Kabar Santri Terbaru
101
BADKO DIY Bangun Sinergi | SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terpilih menjadi tempat pelaksanaan FASI
Yogyakarta, 1 September 2026 — Langkah persiapan menuju pelaksanaan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai dimatangkan. Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan melalui audiensi dan silaturahmi Badan Koordinasi (BADKO) TKA-TPA/TKQ Wilayah DIY ke SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Dalam audiensi tersebut, BADKO Wilayah DIY menyampaikan rencana pelaksanaan FASI XIII Provinsi DIY yang dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 dengan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan. Rombongan BADKO Wilayah DIY hadir bersama jajaran pengurus dan panitia, di antaranya Ketua Umum, sekretaris, bendahara, ketua panitia, bidang perlengkapan, serta sejumlah unsur kepanitiaan lainnya. Rombongan diterima langsung oleh Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta beserta Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana serta jajaran terkait. Ketua Umum BADKO Wilayah DIY, Bapak Suprapto, S.Ag., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan serta penerimaan pihak SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terhadap kunjungan tersebut. Ia menjelaskan, BADKO Wilayah DIY merupakan lembaga pembina yang memiliki peran dalam membina unit-unit pendidikan Al-Qur'an, khususnya TKA, TPA, dan TKQ yang tersebar di wilayah DIY. Saat ini, terdapat sekitar 4.000 unit yang menjadi bagian dari pembinaan tersebut. “BADKO hadir untuk membina dan menguatkan lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur'an yang ada di DIY. FASI menjadi salah satu ruang untuk memberikan apresiasi sekaligus mengembangkan potensi anak-anak santri,” demikian substansi yang disampaikan dalam audiensi tersebut. Dalam kesempatan itu, BADKO Wilayah DIY juga menyampaikan permohonan izin untuk menggunakan tempat beserta fasilitas yang tersedia di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan FASI XIII tingkat provinsi. FASI sendiri merupakan ajang kompetisi anak-anak santri yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat rayon, daerah, provinsi, hingga tingkat nasional. Ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang untuk menumbuhkan keberanian, kreativitas, kecintaan terhadap Al-Qur'an, serta semangat berprestasi di kalangan generasi muda. Menanggapi rencana tersebut, Bapak Kustejo,S.Pd.I, M.Pd. Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan BADKO Wilayah DIY. Ia mengaku senang sekolah yang dipimpinnya mendapat kunjungan sekaligus kepercayaan untuk menjadi bagian dari pelaksanaan FASI XIII DIY. Menurutnya, kunjungan BADKO DIY menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta dikenal dan dipercaya oleh berbagai pihak. Pihak sekolah pun memberikan izin penggunaan tempat dan fasilitas SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta untuk mendukung pelaksanaan FASI XIII DIY. Terkait persiapan teknis, pihak sekolah membuka ruang koordinasi bagi panitia untuk melakukan penataan lokasi, ruang, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Penataan tersebut dapat dilaksanakan pada Sabtu sebelum pelaksanaan kegiatan dengan dukungan dari bagian sarana dan prasarana serta petugas kebersihan. Dari sisi keamanan, pihak sekolah juga menyatakan kesiapan untuk membantu melalui petugas keamanan atau satpam, termasuk dalam pengaturan parkir selama kegiatan berlangsung. Kepala sekolah juga menekankan pentingnya menjaga fasilitas sekolah. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, fasilitas yang digunakan diharapkan dapat dikembalikan seperti semula. Apabila selama persiapan maupun pelaksanaan terdapat kebutuhan teknis, panitia dapat berkoordinasi dengan bagian sarana dan prasarana sekolah. Menariknya, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta juga memiliki ruang baru yang kedap suara di lantai tiga. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu ruang pendukung untuk pelaksanaan cabang nasyid dalam rangkaian FASI. Audiensi tersebut menjadi awal dari sebuah ikhtiar bersama. BADKO DIY membawa semangat pembinaan generasi Qur'ani, sementara SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta membuka pintu dengan kesiapan fasilitas dan dukungan. Di balik setiap perlombaan, ada harapan yang jauh lebih besar: lahirnya anak-anak yang tidak hanya berani tampil dan meraih prestasi, tetapi juga tumbuh dengan kecintaan kepada Al-Qur'an, akhlak mulia, dan semangat menjadi generasi penerus yang membawa kebaikan. Dengan sinergi antara BADKO Wilayah DIY, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, para pengelola TPA, panitia, orang tua, serta seluruh pihak yang terlibat, FASI XIII Provinsi DIY pada 8 November 2026 diharapkan dapat menjadi perhelatan yang sukses, tertib, semarak, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi Qur'ani di Yogyakarta. Sebab, ketika anak-anak belajar mencintai Al-Qur'an sejak dini, sesungguhnya di sanalah masa depan sedang ditanam—perlahan, penuh kesabaran, dan dengan doa yang panjang.
Baca Serunya!
109
Dari Seribu Batu Menuju Seribu Kebaikan: Komunitas Sedekah Subuh Jogja Resmi Diluncurkan
Mangunan, Bantul, Ahad, 30 Agustus 2026. Ada pagi yang tidak hanya menghadirkan matahari, tetapi juga menyalakan sebuah harapan. Di antara rimbun pepohonan dan sejuknya udara Mangunan, Dlingo, Bantul, sebuah gerakan kebaikan resmi dimulai. Dalam rangkaian Pleno Badko Wilayah DIY yang digelar di Seribu Batu, Mangunan, Dlingo, Bantul, pada kesempatan tersebut Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) resmi diluncurkan sebagai ikhtiar bersama untuk menumbuhkan kebiasaan berbuat baik, dimulai dari waktu yang paling hening: subuh. Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja dilakukan oleh Bapak Suprapto, S.Ag., selaku Ketua Umum Badko TKA-TPA DIY, bersama Bapak Muhshonef, S.H.I., M.H.I., selaku Ketua Dewan Pakar Badko DIY. Keduanya hadir sebagai bagian dari ikhtiar untuk meneguhkan bahwa gerakan dakwah tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang, ia cukup dimulai dari sebuah niat yang sederhana, dari seribu rupiah yang disisihkan, dari satu kebaikan yang dilakukan setiap pagi. Peluncuran tersebut turut didampingi Bapak Muchlis Umaidi selaku Ketua UPZ Badko TKA-TPA DIY. Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pula penyerahan Surat Keputusan (SK) Komunitas dari Ketua UPZ kepada Yuliana Azizah selaku Koordinator Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Penyerahan SK tersebut menjadi penanda bahwa gerakan ini bukan sekadar gagasan yang berhenti di atas kertas. Ia adalah langkah awal sebuah perjalanan—perjalanan untuk mengajak sebanyak mungkin orang berjalan bersama dalam kebaikan. Bukan Sekadar Sedekah, Tetapi Membangun Kebiasaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja hadir dengan sebuah filosofi sederhana namun dalam. Gerakan ini tidak semata-mata mengajak masyarakat untuk bersedekah. Lebih jauh, KSSJ ingin membangun kebiasaan untuk berbuat baik. Sebab satu kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dijaga akan membentuk karakter. Dan karakter baik, insyaAllah, akan menjadi salah satu jalan menuju ridha dan surga-Nya. Karena itulah KSSJ membawa semangat: “Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan.” Subuh dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah awal hari, saat dunia belum sepenuhnya ramai, ketika hati memiliki ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Sebelum subuh, seseorang menyiapkan niat. Saat subuh, hati diingatkan. Setelah subuh, kebaikan diwujudkan. Tidak harus besar. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu sempurna. Bahkan Rp1.000 setiap subuh, jika dilakukan dengan istiqamah dan dilakukan bersama-sama, dapat tumbuh menjadi gerakan yang besar. Sebagaimana filosofi yang dibawa KSSJ: kecil dan konsisten mengalahkan besar tetapi hanya sesekali. Dari Rp1.000 Menjadi Gerakan Kebaikan Bayangkan jika satu orang bersedekah Rp1.000. Lalu seratus orang melakukan hal yang sama. Kemudian seribu orang. Seribu rupiah yang tampak kecil di tangan seseorang dapat berubah menjadi Rp100.000 ketika dilakukan seratus orang, dan menjadi Rp1.000.000 ketika dilakukan seribu orang setiap hari. Di sanalah kekuatan komunitas menemukan maknanya. Bukan tentang seberapa besar yang diberikan seseorang, melainkan tentang berapa banyak hati yang bersedia bergerak bersama. KSSJ ingin membangun sebuah ekosistem kebaikan. Dari satu orang menuju keluarga. Dari keluarga menuju TKA-TPA. Dari TKA-TPA menuju rayon. Dari rayon menuju daerah. Hingga akhirnya, tumbuh menjadi kebiasaan kebaikan bersama di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Lima Pilar yang Menjaga Denyut Kebaikan Untuk menjaga agar gerakan ini tidak berhenti sebagai slogan, KSSJ membangun aktivitas harian yang ringan, konsisten, dan terukur. Ada Misi Harian, sebagai pemantik untuk melakukan satu kebaikan kecil. Ada Quotes Subuh, sebagai pengingat hati dan ajakan bersedekah setiap fajar. Ada Sedekah Subuh, dengan pembiasaan berbagi Rp1.000 yang ringan namun diupayakan istiqamah. Ada Laporan dan Dokumentasi, sebagai bagian dari menjaga amanah dan transparansi. Dan ada Tumbuh Bersama, agar setiap anggota menyadari bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. Sebab KSSJ tidak ingin anggotanya hanya menjadi orang yang mentransfer sejumlah uang. Gerakan ini ingin mengajak setiap orang mengalami sendiri proses berbuat baik. Hari ini mungkin tersenyum kepada seseorang. Besok mendoakan orang lain. Lusa berbagi makanan. Pada hari lain membaca Al-Qur'an, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, atau melakukan kebaikan sederhana lainnya. Sebab kebaikan yang terus dilakukan, perlahan akan menjadi bagian dari diri. Amanah yang Kembali kepada Umat Dana yang dihimpun melalui Komunitas Sedekah Subuh Jogja akan disalurkan melalui UPZ Badko TKA-TPA DIY untuk berbagai program kemanfaatan. Di antaranya untuk mendukung pendidikan Al-Qur'an, bantuan unit TKA-TPA di DIY, beasiswa santri, santunan yatim dan dhuafa, pelatihan ustadz-ustadzah, program kemanusiaan dan pemberdayaan, program dakwah, serta berbagai program kebaikan lainnya. KSSJ juga menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai bagian penting dari gerakan. Laporan disampaikan secara berkala melalui grup WhatsApp sebagai bentuk pertanggungjawaban dan amanah kepada para anggota. Karena setiap rupiah yang dititipkan umat bukan sekadar angka. Di dalamnya ada kepercayaan. Ada doa. Ada harapan. Dan ada amanah yang harus dijaga. Saatnya Bergabung dan Menyebarkan Kebaikan Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja menjadi awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang. Karena gerakan ini tidak membutuhkan penonton. Ia membutuhkan penggerak. Para ustadz dan ustadzah, pengurus Badko, pengelola TKA-TPA, santri, wali santri, keluarga, alumni, komunitas, dan siapa pun yang ingin menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan—semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian. KSSJ mengajak seluruh masyarakat untuk bergabung dalam Komunitas Sedekah Subuh Jogja, kemudian mengajak orang-orang di lingkungan masing-masing untuk ikut bergerak. Mulai dari keluarga. Mulai dari TKA-TPA. Mulai dari teman. Mulai dari komunitas. Mulai dari daerah masing-masing. Dan yang paling penting: mulai dari subuh ini. Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Karena boleh jadi, seribu rupiah yang kita sisihkan setiap subuh bukanlah sesuatu yang besar bagi kita. Namun ketika seribu orang melakukan hal yang sama, ia dapat menjelma menjadi kekuatan yang menghidupkan banyak harapan. Scan barcode KSSJ, bergabunglah dalam komunitas, dan ajak orang lain untuk ikut berjalan. klik disini untuk bergabung dengan komunitas SCAN • JOIN • MULAI SUBUH INI Mulai dari Subuh Sebuah Doa dari Mangunan Dari Seribu Batu, Mangunan, sebuah langkah kecil telah dimulai. Mungkin hari ini ia hanya berupa sebuah komunitas. Mungkin baru berupa beberapa nama yang bergabung. Mungkin baru berupa seribu rupiah yang berpindah tangan. Namun setiap gerakan besar selalu memiliki awal yang sederhana. Semoga Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para pemberi, tetapi menjadi ruang tumbuhnya manusia-manusia yang mencintai kebaikan. Semoga dari satu subuh lahir subuh-subuh berikutnya yang lebih berarti. Dari satu rupiah lahir kebermanfaatan. Dari satu keluarga lahir keluarga-keluarga yang peduli. Dari satu TKA-TPA lahir gerakan yang menjalar ke seluruh penjuru Yogyakarta. Dan semoga setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, setiap rupiah yang dititipkan dengan amanah, setiap ajakan yang disampaikan dengan ketulusan, menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi jalan menuju keberkahan-Nya. Karena sedekah bukanlah tujuan akhir. Sedekah adalah salah satu cara melatih diri untuk mencintai kebaikan. Mari berjalan bersama. Mari tumbuh bersama. Mari pulang membawa kebaikan. Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan. Start with Giving, End with Blessing. Komunitas Sedekah Subuh Jogja — KSSJ 2026
Baca Serunya!
58
Dari Mangunan, Menyatukan Langkah untuk Generasi Qurani: Pleno III BADKO TKA TPA DIY Menguatkan Sinergi Menjelang FASI XIII
Bantul — Sejuknya udara Mangunan pada Ahad, 30 Agustus 2026, seolah menjadi saksi bertemunya hati dan langkah para pejuang pendidikan Al-Qur'an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Rumah Kaca, kompleks Seribu Batu Songgo Langit, Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, keluarga besar BADKO TKA TPA DIY berkumpul dalam Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah, menguatkan koordinasi, sekaligus meneguhkan kembali semangat bersama dalam mengemban amanah pendidikan generasi Qurani. Rapat Pleno III merupakan bagian dari sarana koordinasi program kerja BADKO TKA TPA DIY periode 2025–2029, dengan agenda utama penyampaian program kerja serta laporan kegiatan BADKO wilayah dan daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus BADKO TKA TPA Wilayah DIY, para Ketua BADKO Kabupaten/Kota beserta jajaran, serta para Ketua Rayon se-Kabupaten Bantul. Pertemuan ini mempertemukan para penggerak TKA-TPA dari berbagai wilayah DIY dalam satu ruang kebersamaan, membawa cerita perjuangan dari daerah masing-masing, sekaligus merajut harapan untuk masa depan pendidikan Al-Qur'an yang semakin baik. Kegiatan dibuka dengan rangkaian acara yang diawali pembacaan Kalam Ilahi, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TPA. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan semangat. Susunan acara Pleno III juga mencakup sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA Bantul, sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, sosialisasi Komunitas Sedekah Subuh Jogja, dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia, penyampaian program kerja, laporan BADKO daerah, hingga pengambilan keputusan bersama. Pembinaan Dewan Pakar: Menguatkan Arah dan Semangat Perjuangan Salah satu bagian penting dalam Rapat Pleno III adalah kehadiran Ketua Dewan Pakar BADKO DIY, Bapak Muhsonef, S.HI., M.HI., yang memberikan pembinaan kepada seluruh peserta. Dalam susunan kegiatan, beliau dijadwalkan menyampaikan materi mengenai dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia. Pembinaan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan besar dalam membina anak-anak tidak dapat dilakukan dengan langkah yang sendiri-sendiri. TKA dan TPA bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca huruf-huruf hijaiyah. Lebih dari itu, TKA-TPA adalah ruang pertama tempat banyak anak mengenal Al-Qur'an, belajar adab, menemukan teladan, dan perlahan membangun kecintaan kepada agama. Di tangan para ustadz dan ustadzah, huruf-huruf Al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi ditanamkan menjadi cahaya. Karena itulah, setiap program, kegiatan, dan evaluasi yang dilakukan BADKO memiliki satu tujuan besar: menjaga agar cahaya pendidikan Al-Qur'an terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketua Umum Sampaikan Informasi Organisasi, FASI, dan KSSJ Dalam sambutannya, Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, Bapak Suprapto,S,Ag. menyampaikan berbagai informasi terkini berkaitan dengan perkembangan organisasi, persiapan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI), serta peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ). Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menyatukan pemahaman seluruh jajaran BADKO, mulai dari tingkat wilayah hingga daerah. Sebab sebuah organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan banyak program, tetapi juga membutuhkan kesamaan arah. FASI menjadi salah satu perhatian utama dalam pleno kali ini. Persiapan menuju pelaksanaan FASI XIII menjadi tema yang terus mengemuka dalam laporan dari berbagai daerah. Berbagai aspek dipersiapkan, mulai dari kesiapan peserta, pendanaan, koordinasi pelaksanaan, hingga berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Di sisi lain, hadirnya Komunitas Sedekah Subuh Jogja atau KSSJ menjadi warna baru dalam gerakan kebersamaan BADKO DIY. Sosialisasi KSSJ memang menjadi salah satu agenda resmi dalam Pleno III, yang disampaikan oleh tim KSSJ BADKO DIY. Gerakan tersebut membawa semangat bahwa kebaikan yang dilakukan secara bersama-sama akan melahirkan kekuatan yang lebih besar. Satu tangan mungkin hanya mampu membawa sedikit, tetapi banyak tangan yang saling menggenggam mampu mengangkat beban yang jauh lebih berat. Program Kerja Ketua I, II, dan III: Menyatukan Bidang dalam Satu Tujuan Setelah penyampaian informasi organisasi oleh Ketua Umum, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program kerja BADKO TKA TPA DIY. Ketua Umum didampingi oleh Ketua I, Ketua II, dan Ketua III menyampaikan arah program sesuai bidang masing-masing. Agenda penyampaian program kerja tersebut memang menjadi salah satu inti Rapat Pleno III sebagai sarana koordinasi organisasi. Setiap bidang memiliki tugas dan fokus masing-masing. Namun dalam satu kepengurusan, semua bidang sejatinya berjalan menuju tujuan yang sama: memperkuat pelayanan, pembinaan, dan perkembangan TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pleno menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa langkah tersebut tetap berada dalam satu irama. Sebab dalam perjalanan organisasi, sebuah program yang baik akan semakin kuat ketika dipahami, didukung, dan dikerjakan bersama. Gunungkidul Siapkan FASI dan Rencana SIM TPA Memasuki sesi laporan kegiatan BADKO daerah dan kota, masing-masing Ketua BADKO Kabupaten/Kota atau perwakilan menyampaikan perkembangan serta program yang telah dan akan dilaksanakan. BADKO Gunungkidul mengawali daerah yang menyampaikan laporan mengenai persiapan pelaksanaan FASI. Selain itu, Gunungkidul juga menyampaikan rencana peluncuran aplikasi SIM TPA (Sistem Informasi Manajemen Taman Pendidikan Al-Qur'an). Rencana tersebut menjadi salah satu langkah menarik dalam upaya menjawab kebutuhan pengelolaan TKA-TPA yang semakin berkembang. Aplikasi SIM TPA diharapkan dapat membantu memantau perkembangan unit-unit TKA-TPA secara lebih terstruktur serta mempermudah proses pendataan dan supervisi. Melalui sistem tersebut, berbagai informasi diharapkan dapat terpantau dengan lebih baik, mulai dari kehadiran santri, data ustadz dan ustadzah, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan administrasi, termasuk infaq atau pembayaran TPA. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak, digitalisasi dapat menjadi jembatan untuk memperkuat pelayanan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan Al-Qur'an. Teknologi diharapkan bukan menggantikan peran manusia, melainkan membantu para pengelola agar memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan hal yang paling penting: mendampingi anak-anak. Sleman, Kulon Progo, Kota Yogyakarta, dan Bantul Mantapkan Kesiapan Laporan kemudian berlanjut dari BADKO Sleman, BADKO Kulon Progo, BADKO Kota Yogyakarta, dan terakhir BADKO Bantul. Secara umum, laporan dari masing-masing daerah memperlihatkan semangat yang sama, yakni memantapkan kesiapan dalam menyongsong pelaksanaan FASI XIII. Berbagai persiapan terus dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah. Mulai dari kesiapan pendanaan, persiapan peserta, koordinasi panitia, hingga pelaksanaan kegiatan di tingkat daerah. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Namun perbedaan itulah yang kemudian dipertemukan dalam sebuah pleno. Daerah yang telah menemukan jalan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Daerah yang sedang menghadapi tantangan dapat memperoleh dukungan dari saudara seperjuangan. Di situlah makna koordinasi menemukan bentuknya. Bersama Menjaga Api Perjuangan Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY bukan sekadar pertemuan organisasi yang diisi dengan laporan dan program kerja. Lebih dari itu, pertemuan di Mangunan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun generasi Qurani adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kebersamaan. Dari Gunungkidul hingga Kulon Progo, dari Sleman hingga Kota Yogyakarta dan Bantul, setiap daerah membawa cerita perjuangannya sendiri. Ada unit-unit TKA-TPA yang tumbuh dengan kuat, ada pula yang masih membutuhkan pendampingan. Ada program yang telah berjalan dengan baik, ada pula gagasan yang masih menunggu untuk diwujudkan. Namun semuanya bertemu dalam satu keyakinan: pendidikan Al-Qur'an harus terus hidup dan berkembang. Ketika rapat memasuki sesi tanggapan dan pengambilan keputusan oleh Ketua Umum BADKO DIY, kemudian ditutup dengan ramah tamah, pertemuan itu meninggalkan satu pesan sederhana namun mendalam. Bahwa dalam perjuangan ini, tidak ada wilayah yang benar-benar berjalan sendiri. Yang kuat diharapkan menguatkan. Yang telah menyala diharapkan mampu menyalakan. Dan yang sedang redup, jangan sampai dibiarkan kehilangan cahaya. Dari sejuknya Mangunan, langkah-langkah itu kembali pulang ke daerah masing-masing. Membawa catatan, membawa program, membawa tanggung jawab. Namun lebih dari semuanya, mereka membawa kembali semangat kebersamaan. Sebab generasi Qurani tidak akan lahir hanya dari satu orang, satu lembaga, atau satu daerah. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang saling menguatkan. Dan selama tangan-tangan itu tetap bergandengan, insyaallah cahaya TKA-TPA akan terus menyala untuk anak-anak Indonesia.
Baca Serunya!
189
Akreditasi TPA Rayon Sedayu Digelar, Tiga Unit Berani Membuka Diri untuk Terus Bertumbuh
BANTUL _Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana pagi di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, Sedayu, Bantul, terasa berbeda. Di tempat yang menjadi titik kumpul pembinaan itu, para pengelola dan ustadz-ustadzah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) berkumpul membawa satu semangat yang sama: memastikan bahwa lembaga tempat anak-anak belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an terus tumbuh, bertahan, dan dipercaya masyarakat. Hari itu menjadi salah satu catatan penting bagi perjalanan pembinaan TKA-TPA di Rayon Sedayu. Akreditasi dilaksanakan secara serentak pada tiga unit, yakni TPA Al Jihad, Surobayan; TPA Al Firdaus, Sumberan, Argodadi; serta TPA Hamas Baiturrohman, Jambon, Argosari. Akreditasi tersebut bukan sekadar kegiatan administratif. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana sebuah lembaga TPA berjalan, bagaimana para ustadz-ustadzah mendampingi santri, serta sejauh mana lembaga tersebut mampu memberikan pelayanan pendidikan Al-Qur’an yang baik kepada masyarakat. Wakil Ketua Rayon Sedayu, Ustadz Muslim, menyampaikan bahwa pelaksanaan akreditasi kali ini merupakan momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya akreditasi secara masal dilaksanakan di Rayon Sedayu. Tiga unit mengikuti proses tersebut, sementara beberapa unit lainnya masih belum berani untuk mengajukan akreditasi. “Ini pertama kali di Rayon Sedayu dilaksanakan akreditasi masal. Total ada tiga unit, beberapa unit masih belum berani diakreditasi,” ujarnya. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak selalu mudah. Ada unit yang sudah siap, ada pula yang masih membutuhkan waktu untuk membenahi berbagai hal. Namun, ketakutan terhadap akreditasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Akreditasi bukanlah ruang untuk mencari kesalahan, melainkan ruang untuk bercermin. Di sana, sebuah TPA dapat melihat apa yang sudah baik, apa yang masih perlu diperbaiki, dan apa yang harus dipersiapkan agar perjalanan lembaganya menjadi semakin kuat. Ketua Badkoda Bantul, Ustadz Arif Nuryanto, mengingatkan bahwa akreditasi di Rayon Sedayu sebenarnya telah dilaksanakan sejak sekitar sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 2016. Namun, belum semua unit berani atau bersedia mengikuti proses tersebut. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada tiga unit yang pada kesempatan ini berani membuka diri untuk diakreditasi. “Sampai hari ini sudah ada empat unit yang sudah diakreditasi di Rayon Sedayu,” jelasnya. Ia berharap semangat tersebut terus berkembang. Terlebih, Rayon Sedayu juga memiliki catatan prestasi dalam pembinaan santri. Pada FASI 2024, Rayon Sedayu berhasil mengirimkan lima santri untuk maju ke tingkat nasional. Harapannya, pada tahun ini jumlah santri yang mampu melangkah lebih jauh dapat bertambah. Di tengah kegiatan tersebut, Tim Asesor, Ustadz Prayitna, memberikan pembinaan yang tidak hanya berbicara tentang administrasi, tetapi juga tentang ketulusan dalam mengelola TPA. Menurutnya, mengurus TPA membutuhkan keikhlasan. Ketika menghadapi persoalan, keluhan sebaiknya pertama-tama disampaikan kepada Allah SWT. “Mengurusi TPA itu harus dengan ikhlas. Kalau mau sambat, sambatlah sama Allah SWT. Pasti dikasih jalan keluar, bukan sambat dengan sesama manusia,” pesannya. Ia menjelaskan bahwa TPA yang baik memiliki kriteria yang dapat dilihat dan diukur. Melalui akreditasi, setidaknya terdapat jaminan bahwa sebuah TPA masih ada dan eksis hingga saat ini. Akreditasi juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Bukan hanya lembaganya yang perlu terus dibenahi. Para ustadz dan ustadzah juga dituntut untuk meningkatkan kualitas diri. Sebab, guru yang baik akan menjadi salah satu jalan lahirnya santri yang baik. Salah satu bentuk pembuktian kompetensi tersebut adalah melalui ujian Syahadah. Dukungan terhadap gerakan pendidikan Al-Qur’an juga disampaikan Panewu Sedayu, Tri Budianto, S.STP. Pemerintah, menurutnya, mendukung berbagai upaya dalam membentuk generasi Qur’ani melalui gerakan TKA-TPA. Di tengah perubahan zaman, pendidikan Al-Qur’an menjadi semakin penting. Kelengahan dalam mendidik generasi masa depan dapat membawa persoalan yang lebih besar. “Sedini mungkin anak-anak dikenalkan dengan Al-Qur’an,” pesannya. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab, masa depan sebuah masyarakat pada akhirnya akan berada di tangan anak-anak yang hari ini sedang belajar mengeja huruf hijaiyah, menghafal surat-surat pendek, dan mengenal nilai-nilai Al-Qur’an. Hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Argosari, Bapak Sudarno, serta Kamituwo Argorejo, Bapak Surame. Rangkaian kegiatan kemudian diiringi dengan doa yang dipimpin oleh KUA Sedayu, Bapak Syahril Sidiq, S.Pd., MA. Dari Sedayu, sebuah pesan penting kembali mengemuka: jangan takut pada akreditasi. TPA tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berani dinilai. Justru melalui proses itulah lembaga dapat belajar menjadi lebih baik. Jangan takut membuka pintu, sebab di balik pintu itu mungkin ada banyak hal yang selama ini belum terlihat. Akreditasi bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah sebuah jeda untuk berhenti sejenak, bercermin, kemudian melangkah kembali dengan lebih yakin. Untuk seluruh unit TPA yang belum mengikuti akreditasi, tidak perlu merasa kecil atau takut. Mulailah dari apa yang ada, benahi sedikit demi sedikit, lengkapi data, kuatkan pengelolaan, dan teruslah bergerak. Sebab sebuah TPA tidak dibangun hanya dengan gedung dan administrasi. Ia dibangun dengan keikhlasan para ustadz, doa orang tua, tawa para santri, dan harapan panjang agar Al-Qur’an tetap hidup di tengah masyarakat. Dan setiap langkah kecil untuk menjaga nyala pendidikan Al-Qur’an, insyaallah, adalah langkah yang sedang menyiapkan masa depan generasi Qur’ani. Bagi unit TPA yang belum mengisi data pendaftaran unit di BADKO, diharapkan segera melakukan pengisian agar lembaga dapat terdata dan terdaftar dengan baik. Semoga dari Rayon Sedayu lahir semakin banyak lembaga TPA yang kuat, tertib, terpercaya, dan terus hidup membersamai masyarakat. Semoga semakin banyak santri berprestasi yang mampu membawa nama baik Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga ke tingkat nasional. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca anak-anak di ruang-ruang kecil TPA menjadi cahaya yang menerangi perjalanan mereka, keluarga mereka, dan masyarakat di sekitarnya. Aamiin.
Baca Serunya!Galeri Foto Ceria
Video Keseruan Kita
Tanya Jawab Ceria (FAQ)
Informasi umum & jawaban pertanyaan seputar Badko TKA-TPA DIY