Menyusuri Lima Pintu Cahaya: Supervisi Akreditasi TPA di Rayon Galur
Kulonprogo, 15 Agustus 2026. Pagi ini, Galur seperti sedang menyimpan sebuah cerita. Di antara jalan-jalan yang membelah perkampungan, pepohonan yang teduh, dan masjid-masjid yang menjadi tempat bertumbuhnya cahaya Al-Qur’an, lima lembaga TPA bersiap menerima sebuah kunjungan penting.
Bukan kunjungan yang datang membawa ketakutan, melainkan sebuah perjalanan untuk melihat, menata, dan menguatkan. Itulah supervisi akreditasi TPA di Rayon Galur, Kabupaten Kulon Progo.
Titik awal perjalanan dipusatkan di TPA Al Muhsin, Bunder, Banaran, Galur. Di tempat inilah pembukaan dilaksanakan. Para direktur TPA, pengurus, tim asesor, dan seluruh unsur yang terlibat berkumpul dalam suasana hangat. Sejenak mereka menyatukan langkah, sebelum perjalanan dilanjutkan menuju lima unit TPA yang menjadi bagian dari supervisi akreditasi kali ini.
Lima lembaga tersebut adalah TPA Al Muhsin di Bunder, Banaran, Galur; TPA Al Falach di Sorogenen, Nomporejo, Galur; TPA Baiturrahman di Pandowan, Galur; TPA Mu’tamirin di Karangsewu, Galur; serta TPA Al Mukminun di Barongan, Karangsewu, Galur.
Lima nama, lima tempat, lima kisah. Namun semuanya bermuara pada satu cita-cita: menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang semakin tertata, semakin kuat, dan semakin memberi manfaat bagi anak-anak di tengah masyarakat.
Mengetuk Pintu, Melihat dari Dekat
Setelah pembukaan usai, tim asesor bergerak dari satu unit ke unit lainnya. Seperti menyusuri halaman-halaman dalam sebuah kitab yang belum selesai ditulis, setiap TPA memiliki cerita, kekuatan, sekaligus ruang untuk terus dibenahi.
Supervisi tidak sekadar melihat lembar-lembar administrasi. Tim juga menengok sarana dan prasarana yang tersedia, melihat bagaimana sebuah unit TPA menjalankan aktivitasnya, serta berbincang dan berbagi bersama pengurus takmir masjid maupun pengurus TPA.
Di sana, akreditasi menemukan maknanya yang lebih sederhana dan manusiawi.
Ia bukan sekadar angka, dokumen, atau penilaian. Ia adalah cermin untuk melihat sejauh mana sebuah lembaga telah berjalan, sekaligus jendela untuk memandang langkah apa yang perlu dilakukan setelahnya.
Ada administrasi yang perlu dirapikan. Ada sarana yang perlu diperkuat. Ada kebiasaan-kebiasaan baik yang perlu dipertahankan. Dan ada pula hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian, namun ternyata memiliki arti penting dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Semua dibicarakan dalam suasana yang cair. Pertanyaan bertemu jawaban. Catatan bertemu pengalaman. Dan pengalaman itu kemudian menjadi bahan untuk tumbuh bersama.
“Akreditasi Tidak Menakutkan”
Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, perjalanan kembali bermuara di TPA Al Muhsin. Penutupan diikuti oleh seluruh direktur TPA beserta jajaran pengurusnya.
Dalam sambutannya, H. Agus Wantoro, S.H. menyampaikan harapan agar semakin banyak unit TPA yang berkenan mengikuti proses akreditasi.
Menurutnya, akreditasi tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Justru melalui akreditasi, setiap unit memiliki kesempatan untuk mengetahui keadaan lembaganya secara lebih utuh, menemukan kekurangan, sekaligus memperkuat hal-hal baik yang selama ini telah berjalan.
Pesan itu terasa seperti membuka jendela yang sebelumnya mungkin tertutup: bahwa akreditasi bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan salah satu cara untuk memastikan perjalanan pendidikan Al-Qur’an terus berada di jalan yang semakin baik.
Dari Daftar Hadir hingga Budaya Tertib
Rangkaian kemudian berlanjut dengan evaluasi dan pembinaan yang disampaikan oleh Sekretaris Umum BADKO Wilayah DIY, Fajar Wijanarko, S.T.
Dalam evaluasinya, ia menyoroti salah satu hal yang masih sering terabaikan di sejumlah unit TPA, yakni daftar hadir, baik untuk santri maupun ustadz dan ustadzah.
Barangkali daftar hadir tampak seperti selembar kertas sederhana. Namun dari lembar sederhana itulah sebuah lembaga dapat merekam perjalanan: siapa yang hadir, siapa yang belajar, siapa yang mengajar, dan bagaimana kedisiplinan sebuah proses pendidikan berlangsung.
Sebab lembaga yang besar sering kali tidak hanya dibangun oleh gagasan-gagasan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tertib, berulang, dan penuh kesadaran.
Administrasi yang rapi pada akhirnya bukan sekadar urusan berkas. Ia adalah jejak perjalanan sebuah pengabdian.
Menyalakan Api Semangat
Suasana semakin hangat ketika Dewan Pakar BADKO TPA Kulon Progo, H. Maryanto, S.Ag., memberikan motivasi kepada seluruh peserta. "Tetaplah Istiqomah dalam jalan ini, jagalah apa yang sudah ada dari perjalanan dakwah di TPA ini, Jogonen!".
Pesan-pesan yang disampaikan menjadi penguat bahwa mengelola TPA adalah bagian dari perjalanan panjang menanam kebaikan. Tidak semua benih yang ditanam akan segera terlihat menjadi pohon. Tidak semua perjuangan akan langsung menghasilkan buah.
Namun anak-anak yang hari ini belajar membaca huruf demi huruf Al-Qur’an, kelak mungkin akan tumbuh menjadi generasi yang membawa cahaya itu lebih jauh.
Di situlah letak indahnya pengabdian di TPA.
Mungkin namanya tidak selalu disebut. Mungkin lelahnya tidak selalu terlihat. Tetapi setiap huruf yang berhasil dibaca seorang santri, setiap doa yang dilafalkan, dan setiap akhlak baik yang tumbuh, adalah bagian dari buah panjang yang sedang dipersiapkan.
Lima TPA, Satu Langkah untuk Terus Bertumbuh
Supervisi akreditasi di Rayon Galur pun ditutup dengan suasana penuh keakraban. Lima unit TPA telah dikunjungi. Berbagai catatan telah dihimpun. Beragam pengalaman telah dibagikan.
Hari itu, Galur seolah menulis satu halaman kecil dalam perjalanan panjang pendidikan Al-Qur’an di Kulon Progo.
Lima TPA telah membuka pintunya. Lima lembaga telah memperlihatkan ikhtiarnya. Dan dari sana, sebuah pesan sederhana kembali diteguhkan:
Akreditasi bukan untuk mencari siapa yang paling sempurna, tetapi untuk bersama-sama menemukan jalan agar setiap lembaga menjadi lebih baik.
Sebab perjalanan pendidikan Al-Qur’an tidak pernah benar-benar selesai. Ia seperti sungai yang terus mengalir—melewati kampung, masjid, ruang-ruang sederhana, dan hati anak-anak yang sedang belajar mengenal Kalam-Nya.
Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika anak-anak itu telah tumbuh dewasa, mereka akan mengenang tempat-tempat kecil ini sebagai salah satu pintu pertama yang memperkenalkan mereka kepada cahaya.
Dari Galur, langkah itu kembali dimulai: menata lembaga, menguatkan pengabdian, dan menumbuhkan generasi Qur’ani, satu TPA demi satu TPA.
Komentar Santri & Pembaca (3)
Dwi Maryanto Galur
15 Aug 2026, 22:10Terima kasih atas kunjungannya di Rayon Galur
Argun
15 Aug 2026, 18:50Lanjutkan perjuangan
Sumadi
15 Aug 2026, 18:27Tetap semangat dan terus berjuang