Pd., menyampaikan kesan, pesan, dan harapannya agar penyelenggaraan FASI ke depan mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah. Menurutnya, dukungan tersebut penting untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan pembinaan dan pengembangan potensi santri TKA-TPA. Ia juga berharap Badko DIY dapat mengambil peran aktif dalam menjembatani komunikasi dengan pemerintah, sehingga terbangun keselarasan visi dan kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. “Ke depan, diharapkan ada anggaran dari pemerintah. BADKO DIY harus berperan aktif dalam menjembatani komunikasi dengan pemerintah, sehingga pemerintah daerah dapat satu frekuensi dengan pemerintah provinsi,” demikian harapan yang disampaikan Ustadz Dicky Artanto, M.Pd. Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan Al-Qur’an membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pengelola TKA-TPA, Badko di tingkat kota maupun provinsi, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah. Kolaborasi yang kuat diharapkan mampu menghadirkan pembinaan santri yang lebih terarah, berkelanjutan, dan menjangkau lebih banyak anak. Tali Asih Komunitas Sedekah Subuh Jogja, Wujud Kepedulian terhadap Santri Selain semangat kompetisi dan prestasi, kegiatan ini juga diwarnai dengan apresiasi atas terselenggaranya pentasyarufan Tali Asih dari Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Penyerahan tali asih pada kesempatan tersebut didampingi langsung oleh Ustadz Fajar Wijanarko. Pentasyarufan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Kehadiran program tali asih di tengah kegiatan pendidikan Al-Qur’an memberikan pesan bahwa perhatian terhadap santri tidak hanya diwujudkan melalui pembinaan ilmu dan keterampilan, tetapi juga melalui dukungan, kepedulian, dan kebersamaan. Apresiasi patut disampaikan kepada Komunitas Sedekah Subuh Jogja atas ikhtiar menebarkan manfaat melalui program berbagi tersebut. Semoga setiap amanah yang ditunaikan menjadi keberkahan bagi para penerima, membawa kebaikan bagi para donatur, serta menguatkan semangat seluruh pihak yang terus berjuang dalam pendidikan dan pembinaan generasi Qur’ani. Terus Melangkah, Santri TKA-TPA, Jadilah Generasi Qur’ani yang Menginspirasi! FASI bukan sekadar perlombaan untuk mencari juara. Lebih dari itu, FASI merupakan ruang pembelajaran untuk membentuk karakter, menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri. Bagi seluruh santri TKA-TPA, teruslah belajar, berlatih, dan berani bermimpi. Jangan pernah merasa kecil ketika belum menjadi juara, sebab setiap langkah dalam mempelajari Al-Qur’an adalah bagian dari perjuangan yang mulia. Bagi yang meraih prestasi, jadikan kemenangan sebagai motivasi untuk semakin rendah hati dan terus berkembang. Terima kasih kepada seluruh panitia, pengurus Badko, ustadz-ustadzah, orang tua, para pendukung, serta Komunitas Sedekah Subuh Jogja yang telah mengambil bagian dalam ikhtiar memajukan generasi Qur’ani. “Dari TKA-TPA, kita semai cinta Al-Qur’an. Dari FASI, kita tumbuhkan prestasi. Dengan kepedulian dan kebersamaan, kita kuatkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat.” Semoga FASI XIII Kota Yogyakarta menjadi langkah bermakna dalam melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam iman, luhur dalam akhlak, dan luas manfaatnya bagi masyarakat.
Baca Serunya!Galeri Foto Ceria
Video Keseruan Kita
Tanya Jawab Ceria (FAQ)
Informasi umum & jawaban pertanyaan seputar Badko TKA-TPA DIY