Kabar Santri Terbaru
101
BADKO DIY Bangun Sinergi | SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terpilih menjadi tempat pelaksanaan FASI
Yogyakarta, 1 September 2026 — Langkah persiapan menuju pelaksanaan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai dimatangkan. Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan melalui audiensi dan silaturahmi Badan Koordinasi (BADKO) TKA-TPA/TKQ Wilayah DIY ke SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Dalam audiensi tersebut, BADKO Wilayah DIY menyampaikan rencana pelaksanaan FASI XIII Provinsi DIY yang dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 dengan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan. Rombongan BADKO Wilayah DIY hadir bersama jajaran pengurus dan panitia, di antaranya Ketua Umum, sekretaris, bendahara, ketua panitia, bidang perlengkapan, serta sejumlah unsur kepanitiaan lainnya. Rombongan diterima langsung oleh Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta beserta Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana serta jajaran terkait. Ketua Umum BADKO Wilayah DIY, Bapak Suprapto, S.Ag., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan serta penerimaan pihak SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terhadap kunjungan tersebut. Ia menjelaskan, BADKO Wilayah DIY merupakan lembaga pembina yang memiliki peran dalam membina unit-unit pendidikan Al-Qur'an, khususnya TKA, TPA, dan TKQ yang tersebar di wilayah DIY. Saat ini, terdapat sekitar 4.000 unit yang menjadi bagian dari pembinaan tersebut. “BADKO hadir untuk membina dan menguatkan lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur'an yang ada di DIY. FASI menjadi salah satu ruang untuk memberikan apresiasi sekaligus mengembangkan potensi anak-anak santri,” demikian substansi yang disampaikan dalam audiensi tersebut. Dalam kesempatan itu, BADKO Wilayah DIY juga menyampaikan permohonan izin untuk menggunakan tempat beserta fasilitas yang tersedia di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan FASI XIII tingkat provinsi. FASI sendiri merupakan ajang kompetisi anak-anak santri yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat rayon, daerah, provinsi, hingga tingkat nasional. Ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang untuk menumbuhkan keberanian, kreativitas, kecintaan terhadap Al-Qur'an, serta semangat berprestasi di kalangan generasi muda. Menanggapi rencana tersebut, Bapak Kustejo,S.Pd.I, M.Pd. Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan BADKO Wilayah DIY. Ia mengaku senang sekolah yang dipimpinnya mendapat kunjungan sekaligus kepercayaan untuk menjadi bagian dari pelaksanaan FASI XIII DIY. Menurutnya, kunjungan BADKO DIY menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta dikenal dan dipercaya oleh berbagai pihak. Pihak sekolah pun memberikan izin penggunaan tempat dan fasilitas SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta untuk mendukung pelaksanaan FASI XIII DIY. Terkait persiapan teknis, pihak sekolah membuka ruang koordinasi bagi panitia untuk melakukan penataan lokasi, ruang, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Penataan tersebut dapat dilaksanakan pada Sabtu sebelum pelaksanaan kegiatan dengan dukungan dari bagian sarana dan prasarana serta petugas kebersihan. Dari sisi keamanan, pihak sekolah juga menyatakan kesiapan untuk membantu melalui petugas keamanan atau satpam, termasuk dalam pengaturan parkir selama kegiatan berlangsung. Kepala sekolah juga menekankan pentingnya menjaga fasilitas sekolah. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, fasilitas yang digunakan diharapkan dapat dikembalikan seperti semula. Apabila selama persiapan maupun pelaksanaan terdapat kebutuhan teknis, panitia dapat berkoordinasi dengan bagian sarana dan prasarana sekolah. Menariknya, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta juga memiliki ruang baru yang kedap suara di lantai tiga. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu ruang pendukung untuk pelaksanaan cabang nasyid dalam rangkaian FASI. Audiensi tersebut menjadi awal dari sebuah ikhtiar bersama. BADKO DIY membawa semangat pembinaan generasi Qur'ani, sementara SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta membuka pintu dengan kesiapan fasilitas dan dukungan. Di balik setiap perlombaan, ada harapan yang jauh lebih besar: lahirnya anak-anak yang tidak hanya berani tampil dan meraih prestasi, tetapi juga tumbuh dengan kecintaan kepada Al-Qur'an, akhlak mulia, dan semangat menjadi generasi penerus yang membawa kebaikan. Dengan sinergi antara BADKO Wilayah DIY, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, para pengelola TPA, panitia, orang tua, serta seluruh pihak yang terlibat, FASI XIII Provinsi DIY pada 8 November 2026 diharapkan dapat menjadi perhelatan yang sukses, tertib, semarak, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi Qur'ani di Yogyakarta. Sebab, ketika anak-anak belajar mencintai Al-Qur'an sejak dini, sesungguhnya di sanalah masa depan sedang ditanam—perlahan, penuh kesabaran, dan dengan doa yang panjang.
Baca Serunya!
109
Dari Seribu Batu Menuju Seribu Kebaikan: Komunitas Sedekah Subuh Jogja Resmi Diluncurkan
Mangunan, Bantul, Ahad, 30 Agustus 2026. Ada pagi yang tidak hanya menghadirkan matahari, tetapi juga menyalakan sebuah harapan. Di antara rimbun pepohonan dan sejuknya udara Mangunan, Dlingo, Bantul, sebuah gerakan kebaikan resmi dimulai. Dalam rangkaian Pleno Badko Wilayah DIY yang digelar di Seribu Batu, Mangunan, Dlingo, Bantul, pada kesempatan tersebut Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) resmi diluncurkan sebagai ikhtiar bersama untuk menumbuhkan kebiasaan berbuat baik, dimulai dari waktu yang paling hening: subuh. Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja dilakukan oleh Bapak Suprapto, S.Ag., selaku Ketua Umum Badko TKA-TPA DIY, bersama Bapak Muhshonef, S.H.I., M.H.I., selaku Ketua Dewan Pakar Badko DIY. Keduanya hadir sebagai bagian dari ikhtiar untuk meneguhkan bahwa gerakan dakwah tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang, ia cukup dimulai dari sebuah niat yang sederhana, dari seribu rupiah yang disisihkan, dari satu kebaikan yang dilakukan setiap pagi. Peluncuran tersebut turut didampingi Bapak Muchlis Umaidi selaku Ketua UPZ Badko TKA-TPA DIY. Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pula penyerahan Surat Keputusan (SK) Komunitas dari Ketua UPZ kepada Yuliana Azizah selaku Koordinator Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Penyerahan SK tersebut menjadi penanda bahwa gerakan ini bukan sekadar gagasan yang berhenti di atas kertas. Ia adalah langkah awal sebuah perjalanan—perjalanan untuk mengajak sebanyak mungkin orang berjalan bersama dalam kebaikan. Bukan Sekadar Sedekah, Tetapi Membangun Kebiasaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja hadir dengan sebuah filosofi sederhana namun dalam. Gerakan ini tidak semata-mata mengajak masyarakat untuk bersedekah. Lebih jauh, KSSJ ingin membangun kebiasaan untuk berbuat baik. Sebab satu kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dijaga akan membentuk karakter. Dan karakter baik, insyaAllah, akan menjadi salah satu jalan menuju ridha dan surga-Nya. Karena itulah KSSJ membawa semangat: “Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan.” Subuh dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah awal hari, saat dunia belum sepenuhnya ramai, ketika hati memiliki ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Sebelum subuh, seseorang menyiapkan niat. Saat subuh, hati diingatkan. Setelah subuh, kebaikan diwujudkan. Tidak harus besar. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu sempurna. Bahkan Rp1.000 setiap subuh, jika dilakukan dengan istiqamah dan dilakukan bersama-sama, dapat tumbuh menjadi gerakan yang besar. Sebagaimana filosofi yang dibawa KSSJ: kecil dan konsisten mengalahkan besar tetapi hanya sesekali. Dari Rp1.000 Menjadi Gerakan Kebaikan Bayangkan jika satu orang bersedekah Rp1.000. Lalu seratus orang melakukan hal yang sama. Kemudian seribu orang. Seribu rupiah yang tampak kecil di tangan seseorang dapat berubah menjadi Rp100.000 ketika dilakukan seratus orang, dan menjadi Rp1.000.000 ketika dilakukan seribu orang setiap hari. Di sanalah kekuatan komunitas menemukan maknanya. Bukan tentang seberapa besar yang diberikan seseorang, melainkan tentang berapa banyak hati yang bersedia bergerak bersama. KSSJ ingin membangun sebuah ekosistem kebaikan. Dari satu orang menuju keluarga. Dari keluarga menuju TKA-TPA. Dari TKA-TPA menuju rayon. Dari rayon menuju daerah. Hingga akhirnya, tumbuh menjadi kebiasaan kebaikan bersama di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Lima Pilar yang Menjaga Denyut Kebaikan Untuk menjaga agar gerakan ini tidak berhenti sebagai slogan, KSSJ membangun aktivitas harian yang ringan, konsisten, dan terukur. Ada Misi Harian, sebagai pemantik untuk melakukan satu kebaikan kecil. Ada Quotes Subuh, sebagai pengingat hati dan ajakan bersedekah setiap fajar. Ada Sedekah Subuh, dengan pembiasaan berbagi Rp1.000 yang ringan namun diupayakan istiqamah. Ada Laporan dan Dokumentasi, sebagai bagian dari menjaga amanah dan transparansi. Dan ada Tumbuh Bersama, agar setiap anggota menyadari bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. Sebab KSSJ tidak ingin anggotanya hanya menjadi orang yang mentransfer sejumlah uang. Gerakan ini ingin mengajak setiap orang mengalami sendiri proses berbuat baik. Hari ini mungkin tersenyum kepada seseorang. Besok mendoakan orang lain. Lusa berbagi makanan. Pada hari lain membaca Al-Qur'an, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, atau melakukan kebaikan sederhana lainnya. Sebab kebaikan yang terus dilakukan, perlahan akan menjadi bagian dari diri. Amanah yang Kembali kepada Umat Dana yang dihimpun melalui Komunitas Sedekah Subuh Jogja akan disalurkan melalui UPZ Badko TKA-TPA DIY untuk berbagai program kemanfaatan. Di antaranya untuk mendukung pendidikan Al-Qur'an, bantuan unit TKA-TPA di DIY, beasiswa santri, santunan yatim dan dhuafa, pelatihan ustadz-ustadzah, program kemanusiaan dan pemberdayaan, program dakwah, serta berbagai program kebaikan lainnya. KSSJ juga menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai bagian penting dari gerakan. Laporan disampaikan secara berkala melalui grup WhatsApp sebagai bentuk pertanggungjawaban dan amanah kepada para anggota. Karena setiap rupiah yang dititipkan umat bukan sekadar angka. Di dalamnya ada kepercayaan. Ada doa. Ada harapan. Dan ada amanah yang harus dijaga. Saatnya Bergabung dan Menyebarkan Kebaikan Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja menjadi awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang. Karena gerakan ini tidak membutuhkan penonton. Ia membutuhkan penggerak. Para ustadz dan ustadzah, pengurus Badko, pengelola TKA-TPA, santri, wali santri, keluarga, alumni, komunitas, dan siapa pun yang ingin menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan—semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian. KSSJ mengajak seluruh masyarakat untuk bergabung dalam Komunitas Sedekah Subuh Jogja, kemudian mengajak orang-orang di lingkungan masing-masing untuk ikut bergerak. Mulai dari keluarga. Mulai dari TKA-TPA. Mulai dari teman. Mulai dari komunitas. Mulai dari daerah masing-masing. Dan yang paling penting: mulai dari subuh ini. Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Karena boleh jadi, seribu rupiah yang kita sisihkan setiap subuh bukanlah sesuatu yang besar bagi kita. Namun ketika seribu orang melakukan hal yang sama, ia dapat menjelma menjadi kekuatan yang menghidupkan banyak harapan. Scan barcode KSSJ, bergabunglah dalam komunitas, dan ajak orang lain untuk ikut berjalan. klik disini untuk bergabung dengan komunitas SCAN • JOIN • MULAI SUBUH INI Mulai dari Subuh Sebuah Doa dari Mangunan Dari Seribu Batu, Mangunan, sebuah langkah kecil telah dimulai. Mungkin hari ini ia hanya berupa sebuah komunitas. Mungkin baru berupa beberapa nama yang bergabung. Mungkin baru berupa seribu rupiah yang berpindah tangan. Namun setiap gerakan besar selalu memiliki awal yang sederhana. Semoga Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para pemberi, tetapi menjadi ruang tumbuhnya manusia-manusia yang mencintai kebaikan. Semoga dari satu subuh lahir subuh-subuh berikutnya yang lebih berarti. Dari satu rupiah lahir kebermanfaatan. Dari satu keluarga lahir keluarga-keluarga yang peduli. Dari satu TKA-TPA lahir gerakan yang menjalar ke seluruh penjuru Yogyakarta. Dan semoga setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, setiap rupiah yang dititipkan dengan amanah, setiap ajakan yang disampaikan dengan ketulusan, menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi jalan menuju keberkahan-Nya. Karena sedekah bukanlah tujuan akhir. Sedekah adalah salah satu cara melatih diri untuk mencintai kebaikan. Mari berjalan bersama. Mari tumbuh bersama. Mari pulang membawa kebaikan. Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan. Start with Giving, End with Blessing. Komunitas Sedekah Subuh Jogja — KSSJ 2026
Baca Serunya!
58
Dari Mangunan, Menyatukan Langkah untuk Generasi Qurani: Pleno III BADKO TKA TPA DIY Menguatkan Sinergi Menjelang FASI XIII
Bantul — Sejuknya udara Mangunan pada Ahad, 30 Agustus 2026, seolah menjadi saksi bertemunya hati dan langkah para pejuang pendidikan Al-Qur'an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Rumah Kaca, kompleks Seribu Batu Songgo Langit, Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, keluarga besar BADKO TKA TPA DIY berkumpul dalam Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah, menguatkan koordinasi, sekaligus meneguhkan kembali semangat bersama dalam mengemban amanah pendidikan generasi Qurani. Rapat Pleno III merupakan bagian dari sarana koordinasi program kerja BADKO TKA TPA DIY periode 2025–2029, dengan agenda utama penyampaian program kerja serta laporan kegiatan BADKO wilayah dan daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus BADKO TKA TPA Wilayah DIY, para Ketua BADKO Kabupaten/Kota beserta jajaran, serta para Ketua Rayon se-Kabupaten Bantul. Pertemuan ini mempertemukan para penggerak TKA-TPA dari berbagai wilayah DIY dalam satu ruang kebersamaan, membawa cerita perjuangan dari daerah masing-masing, sekaligus merajut harapan untuk masa depan pendidikan Al-Qur'an yang semakin baik. Kegiatan dibuka dengan rangkaian acara yang diawali pembacaan Kalam Ilahi, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TPA. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan semangat. Susunan acara Pleno III juga mencakup sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA Bantul, sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, sosialisasi Komunitas Sedekah Subuh Jogja, dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia, penyampaian program kerja, laporan BADKO daerah, hingga pengambilan keputusan bersama. Pembinaan Dewan Pakar: Menguatkan Arah dan Semangat Perjuangan Salah satu bagian penting dalam Rapat Pleno III adalah kehadiran Ketua Dewan Pakar BADKO DIY, Bapak Muhsonef, S.HI., M.HI., yang memberikan pembinaan kepada seluruh peserta. Dalam susunan kegiatan, beliau dijadwalkan menyampaikan materi mengenai dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia. Pembinaan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan besar dalam membina anak-anak tidak dapat dilakukan dengan langkah yang sendiri-sendiri. TKA dan TPA bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca huruf-huruf hijaiyah. Lebih dari itu, TKA-TPA adalah ruang pertama tempat banyak anak mengenal Al-Qur'an, belajar adab, menemukan teladan, dan perlahan membangun kecintaan kepada agama. Di tangan para ustadz dan ustadzah, huruf-huruf Al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi ditanamkan menjadi cahaya. Karena itulah, setiap program, kegiatan, dan evaluasi yang dilakukan BADKO memiliki satu tujuan besar: menjaga agar cahaya pendidikan Al-Qur'an terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketua Umum Sampaikan Informasi Organisasi, FASI, dan KSSJ Dalam sambutannya, Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, Bapak Suprapto,S,Ag. menyampaikan berbagai informasi terkini berkaitan dengan perkembangan organisasi, persiapan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI), serta peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ). Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menyatukan pemahaman seluruh jajaran BADKO, mulai dari tingkat wilayah hingga daerah. Sebab sebuah organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan banyak program, tetapi juga membutuhkan kesamaan arah. FASI menjadi salah satu perhatian utama dalam pleno kali ini. Persiapan menuju pelaksanaan FASI XIII menjadi tema yang terus mengemuka dalam laporan dari berbagai daerah. Berbagai aspek dipersiapkan, mulai dari kesiapan peserta, pendanaan, koordinasi pelaksanaan, hingga berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Di sisi lain, hadirnya Komunitas Sedekah Subuh Jogja atau KSSJ menjadi warna baru dalam gerakan kebersamaan BADKO DIY. Sosialisasi KSSJ memang menjadi salah satu agenda resmi dalam Pleno III, yang disampaikan oleh tim KSSJ BADKO DIY. Gerakan tersebut membawa semangat bahwa kebaikan yang dilakukan secara bersama-sama akan melahirkan kekuatan yang lebih besar. Satu tangan mungkin hanya mampu membawa sedikit, tetapi banyak tangan yang saling menggenggam mampu mengangkat beban yang jauh lebih berat. Program Kerja Ketua I, II, dan III: Menyatukan Bidang dalam Satu Tujuan Setelah penyampaian informasi organisasi oleh Ketua Umum, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program kerja BADKO TKA TPA DIY. Ketua Umum didampingi oleh Ketua I, Ketua II, dan Ketua III menyampaikan arah program sesuai bidang masing-masing. Agenda penyampaian program kerja tersebut memang menjadi salah satu inti Rapat Pleno III sebagai sarana koordinasi organisasi. Setiap bidang memiliki tugas dan fokus masing-masing. Namun dalam satu kepengurusan, semua bidang sejatinya berjalan menuju tujuan yang sama: memperkuat pelayanan, pembinaan, dan perkembangan TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pleno menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa langkah tersebut tetap berada dalam satu irama. Sebab dalam perjalanan organisasi, sebuah program yang baik akan semakin kuat ketika dipahami, didukung, dan dikerjakan bersama. Gunungkidul Siapkan FASI dan Rencana SIM TPA Memasuki sesi laporan kegiatan BADKO daerah dan kota, masing-masing Ketua BADKO Kabupaten/Kota atau perwakilan menyampaikan perkembangan serta program yang telah dan akan dilaksanakan. BADKO Gunungkidul mengawali daerah yang menyampaikan laporan mengenai persiapan pelaksanaan FASI. Selain itu, Gunungkidul juga menyampaikan rencana peluncuran aplikasi SIM TPA (Sistem Informasi Manajemen Taman Pendidikan Al-Qur'an). Rencana tersebut menjadi salah satu langkah menarik dalam upaya menjawab kebutuhan pengelolaan TKA-TPA yang semakin berkembang. Aplikasi SIM TPA diharapkan dapat membantu memantau perkembangan unit-unit TKA-TPA secara lebih terstruktur serta mempermudah proses pendataan dan supervisi. Melalui sistem tersebut, berbagai informasi diharapkan dapat terpantau dengan lebih baik, mulai dari kehadiran santri, data ustadz dan ustadzah, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan administrasi, termasuk infaq atau pembayaran TPA. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak, digitalisasi dapat menjadi jembatan untuk memperkuat pelayanan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan Al-Qur'an. Teknologi diharapkan bukan menggantikan peran manusia, melainkan membantu para pengelola agar memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan hal yang paling penting: mendampingi anak-anak. Sleman, Kulon Progo, Kota Yogyakarta, dan Bantul Mantapkan Kesiapan Laporan kemudian berlanjut dari BADKO Sleman, BADKO Kulon Progo, BADKO Kota Yogyakarta, dan terakhir BADKO Bantul. Secara umum, laporan dari masing-masing daerah memperlihatkan semangat yang sama, yakni memantapkan kesiapan dalam menyongsong pelaksanaan FASI XIII. Berbagai persiapan terus dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah. Mulai dari kesiapan pendanaan, persiapan peserta, koordinasi panitia, hingga pelaksanaan kegiatan di tingkat daerah. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Namun perbedaan itulah yang kemudian dipertemukan dalam sebuah pleno. Daerah yang telah menemukan jalan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Daerah yang sedang menghadapi tantangan dapat memperoleh dukungan dari saudara seperjuangan. Di situlah makna koordinasi menemukan bentuknya. Bersama Menjaga Api Perjuangan Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY bukan sekadar pertemuan organisasi yang diisi dengan laporan dan program kerja. Lebih dari itu, pertemuan di Mangunan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun generasi Qurani adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kebersamaan. Dari Gunungkidul hingga Kulon Progo, dari Sleman hingga Kota Yogyakarta dan Bantul, setiap daerah membawa cerita perjuangannya sendiri. Ada unit-unit TKA-TPA yang tumbuh dengan kuat, ada pula yang masih membutuhkan pendampingan. Ada program yang telah berjalan dengan baik, ada pula gagasan yang masih menunggu untuk diwujudkan. Namun semuanya bertemu dalam satu keyakinan: pendidikan Al-Qur'an harus terus hidup dan berkembang. Ketika rapat memasuki sesi tanggapan dan pengambilan keputusan oleh Ketua Umum BADKO DIY, kemudian ditutup dengan ramah tamah, pertemuan itu meninggalkan satu pesan sederhana namun mendalam. Bahwa dalam perjuangan ini, tidak ada wilayah yang benar-benar berjalan sendiri. Yang kuat diharapkan menguatkan. Yang telah menyala diharapkan mampu menyalakan. Dan yang sedang redup, jangan sampai dibiarkan kehilangan cahaya. Dari sejuknya Mangunan, langkah-langkah itu kembali pulang ke daerah masing-masing. Membawa catatan, membawa program, membawa tanggung jawab. Namun lebih dari semuanya, mereka membawa kembali semangat kebersamaan. Sebab generasi Qurani tidak akan lahir hanya dari satu orang, satu lembaga, atau satu daerah. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang saling menguatkan. Dan selama tangan-tangan itu tetap bergandengan, insyaallah cahaya TKA-TPA akan terus menyala untuk anak-anak Indonesia.
Baca Serunya!
189
Akreditasi TPA Rayon Sedayu Digelar, Tiga Unit Berani Membuka Diri untuk Terus Bertumbuh
BANTUL _Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana pagi di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, Sedayu, Bantul, terasa berbeda. Di tempat yang menjadi titik kumpul pembinaan itu, para pengelola dan ustadz-ustadzah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) berkumpul membawa satu semangat yang sama: memastikan bahwa lembaga tempat anak-anak belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an terus tumbuh, bertahan, dan dipercaya masyarakat. Hari itu menjadi salah satu catatan penting bagi perjalanan pembinaan TKA-TPA di Rayon Sedayu. Akreditasi dilaksanakan secara serentak pada tiga unit, yakni TPA Al Jihad, Surobayan; TPA Al Firdaus, Sumberan, Argodadi; serta TPA Hamas Baiturrohman, Jambon, Argosari. Akreditasi tersebut bukan sekadar kegiatan administratif. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana sebuah lembaga TPA berjalan, bagaimana para ustadz-ustadzah mendampingi santri, serta sejauh mana lembaga tersebut mampu memberikan pelayanan pendidikan Al-Qur’an yang baik kepada masyarakat. Wakil Ketua Rayon Sedayu, Ustadz Muslim, menyampaikan bahwa pelaksanaan akreditasi kali ini merupakan momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya akreditasi secara masal dilaksanakan di Rayon Sedayu. Tiga unit mengikuti proses tersebut, sementara beberapa unit lainnya masih belum berani untuk mengajukan akreditasi. “Ini pertama kali di Rayon Sedayu dilaksanakan akreditasi masal. Total ada tiga unit, beberapa unit masih belum berani diakreditasi,” ujarnya. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak selalu mudah. Ada unit yang sudah siap, ada pula yang masih membutuhkan waktu untuk membenahi berbagai hal. Namun, ketakutan terhadap akreditasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Akreditasi bukanlah ruang untuk mencari kesalahan, melainkan ruang untuk bercermin. Di sana, sebuah TPA dapat melihat apa yang sudah baik, apa yang masih perlu diperbaiki, dan apa yang harus dipersiapkan agar perjalanan lembaganya menjadi semakin kuat. Ketua Badkoda Bantul, Ustadz Arif Nuryanto, mengingatkan bahwa akreditasi di Rayon Sedayu sebenarnya telah dilaksanakan sejak sekitar sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 2016. Namun, belum semua unit berani atau bersedia mengikuti proses tersebut. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada tiga unit yang pada kesempatan ini berani membuka diri untuk diakreditasi. “Sampai hari ini sudah ada empat unit yang sudah diakreditasi di Rayon Sedayu,” jelasnya. Ia berharap semangat tersebut terus berkembang. Terlebih, Rayon Sedayu juga memiliki catatan prestasi dalam pembinaan santri. Pada FASI 2024, Rayon Sedayu berhasil mengirimkan lima santri untuk maju ke tingkat nasional. Harapannya, pada tahun ini jumlah santri yang mampu melangkah lebih jauh dapat bertambah. Di tengah kegiatan tersebut, Tim Asesor, Ustadz Prayitna, memberikan pembinaan yang tidak hanya berbicara tentang administrasi, tetapi juga tentang ketulusan dalam mengelola TPA. Menurutnya, mengurus TPA membutuhkan keikhlasan. Ketika menghadapi persoalan, keluhan sebaiknya pertama-tama disampaikan kepada Allah SWT. “Mengurusi TPA itu harus dengan ikhlas. Kalau mau sambat, sambatlah sama Allah SWT. Pasti dikasih jalan keluar, bukan sambat dengan sesama manusia,” pesannya. Ia menjelaskan bahwa TPA yang baik memiliki kriteria yang dapat dilihat dan diukur. Melalui akreditasi, setidaknya terdapat jaminan bahwa sebuah TPA masih ada dan eksis hingga saat ini. Akreditasi juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Bukan hanya lembaganya yang perlu terus dibenahi. Para ustadz dan ustadzah juga dituntut untuk meningkatkan kualitas diri. Sebab, guru yang baik akan menjadi salah satu jalan lahirnya santri yang baik. Salah satu bentuk pembuktian kompetensi tersebut adalah melalui ujian Syahadah. Dukungan terhadap gerakan pendidikan Al-Qur’an juga disampaikan Panewu Sedayu, Tri Budianto, S.STP. Pemerintah, menurutnya, mendukung berbagai upaya dalam membentuk generasi Qur’ani melalui gerakan TKA-TPA. Di tengah perubahan zaman, pendidikan Al-Qur’an menjadi semakin penting. Kelengahan dalam mendidik generasi masa depan dapat membawa persoalan yang lebih besar. “Sedini mungkin anak-anak dikenalkan dengan Al-Qur’an,” pesannya. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab, masa depan sebuah masyarakat pada akhirnya akan berada di tangan anak-anak yang hari ini sedang belajar mengeja huruf hijaiyah, menghafal surat-surat pendek, dan mengenal nilai-nilai Al-Qur’an. Hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Argosari, Bapak Sudarno, serta Kamituwo Argorejo, Bapak Surame. Rangkaian kegiatan kemudian diiringi dengan doa yang dipimpin oleh KUA Sedayu, Bapak Syahril Sidiq, S.Pd., MA. Dari Sedayu, sebuah pesan penting kembali mengemuka: jangan takut pada akreditasi. TPA tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berani dinilai. Justru melalui proses itulah lembaga dapat belajar menjadi lebih baik. Jangan takut membuka pintu, sebab di balik pintu itu mungkin ada banyak hal yang selama ini belum terlihat. Akreditasi bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah sebuah jeda untuk berhenti sejenak, bercermin, kemudian melangkah kembali dengan lebih yakin. Untuk seluruh unit TPA yang belum mengikuti akreditasi, tidak perlu merasa kecil atau takut. Mulailah dari apa yang ada, benahi sedikit demi sedikit, lengkapi data, kuatkan pengelolaan, dan teruslah bergerak. Sebab sebuah TPA tidak dibangun hanya dengan gedung dan administrasi. Ia dibangun dengan keikhlasan para ustadz, doa orang tua, tawa para santri, dan harapan panjang agar Al-Qur’an tetap hidup di tengah masyarakat. Dan setiap langkah kecil untuk menjaga nyala pendidikan Al-Qur’an, insyaallah, adalah langkah yang sedang menyiapkan masa depan generasi Qur’ani. Bagi unit TPA yang belum mengisi data pendaftaran unit di BADKO, diharapkan segera melakukan pengisian agar lembaga dapat terdata dan terdaftar dengan baik. Semoga dari Rayon Sedayu lahir semakin banyak lembaga TPA yang kuat, tertib, terpercaya, dan terus hidup membersamai masyarakat. Semoga semakin banyak santri berprestasi yang mampu membawa nama baik Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga ke tingkat nasional. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca anak-anak di ruang-ruang kecil TPA menjadi cahaya yang menerangi perjalanan mereka, keluarga mereka, dan masyarakat di sekitarnya. Aamiin.
Baca Serunya!
41
Satu Cahaya untuk Umat: UPZ Badko TPA DIY dan KSSJ Satukan Langkah dalam Gerakan Kebaikan
YOGYAKARTA — Semangat untuk terus menyalakan cahaya kebaikan menjadi pesan utama dalam pertemuan rutin Pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badko TPA DIY yang dilaksanakan di Yogyakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, menyatukan langkah, serta meneguhkan komitmen seluruh elemen dalam membangun gerakan pengumpulan dan pentasyarufan yang semakin luas manfaatnya bagi umat. Dalam pertemuan tersebut, satu pesan sederhana namun penuh makna mengemuka: “Satu yang menyala, jangan sampai yang lain redup. Kita harus bersama-sama menjaga terangnya.” Pesan itu menjadi gambaran tentang pentingnya saling menguatkan dalam sebuah gerakan. Setiap unsur yang bergerak di dalam UPZ Badko TPA DIY diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketika satu bagian memiliki semangat dan kekuatan untuk bergerak, maka semangat tersebut seharusnya mampu menjadi penyulut bagi yang lain. Sebab gerakan kebaikan akan semakin besar bukan hanya karena ada satu pihak yang bekerja keras, melainkan karena banyak tangan saling menggenggam, banyak hati saling menguatkan, dan banyak langkah berjalan menuju tujuan yang sama. Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ), yang merupakan bagian dari UPZ Badko TPA DIY, menjadi salah satu unsur penting dalam pergerakan tersebut. Dalam struktur kepengurusan Badko Wilayah DIY, UPZ berada di bawah koordinasi Bidang Ketua III. Kehadiran KSSJ diharapkan dapat memperkuat gerakan penghimpunan dana umat sekaligus menjadi energi baru dalam memperluas budaya sedekah di tengah masyarakat. Ketua Umum Badko Wilayah DIY, Bapak Suprapto. dalam arahannya memberikan semangat agar pergerakan UPZ dapat terus tumbuh dalam satu kesatuan yang kuat. Ia berharap daerah-daerah tidak perlu membentuk UPZ secara sendiri-sendiri. Sebaliknya, daerah diharapkan dapat mengambil peran sebagai fundraising, memperkuat jaringan pengumpulan dana, serta bergerak bersama dalam sistem yang terpusat di tingkat Badko Wilayah DIY. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan gerakan yang lebih terarah, solid, dan memiliki kekuatan yang lebih besar. Daerah-daerah yang menjadi sasaran pentasyarufan juga tidak perlu melakukan pergerakan dengan membentuk UPZ sendiri, melainkan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama yang telah dibangun secara terpusat. Dengan demikian, energi tidak habis untuk membangun banyak gerakan yang berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, seluruh kekuatan dapat disatukan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. “Ketika kita bersama, cahaya itu akan semakin terang. Jangan sampai ada yang merasa berjalan sendiri. Yang sudah menyala harus membantu menyalakan yang lain, dan yang telah terang harus bersama-sama menjaga agar terangnya tetap bertahan,” menjadi semangat yang mengiringi pertemuan tersebut. Ketua UPZ Badko TPA DIY, Muchlis Umaidi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pemahaman dan apresiasinya terhadap keberadaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Menurutnya, UPZ memahami bahwa KSSJ bukanlah “toko di dalam toko”. Kehadirannya bukan untuk membangun gerakan yang terpisah, melainkan menjadi bagian yang memperkuat gerakan besar yang telah dibangun bersama. Muchlis Umaidi menyampaikan terima kasih atas kontribusi dan komitmen KSSJ dalam memperkuat pergerakan UPZ Badko TPA DIY. KSSJ menjadi bagian dari tim pengumpulan yang bergerak bersama dalam menghimpun kebaikan dari masyarakat. Setelah seluruh proses pengumpulan dan pelaporan dilakukan dengan baik, gerakan tersebut akan berlanjut pada tahap pentasyarufan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Sebuah proses yang sederhana dalam konsep, tetapi besar dalam makna. Dari tangan yang bersedekah pada waktu subuh, lahirlah harapan bagi mereka yang membutuhkan. Dari kepedulian yang mungkin terlihat kecil, tumbuh kekuatan yang mampu meringankan beban sesama. Pertemuan tersebut juga menjadi momentum penting menjelang launching Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 30 Agustus 2026. Launching KSSJ akan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Pleno Badko Wilayah DIY. Pada kesempatan tersebut, Badko Daerah Bantul akan menjadi tuan rumah kegiatan yang bertempat di kawasan wisata Seribu Batu, Mangunan, Dlingo, Bantul. Momentum tersebut diharapkan menjadi awal baru bagi perjalanan KSSJ dalam memperkuat gerakan sedekah dan kepedulian sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih dari sekadar sebuah peluncuran organisasi atau komunitas, kehadiran KSSJ diharapkan menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang sebuah gerakan. Gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa kebaikan tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan yang besar. Kadang, kebaikan dimulai dari sesuatu yang sederhana. Dari sebuah sedekah di waktu subuh. Dari tangan yang mau berbagi. Dari hati yang percaya bahwa rezeki yang dititipkan kepada sesama tidak akan pernah benar-benar berkurang. Ke depan, UPZ Badko TPA DIY bersama KSSJ dan seluruh unsur yang terlibat diharapkan terus menjaga semangat kebersamaan. Tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang merasa lebih besar, dan tidak ada cahaya yang dibiarkan redup. Semua bergerak dalam satu barisan. Saling menguatkan. Saling menjaga. Saling menyalakan. Sebab cahaya kebaikan tidak akan pernah kehilangan jalannya selama ada hati-hati yang bersedia menjaganya. Semoga langkah UPZ Badko TPA DIY dan Komunitas Sedekah Subuh Jogja terus berkembang, menjangkau lebih banyak kebaikan, menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang, serta menjadi jalan bagi tumbuhnya kepedulian sosial di tengah masyarakat. Dari Yogyakarta, semoga cahaya itu terus menyala. Bukan hanya untuk hari ini. Bukan hanya untuk satu kelompok. Tetapi untuk umat, untuk sesama, dan untuk masa depan yang lebih penuh dengan kepedulian. Satu cahaya mungkin terlihat kecil. Namun ketika banyak cahaya dijaga bersama-sama, ia akan menjadi terang yang mampu menerangi jalan bagi banyak orang.
Baca Serunya!
83
FASI BADKO TKA TPA DIY: Merayakan Prestasi dan Semangat Santri TKA-TPA se-DIY
Yogyakarta, — Festival Anak Sholeh Indonesia XII (FASI XII) menjadi momentum apresiasi bagi para santri TKA-TPA serta ustadz dan ustadzah dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi TKA-TPA (BADKO TKA-TPA) Wilayah DIY tersebut berlangsung pada Ahad, 1 September 2024, bertempat di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. FASI XII merupakan salah satu agenda yang memberikan ruang bagi para santri TKA-TPA untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta hasil pembelajaran yang telah mereka peroleh di lembaga masing-masing. Kehadiran para peserta dari berbagai wilayah di DIY menjadikan kegiatan tersebut sebagai wadah silaturahmi sekaligus bentuk penghargaan terhadap proses pendidikan Al-Qur’an yang berlangsung di tengah masyarakat. Selain menjadi ajang bagi santri untuk berprestasi, FASI juga memiliki makna penting bagi para ustadz dan ustadzah yang selama ini mendampingi proses belajar anak-anak. Dedikasi para pendidik Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuhnya generasi santri yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, agama, dan nilai-nilai akhlak. Pelaksanaan FASI XII di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta berlangsung dengan lancar. Seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari panitia, peserta, pendamping, lembaga pendidikan, hingga masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. BADKO TKA-TPA Wilayah DIY menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada AMM Yogyakarta yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta sebagai lokasi pelaksanaan, SD Muhammadiyah Purbayan, paguyuban warga, serta seluruh warga sekitar yang berada di area pelaksanaan FASI XII. kunjungan ke SMP Muh 7 YK Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana kegiatan yang tertib, nyaman, dan kondusif. Kolaborasi antara lembaga, masyarakat, dan berbagai pihak menunjukkan bahwa pembinaan generasi Qur’ani membutuhkan kebersamaan dan kepedulian banyak elemen. FASI XII sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan TKA-TPA tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter, keberanian, kreativitas, dan kecintaan anak terhadap nilai-nilai keislaman. DOKUMENTASI FASI XII 2024 DIY Kini perhatian mulai diarahkan pada penyelenggaraan FASI XIII DIY tahun 2026. Setelah kesuksesan FASI XII, pertanyaan mengenai lokasi penyelenggaraan berikutnya tentu menjadi hal yang menarik untuk dinantikan. Di mana FASI XIII DIY tahun 2026 akan digelar? Tunggu informasi selanjutnya.
Baca Serunya!
144
Menanamkan Nilai, Menjaga Generasi: LPQ dan MDT DIY Didorong Jadi Ruang Pendidikan Ramah Anak
YOGYAKARTA — Pendidikan Al-Qur’an tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca dan memahami nilai-nilai keagamaan. Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) juga dituntut menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, bebas kekerasan, serta menghormati hak dan martabat anak. Arah tersebut mengemuka dalam kegiatan “Sosialisasi LPQ dan MDT Ramah Anak Tahun 2026” yang diselenggarakan Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung Kamis, 20 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat 3 Lantai 2 Kanwil Kemenag D.I. Yogyakarta. Kegiatan berjalan dengan lancar dan menjadi ruang penguatan pemahaman mengenai pentingnya penerapan prinsip ramah anak dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan. Undangan kegiatan ditujukan kepada Kasi Pakis/Pontren se-DIY, Ketua FKDT D.I. Yogyakarta, Ketua Badko TPA D.I. Yogyakarta, Direktur LPQ, serta Kepala MDT. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lembaga pendidikan keagamaan agar tidak hanya berorientasi pada capaian pembelajaran, tetapi juga memastikan terpenuhinya hak dan perlindungan anak dalam setiap proses pendidikan. Materi mengenai pemenuhan hak dan perlindungan anak yang menjadi bagian dari bahan kegiatan menegaskan bahwa pendidikan ramah anak berangkat dari prinsip-prinsip Konvensi Hak Anak (KHA). Prinsip tersebut meliputi non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghormatan terhadap pandangan atau partisipasi anak. Indonesia telah meratifikasi KHA melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Dalam konteks pendidikan, hak anak tidak berhenti pada kesempatan memperoleh akses belajar. Materi sosialisasi menekankan pendidikan yang berpusat pada anak, disiplin yang tetap memperhatikan martabat dan harga diri anak atau dilakukan tanpa kekerasan, serta pengembangan kepribadian, bakat, kemampuan, dan kepercayaan diri. Prinsip tersebut relevan untuk diterapkan di LPQ dan MDT. Setiap penyelenggaraan pendidikan Al-Qur’an perlu memastikan proses belajar berlangsung dalam suasana yang mendidik sekaligus melindungi. Anak tidak semestinya menjadi objek yang hanya menerima aturan, melainkan perlu didengar, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai potensi serta kebutuhannya. Materi juga menjelaskan bahwa satuan pendidikan ramah anak mencakup satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memenuhi hak serta memberikan perlindungan khusus bagi anak, termasuk menyediakan mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di lingkungan pendidikan. Karena itu, konsep ramah anak perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik konkret di lembaga pendidikan Al-Qur’an. Badko TPA, misalnya, dapat didorong membentuk LPQ percontohan ramah anak di masing-masing daerah. LPQ percontohan tersebut dapat menjadi tempat belajar bersama bagi lembaga lain dalam mengembangkan standar pembelajaran yang mencerminkan prinsip perlindungan dan pemenuhan hak anak. Standar tersebut dapat dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik lokal. Badko dapat menyusun standar TPA ramah anak se-DIY yang kemudian dikreasikan melalui kebijakan lokal sesuai kondisi masing-masing wilayah. Dengan demikian, ramah anak tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya yang terlihat dalam cara guru mengajar, cara pengelola membuat aturan, hingga cara lembaga merespons persoalan yang dialami santri. Penguatan kapasitas pendidik juga menjadi bagian penting. Bidang pendidikan dan pelatihan dapat mengembangkan media sederhana dan dekat dengan dunia anak, seperti tepuk, yel-yel, lagu, atau materi pembiasaan yang menanamkan pesan anti-kekerasan, saling menghormati, dan keberanian melapor ketika mengalami atau melihat kekerasan. Pendekatan semacam ini memungkinkan nilai perlindungan anak hadir secara alami dalam kegiatan belajar sehari-hari. Aspek ramah anak juga dapat dipertimbangkan dalam penilaian dan akreditasi unit TPA. Dengan memasukkan indikator perlindungan dan pemenuhan hak anak, lembaga akan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk membangun tata kelola yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. Bahan sosialisasi turut menekankan pentingnya kebijakan yang mencegah kekerasan, mekanisme pemantauan, partisipasi peserta didik, keterlibatan orang tua, peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman. Dalam proses pembelajaran, prinsip inklusif dan non-diskriminatif, pembentukan perilaku positif, serta penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan menjadi bagian penting dari satuan pendidikan ramah anak.Pada akhirnya, pendidikan Al-Qur’an yang ramah anak bukan sekadar menghadirkan tempat belajar yang nyaman. Ia merupakan ikhtiar untuk memastikan nilai-nilai agama tumbuh bersamaan dengan penghormatan terhadap kemanusiaan anak. Santri diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi generasi yang berakhlak, percaya diri, menghargai sesama, serta memahami bahwa kekerasan bukan bagian dari pendidikan. Dari ruang-ruang kecil LPQ / TPA dan MDT, budaya pendidikan yang aman dapat ditanamkan. Sebab, ketika anak merasa dihargai dan dilindungi, nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi dapat tumbuh menjadi karakter dalam kehidupan.
Baca Serunya!
123
TPAM Sunan Geseng Jolosutro: 36 Tahun Menanam Cahaya Al-Qur’an, Menumbuhkan Generasi Berakhlak Mulia
Bantul — Tiga puluh enam tahun bukan sekadar bilangan. Ia adalah jejak panjang tentang kesetiaan, perjuangan, dan doa yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (TPAM) Sunan Geseng Jolosutro memperingati milad ke-36, menandai perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an yang telah tumbuh bersama masyarakat di Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TPAM Sunan Geseng Jolosutro saat ini merupakan lembaga terakreditasi A, dengan nomor unit 0213001 dalam penilaian dan pendataan administratif lembaga pembina BADKO TKA-TPA Wilayah DIY, berafiliasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan. Lembaga ini mengelola enam tempat pembelajaran, yakni Unit Jolosutro serta Cabang Jombokan, Kaligatuk, Pandeyan, Ngelosari, dan Pangol. Dengan dukungan 73 ustadz dan ustadzah, TPAM ini membina 285 santri. Angka-angka tersebut menjadi gambaran bahwa TPAM Sunan Geseng Jolosutro bukan lagi sekadar sebuah tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang berusaha menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sekaligus membentuk generasi yang berakhlak mulia. Perjalanan itu bermula dari semangat Ukhuwah Islamiyah di Dusun Jolosutro. Pada 1997, organisasi keislaman tersebut bergerak melalui kajian yang diikuti generasi muda dari wilayah Kring Jolosutro. Setahun kemudian, mereka mengundang tim Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Kotagede Yogyakarta untuk memperkenalkan sistem pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Iqra’. Pada fase berikutnya, lembaga pendidikan Al-Qur’an kemudian berkembang dengan nama Madrasah Diniyah Al-Qur’an Muhammadiyah (MDAM) Sunan Geseng Jolosutro. Kehadiran lembaga ini pada awalnya tidak serta-merta diterima seluruh masyarakat. Perbedaan metode pembelajaran menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Namun, waktu dan ketekunan perlahan membuka pintu penerimaan. Masyarakat akhirnya melihat manfaat keberadaan lembaga tersebut. Dalam profil lembaga tercatat bahwa pada 20 Agustus 1990, keberadaan TPAM Sunan Geseng Jolosutro memperoleh pengakuan dari LPTQ Team Tadarus AMM Kotagede Yogyakarta melalui SK LPTQ Nasional Nomor 004/01/XII/90. Dokumen profil juga mencatat proses perubahan nama dan perkembangan kelembagaan dalam rentang sejarahnya. Dari satu tempat belajar, semangat itu kemudian menjalar. Cabang Jombokan berdiri pada 1990, disusul Kaligatuk pada 1991, Pandeyan pada 26 Desember 1991, Ngantunan pada 1993, Sambisari pada 1998 yang kemudian menjadi Cabang Kenongo, Ngelosari pada 2000, serta Pangol pada 2009. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an yang dirintis di Jolosutro mampu menemukan tempat di hati masyarakat sekitar. Visi yang diusung pun sederhana, tetapi dalam: “Mewujudkan generasi qur’ani yang unggul, berkemajuan dan berakhlak mulia.” Misi tersebut diwujudkan melalui ikhtiar memberantas buta huruf Al-Qur’an serta mendorong penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan belajar dilaksanakan secara rutin pada sore hari. Unit Jolosutro misalnya, melaksanakan pembelajaran setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 15.00–17.00 WIB. Pola pembelajaran juga berjalan di lima cabang lainnya dengan jadwal masing-masing. Prestasi menjadi bagian lain dari perjalanan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, TPAM Sunan Geseng Jolosutro mencatat berbagai capaian, antara lain Juara 1 Nasyid FASI Kabupaten dan Juara 2 Nasyid FASI DIY tahun 2024. Pada FASI Kecamatan Piyungan 2026, para santri juga meraih sejumlah prestasi, termasuk Juara 1 Ceramah Islami Putra, Juara 1 Ceramah Islami Putri, Juara 1 Tilawah, Juara 2 Tilawah, serta Juara 2 Ikrar dan Puitisasi. Jauh sebelum prestasi-prestasi tersebut, TPAM Sunan Geseng Jolosutro juga pernah menorehkan prestasi penting sebagai Juara 2 Unit Percontohan TKA-TPA yang diselenggarakan oleh BADKO TKA-TPA DIY bersama Kanwil Kementerian Agama DIY pada tahun 2012. Prestasi tersebut menjadi salah satu penanda bahwa tradisi pembinaan dan pengelolaan lembaga telah dibangun dengan kesungguhan sejak lama. Kini, memasuki usia ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro diharapkan tidak berhenti pada pencapaian masa lalu. Milad hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas kemanfaatan, serta melahirkan semakin banyak generasi yang bukan hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan hidup. Selamat Milad ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang pernah diajarkan menjadi cahaya yang terus mengalir, setiap langkah para ustadz dan ustadzah menjadi amal jariyah, dan setiap santri yang tumbuh di dalamnya menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Semoga Allah SWT menjaga TPAM Sunan Geseng Jolosutro agar tetap teguh melangkah, semakin maju dalam pengabdian, luas dalam kemanfaatan, dan panjang dalam keberkahan. Dan kiranya TPAM Sunan Geseng Jolosutro dapat menjadi salah satu referensi studi tiru bagi unit-unit TPA lainnya. Sebab, dari Jolosutro kita belajar bahwa lembaga yang besar tidak selalu bermula dari bangunan yang megah, melainkan dari hati yang ikhlas, guru yang istiqamah, masyarakat yang peduli, dan doa yang tidak pernah putus. Semoga dari Jolosutro, cahaya itu terus menyala; dari satu mushaf yang dibaca, tumbuh ribuan akhlak yang terjaga; dari satu generasi yang dibina, lahir generasi-generasi berikutnya yang mencintai Al-Qur’an dan menghidupkan ajarannya.
Baca Serunya!
513
Menyusuri Lima Pintu Cahaya: Supervisi Akreditasi TPA di Rayon Galur
Kulonprogo, 15 Agustus 2026. Pagi ini, Galur seperti sedang menyimpan sebuah cerita. Di antara jalan-jalan yang membelah perkampungan, pepohonan yang teduh, dan masjid-masjid yang menjadi tempat bertumbuhnya cahaya Al-Qur’an, lima lembaga TPA bersiap menerima sebuah kunjungan penting. Bukan kunjungan yang datang membawa ketakutan, melainkan sebuah perjalanan untuk melihat, menata, dan menguatkan. Itulah supervisi akreditasi TPA di Rayon Galur, Kabupaten Kulon Progo. Titik awal perjalanan dipusatkan di TPA Al Muhsin, Bunder, Banaran, Galur. Di tempat inilah pembukaan dilaksanakan. Para direktur TPA, pengurus, tim asesor, dan seluruh unsur yang terlibat berkumpul dalam suasana hangat. Sejenak mereka menyatukan langkah, sebelum perjalanan dilanjutkan menuju lima unit TPA yang menjadi bagian dari supervisi akreditasi kali ini. Lima lembaga tersebut adalah TPA Al Muhsin di Bunder, Banaran, Galur; TPA Al Falach di Sorogenen, Nomporejo, Galur; TPA Baiturrahman di Pandowan, Galur; TPA Mu’tamirin di Karangsewu, Galur; serta TPA Al Mukminun di Barongan, Karangsewu, Galur. Lima nama, lima tempat, lima kisah. Namun semuanya bermuara pada satu cita-cita: menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang semakin tertata, semakin kuat, dan semakin memberi manfaat bagi anak-anak di tengah masyarakat. Mengetuk Pintu, Melihat dari Dekat Setelah pembukaan usai, tim asesor bergerak dari satu unit ke unit lainnya. Seperti menyusuri halaman-halaman dalam sebuah kitab yang belum selesai ditulis, setiap TPA memiliki cerita, kekuatan, sekaligus ruang untuk terus dibenahi. Supervisi tidak sekadar melihat lembar-lembar administrasi. Tim juga menengok sarana dan prasarana yang tersedia, melihat bagaimana sebuah unit TPA menjalankan aktivitasnya, serta berbincang dan berbagi bersama pengurus takmir masjid maupun pengurus TPA. Di sana, akreditasi menemukan maknanya yang lebih sederhana dan manusiawi. Ia bukan sekadar angka, dokumen, atau penilaian. Ia adalah cermin untuk melihat sejauh mana sebuah lembaga telah berjalan, sekaligus jendela untuk memandang langkah apa yang perlu dilakukan setelahnya. Ada administrasi yang perlu dirapikan. Ada sarana yang perlu diperkuat. Ada kebiasaan-kebiasaan baik yang perlu dipertahankan. Dan ada pula hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian, namun ternyata memiliki arti penting dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an. Semua dibicarakan dalam suasana yang cair. Pertanyaan bertemu jawaban. Catatan bertemu pengalaman. Dan pengalaman itu kemudian menjadi bahan untuk tumbuh bersama. “Akreditasi Tidak Menakutkan” Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, perjalanan kembali bermuara di TPA Al Muhsin. Penutupan diikuti oleh seluruh direktur TPA beserta jajaran pengurusnya. Dalam sambutannya, H. Agus Wantoro, S.H. menyampaikan harapan agar semakin banyak unit TPA yang berkenan mengikuti proses akreditasi. Menurutnya, akreditasi tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Justru melalui akreditasi, setiap unit memiliki kesempatan untuk mengetahui keadaan lembaganya secara lebih utuh, menemukan kekurangan, sekaligus memperkuat hal-hal baik yang selama ini telah berjalan. Pesan itu terasa seperti membuka jendela yang sebelumnya mungkin tertutup: bahwa akreditasi bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan salah satu cara untuk memastikan perjalanan pendidikan Al-Qur’an terus berada di jalan yang semakin baik. Dari Daftar Hadir hingga Budaya Tertib Rangkaian kemudian berlanjut dengan evaluasi dan pembinaan yang disampaikan oleh Sekretaris Umum BADKO Wilayah DIY, Fajar Wijanarko, S.T. Dalam evaluasinya, ia menyoroti salah satu hal yang masih sering terabaikan di sejumlah unit TPA, yakni daftar hadir, baik untuk santri maupun ustadz dan ustadzah. Barangkali daftar hadir tampak seperti selembar kertas sederhana. Namun dari lembar sederhana itulah sebuah lembaga dapat merekam perjalanan: siapa yang hadir, siapa yang belajar, siapa yang mengajar, dan bagaimana kedisiplinan sebuah proses pendidikan berlangsung. Sebab lembaga yang besar sering kali tidak hanya dibangun oleh gagasan-gagasan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tertib, berulang, dan penuh kesadaran. Administrasi yang rapi pada akhirnya bukan sekadar urusan berkas. Ia adalah jejak perjalanan sebuah pengabdian. Menyalakan Api Semangat Suasana semakin hangat ketika Dewan Pakar BADKO TPA Kulon Progo, H. Maryanto, S.Ag., memberikan motivasi kepada seluruh peserta. "Tetaplah Istiqomah dalam jalan ini, jagalah apa yang sudah ada dari perjalanan dakwah di TPA ini, Jogonen!". Pesan-pesan yang disampaikan menjadi penguat bahwa mengelola TPA adalah bagian dari perjalanan panjang menanam kebaikan. Tidak semua benih yang ditanam akan segera terlihat menjadi pohon. Tidak semua perjuangan akan langsung menghasilkan buah. Namun anak-anak yang hari ini belajar membaca huruf demi huruf Al-Qur’an, kelak mungkin akan tumbuh menjadi generasi yang membawa cahaya itu lebih jauh. Di situlah letak indahnya pengabdian di TPA. Mungkin namanya tidak selalu disebut. Mungkin lelahnya tidak selalu terlihat. Tetapi setiap huruf yang berhasil dibaca seorang santri, setiap doa yang dilafalkan, dan setiap akhlak baik yang tumbuh, adalah bagian dari buah panjang yang sedang dipersiapkan. Lima TPA, Satu Langkah untuk Terus Bertumbuh Supervisi akreditasi di Rayon Galur pun ditutup dengan suasana penuh keakraban. Lima unit TPA telah dikunjungi. Berbagai catatan telah dihimpun. Beragam pengalaman telah dibagikan. Hari itu, Galur seolah menulis satu halaman kecil dalam perjalanan panjang pendidikan Al-Qur’an di Kulon Progo. Lima TPA telah membuka pintunya. Lima lembaga telah memperlihatkan ikhtiarnya. Dan dari sana, sebuah pesan sederhana kembali diteguhkan: Akreditasi bukan untuk mencari siapa yang paling sempurna, tetapi untuk bersama-sama menemukan jalan agar setiap lembaga menjadi lebih baik. Sebab perjalanan pendidikan Al-Qur’an tidak pernah benar-benar selesai. Ia seperti sungai yang terus mengalir—melewati kampung, masjid, ruang-ruang sederhana, dan hati anak-anak yang sedang belajar mengenal Kalam-Nya. Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika anak-anak itu telah tumbuh dewasa, mereka akan mengenang tempat-tempat kecil ini sebagai salah satu pintu pertama yang memperkenalkan mereka kepada cahaya. Dari Galur, langkah itu kembali dimulai: menata lembaga, menguatkan pengabdian, dan menumbuhkan generasi Qur’ani, satu TPA demi satu TPA.
Baca Serunya!
78
Badko TKA-TPA DIY Perkuat Legalitas Kelembagaan, Tindak Lanjut Pengurusan SK Kemenkumham
Yogyakarta, 14 Agustus 2026. Langkah kecil dalam sebuah penandatanganan berkas, sering kali menjadi bagian penting dari perjalanan panjang sebuah lembaga. Begitulah suasana pengurusan pembaruan data kepengurusan dan keanggotaan BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Bertempat di Kantor Notaris Pandam Nur Wulan, S.H., pada pukul 13.00 WIB, sejumlah pengurus yang terpanggil hadir untuk melakukan penandatanganan bersama dokumen yang diperlukan dalam proses pengurusan SK Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Penandatanganan dilakukan di hadapan notaris sebagai bagian dari proses administrasi dan penguatan legalitas kelembagaan. Adapun pengurus yang hadir dalam proses tersebut adalah: 1. Suprapto 2. Nihayaturruhama' 3. Kushartanto 4. Endro Suwarno 5. Fajar Wijanarko 6. Didik Setiawan 7. Anas Yusuf 8. Yuni Hastariningsih 9. Dai Iskandar Memperbarui Data, Menguatkan Lembaga Pengurusan ini merupakan tindak lanjut dari SK Kemenkumham sebelumnya, yang membutuhkan upgrading atau pembaruan data, terutama berkaitan dengan struktur kepengurusan dan keanggotaan organisasi. Pembaruan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif. Di balik lembar-lembar dokumen yang ditandatangani, terdapat ikhtiar untuk memastikan bahwa organisasi tetap memiliki data kelembagaan yang tertib, mutakhir, dan sesuai dengan perkembangan organisasi. Bagi sebuah lembaga pembina yang menaungi begitu banyak unit TKA-TPA, tertib administrasi menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kelembagaan yang semakin kuat. Mengapa SK Kemenkumham Penting? SK Kemenkumham menjadi salah satu bentuk pengakuan administratif terhadap keberadaan dan legalitas sebuah organisasi berbadan hukum. Dengan legalitas yang jelas, lembaga memiliki dasar yang lebih kuat dalam menjalankan kegiatan, membangun kerja sama, mengelola program, serta berhubungan dengan berbagai pihak secara kelembagaan. Legalitas juga memberikan kepastian mengenai identitas organisasi, struktur kepengurusan, serta keberlangsungan kelembagaan. Terlebih bagi organisasi yang bergerak dalam pembinaan pendidikan Al-Qur'an, keberadaan lembaga yang tertib dan memiliki legalitas menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat dan memperluas kemanfaatan. Namun lebih dari sekadar dokumen, legalitas adalah ikhtiar agar gerakan pembinaan TKA-TPA dapat berjalan semakin tertata, profesional, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman. Manfaatnya Kembali kepada Unit TKA-TPA Pada akhirnya, setiap proses penguatan kelembagaan BADKO TKA-TPA DIY diharapkan bermuara pada satu tujuan: semakin luasnya manfaat bagi unit-unit TKA-TPA yang berada dalam naungan dan binaan BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta. Ketika lembaga pembina semakin kuat, tertib, dan memiliki legalitas yang jelas, maka ruang untuk mengembangkan program pembinaan pun semakin terbuka. Pendampingan kelembagaan, peningkatan kompetensi ustadz dan ustadzah, pengembangan kualitas pembelajaran Al-Qur'an, penguatan administrasi, hingga berbagai program peningkatan mutu TKA-TPA dapat dilakukan dengan pijakan kelembagaan yang lebih kokoh. Sebab di balik setiap data yang diperbarui, ada unit-unit TKA-TPA yang terus menyalakan cahaya Al-Qur'an. Di balik setiap tanda tangan, ada harapan agar semakin banyak anak-anak Yogyakarta tumbuh bersama Al-Qur'an, mengenalnya dengan cinta, membacanya dengan gembira, dan menjadikannya bekal dalam kehidupan. Mari Bertumbuh Bersama BADKO TKA-TPA DIY Penguatan kelembagaan ini sekaligus menjadi momentum untuk mengajak seluruh unit TKA-TPA di D.I. Yogyakarta untuk terus membangun kebersamaan. BADKO TKA-TPA DIY bukan sekadar tempat berhimpun, tetapi rumah bersama untuk belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan memperjuangkan pendidikan Al-Qur'an. Bagi unit TKA-TPA yang belum bergabung, mari menjadi bagian dari gerakan ini. Karena perjalanan mendidik generasi Qur'ani tidak harus ditempuh sendirian. Mari bergabung bersama BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta. Bersama menguatkan lembaga, bersama meningkatkan mutu, bersama menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Qur'an. Karena ketika langkah-langkah kecil disatukan dalam satu barisan, insyaallah akan tumbuh menjadi gerakan besar yang manfaatnya jauh melampaui apa yang kita bayangkan.
Baca Serunya!
186
Syarat Mengikuti FASI XIII DIY Diperjelas, Pastikan Data dan Dokumen Santri Sudah Siap
BADKO TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali mengajak seluruh unit TKA, TPA, dan TQA di wilayah DIY untuk mempersiapkan santri terbaiknya menyambut Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII. FASI bukan sekadar panggung perlombaan. Di dalamnya ada ikhtiar untuk menumbuhkan keberanian, kecintaan kepada Al-Qur’an, semangat belajar, akhlak mulia, sekaligus mempertemukan anak-anak terbaik dari berbagai penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena itu, sebelum melangkah menuju arena FASI XIII, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap unit TKA-TPA agar proses pendaftaran dan keikutsertaan santri dapat berjalan tertib, lancar, dan sesuai ketentuan. 📢 Perhatikan Syarat Keikutsertaan FASI XIII DIY Secara garis besar, beberapa persyaratan penting yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Usia Peserta Harus Sesuai Ketentuan JUKLAK Usia merupakan salah satu persyaratan utama dalam FASI XIII. Ketentuan usia mengikuti Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) FASI XIII, termasuk revisi terbaru yang telah ditetapkan BADKO TKA-TPA DIY. JUKLAK FASI XIII DIY dapat diunduh melalui halaman resmi BADKO TKA-TPA DIY: Download JUKLAK FASI XIII DIY Ketentuan usia terbaru berdasarkan revisi JUKLAK adalah: Santri TKA: berusia antara 4 tahun sampai dengan 7 tahun pada tanggal 1 Juli 2027. Santri TPA: berusia antara 7 tahun sampai dengan 12 tahun pada tanggal 1 Juli 2027. Santri TQA: berusia antara 12 tahun sampai dengan 15 tahun pada tanggal 1 Juli 2027. Karena itu, setiap unit diharapkan melakukan pengecekan usia calon peserta secara teliti sejak awal. 2. Peserta Merupakan Santri dari Unit TKA-TPA yang Terdaftar Peserta FASI XIII merupakan santri TKA, TPA, dan TQA yang berada di bawah unit yang terdaftar di BADKO TKA-TPA DIY. Terdapat perubahan penting dalam dokumen pembuktian status unit. Jika sebelumnya peserta dibuktikan dengan surat keterangan Direktur TPA, maka berdasarkan revisi terbaru, pembuktian dilakukan dengan melampirkan: Piagam Pendirian Unit TPA terbaru yang dikeluarkan oleh BADKO TKA-TPA DIY. Dengan demikian, keberadaan dan legalitas unit TKA-TPA menjadi bagian penting dalam persiapan menuju FASI XIII. Unit yang Belum Memiliki Piagam Pendirian Terbaru, Segera Melakukan Updating Data Bagi unit TKA-TPA yang belum terdaftar dalam pendataan atau belum memiliki Piagam Pendirian terbaru, jangan menunggu sampai mendekati pelaksanaan FASI. Segera lakukan pendataan/updating data unit melalui layanan yang telah disediakan di website BADKO TKA-TPA DIY. Langkah kecil hari ini akan menjadi pintu bagi anak-anak kita untuk melangkah lebih jauh esok hari. Segera lengkapi data unit dan dapatkan Piagam Pendirian terbaru. 3. Menyiapkan Fotokopi Akta Kelahiran Setiap calon peserta juga perlu mempersiapkan fotokopi akta kelahiran sebagai salah satu dokumen administrasi peserta. Dokumen ini penting untuk memastikan kesesuaian identitas dan usia peserta dengan ketentuan kategori lomba yang diikuti. Karena itu, mari periksa kembali kelengkapan dokumen santri sejak sekarang. Jangan sampai semangat anak untuk berprestasi terhambat hanya karena dokumen administrasi yang belum siap. 4. Satu Santri Tidak Boleh Dobel Lomba Setiap santri perlu diperhatikan pembagian cabang lombanya agar tidak mengikuti dua atau lebih cabang lomba yang bertabrakan atau melakukan dobel lomba, sesuai ketentuan FASI XIII. Pendamping dan pengelola unit diharapkan melakukan pemetaan peserta dengan cermat. Pilihlah cabang lomba yang paling sesuai dengan kemampuan, potensi, minat, dan kesiapan masing-masing santri. Sebab dalam FASI, yang paling utama bukan sekadar mengejar piala, tetapi menemukan keberanian anak untuk tampil, belajar, berproses, dan memberikan yang terbaik karena Allah. 📝 Ada Revisi Penting pada JUKLAK FASI XIII DIY BADKO TKA-TPA DIY telah menyampaikan pemberitahuan revisi JUKLAK FASI XIII melalui surat nomor: pemberitahuan revisi juklak 52/B/BADKO-DIY/VIII/2026Tanggal: 6 Agustus 2026 / 23 Safar 1448 H Beberapa revisi penting tersebut adalah: 1. Perubahan ketentuan usia peserta Sebagaimana dijelaskan di atas: TKA: 4–7 tahunTPA: 7–12 tahunTQA: 12–15 tahun Perhitungan usia dilakukan pada 1 Juli 2027. 2. Perubahan dokumen pembuktian unit Peserta merupakan santri dari unit yang terdaftar di BADKO TKA-TPA DIY dan dibuktikan dengan Piagam Pendirian unit TPA terbaru. 3. Kesempatan pengajuan Piagam Pendirian Unit yang belum memiliki Piagam Pendirian terbaru dapat segera mengajukan melalui: s.id/InputDataUnit 4. Perubahan teks Ikrar Santri Pada poin nomor 1, teks yang sebelumnya berbunyi: “Selalu shalat awal waktu” direvisi menjadi: “Selalu shalat di awal waktu.” 5. Mars TKA-TPA menjadi lagu wajib lomba Nasyid Islami TKA Lagu wajib pada lomba Nasyid Islami TKA adalah: Mars TKA TPA / Mars TK Al Qur’an dengan pencipta Tasyfirin Karim. Lirik lagu tercantum pada lampiran pemberitahuan revisi JUKLAK FASI XIII. 🎶 Lirik Mars TKA TPA / Mars TK Al Qur’an Ciptaan: Tasyfirin Karim Kamilah santri TK Al-Qur’anRajin belajar giat beramalQur’an di tangan jadi pedomanKita sambut kebangkitan IslamQur’an di tangan jadi pedomanKita sambut kebangkitan Islam Bila kau jauh dari Al-Qur’anHidup laksana dalam gulitaTiada pedoman tak tentu arahDunia akhirat tidak bahagiaTiada pedoman tak tentu arahDunia akhirat tidak bahagia Bila kau s’lalu dengan Al-Qur’anHidupmu pasti akan bahagiaS’lamat di dunia damai sejahteraDi akhirat mendapat surgaS’lamat di dunia damai sejahteraDi akhirat mendapat surga 🌱 Mari Bersiap Sejak Sekarang FASI XIII adalah perjalanan panjang yang dimulai dari langkah-langkah sederhana: memeriksa usia, melengkapi administrasi, memastikan legalitas unit, memilih cabang lomba, dan mempersiapkan santri dengan penuh kesungguhan. Jangan menunggu waktu semakin dekat. Mari kita rapikan data, lengkapi dokumen, pahami JUKLAK, dan siapkan anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Sebab setiap anak memiliki cahaya dan potensi yang berbeda. Ada yang bersinar melalui lantunan ayat suci, ada yang melalui hafalan, adzan, pidato, nasyid, kaligrafi, atau berbagai cabang lomba lainnya. FASI bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. FASI adalah tentang bagaimana kita menanamkan keberanian kepada anak-anak untuk tampil, kecintaan kepada Al-Qur’an untuk terus tumbuh, dan akhlak mulia untuk menjadi bekal sepanjang kehidupan. Dari masjid-masjid kecil, dari TKA-TPA di sudut-sudut kampung, dari tangan para ustadz dan ustadzah yang tak pernah lelah membimbing, semoga lahir generasi Qur’ani yang kelak menerangi negeri. Mari siapkan santri terbaik.Mari kuatkan TKA-TPA.Mari bersama menyongsong FASI XIII DIY. Semoga setiap ikhtiar menjadi amal, setiap latihan menjadi pembelajaran, dan setiap langkah anak-anak kita menuju FASI menjadi jalan tumbuhnya generasi Qur’ani yang berakhlak, berprestasi, dan membawa cahaya bagi masa depan. BADKO TKA-TPADaerah Istimewa Yogyakarta
Baca Serunya!
273
Pendataan dan Updating Data TKA-TPA Tahap Kedua Resmi Dibuka, Mari Pastikan Setiap Unit Terdata
Yogyakarta — Sebuah langkah kecil dalam pendataan hari ini, bisa menjadi pijakan besar bagi masa depan pendidikan Al-Qur’an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah melalui proses pendataan tahap pertama, Badan Koordinasi TKA-TPA Provinsi DIY melalui Litbang Badko DIY kembali membuka Pendataan dan Updating Data TKA-TPA Tahap Kedua. Pendataan bukan sekadar mengisi data. Di balik setiap nama lembaga, alamat unit, jumlah santri, ustadz-ustadzah, serta berbagai informasi yang dicatat, ada cerita tentang perjuangan menjaga nyala Al-Qur’an di sudut-sudut kampung, masjid, mushala, dan lingkungan masyarakat di seluruh DIY. 1.141 Unit Telah Terdata pada Tahap Pertama Alhamdulillah, proses pendataan pada tahap pertama telah menghasilkan capaian yang menggembirakan. Sebanyak 1.141 unit TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta telah terdata dan sertifikat telah diterbitkan. Capaian tersebut tersebar di lima wilayah DIY, dengan rincian: Kabupaten Bantul: 338 unit Kabupaten Sleman: 302 unit Kabupaten Kulon Progo: 253 unit Kota Yogyakarta: 136 unit Kabupaten Gunungkidul: 112 unit Angka tersebut bukan sekadar angka. 1.141 unit berarti 1.141 ruang perjuangan, 1.141 tempat anak-anak belajar mengeja ayat demi ayat, dan 1.141 ikhtiar untuk menjaga generasi Qur’ani tetap tumbuh di Yogyakarta. Kini, perjalanan itu dilanjutkan. Tahap Kedua Resmi Dibuka Bagi seluruh unit TKA-TPA di DIY yang belum melakukan pendataan maupun yang perlu memperbarui data, diharapkan segera mengikuti Pendataan dan Updating Data Tahap Kedua. Berdasarkan pemberitahuan yang disampaikan, batas waktu pendaftaran dan updating data adalah: MAKSIMAL 30 OKTOBER 2026 Kesempatan ini menjadi momentum bagi setiap unit untuk memastikan bahwa data lembaganya tercatat secara akurat, lengkap, dan terpercaya. Sebab, data yang baik bukan hanya berguna untuk hari ini. Data tersebut menjadi bagian penting dalam membaca kondisi pendidikan Al-Qur’an di DIY, menyusun program pembinaan, menentukan arah kebijakan, serta menghadirkan pelayanan yang lebih tepat bagi lembaga-lembaga TKA-TPA. Mengapa Pendataan dan Updating Ini Penting? Pertama, menghadirkan data yang akurat.Data yang lengkap dan terpercaya akan membantu menggambarkan kondisi TKA-TPA di seluruh wilayah DIY secara lebih nyata. Kedua, membangun sistem yang lebih terintegrasi.Pendataan yang tertib akan memudahkan proses administrasi dan pengelolaan informasi lembaga. Ketiga, mendukung kebijakan yang tepat sasaran.Data yang kuat menjadi salah satu pijakan dalam menyusun program, pembinaan, dan berbagai kebijakan untuk kemajuan TKA-TPA. Keempat, memperkuat langkah bersama.Semakin lengkap unit yang terdata, semakin utuh pula gambaran gerakan pendidikan Al-Qur’an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena itu, kepada seluruh unit TKA-TPA di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta, mari jangan menunggu hingga batas waktu tiba. Segera lakukan pendaftaran dan updating data.Pastikan lembaga kita hadir dalam pendataan ini. Pastikan ikhtiar kita tercatat. Pastikan keberadaan TKA-TPA kita menjadi bagian dari peta besar perjuangan pendidikan Al-Qur’an di DIY. Mari menata data, meneguhkan langkah.Dari data yang akurat, lahir kebijakan yang tepat.Dari kebijakan yang tepat, tumbuh pembinaan yang kuat.Dan dari pembinaan yang kuat, insyaallah lahir generasi Qur’ani yang hebat. Semoga Pendataan dan Updating Data Tahap Kedua ini berjalan lancar, menjangkau seluruh unit TKA-TPA di DIY, serta menjadi jalan bagi semakin baiknya pembinaan dan pengembangan pendidikan Al-Qur’an. Ya Allah, berkahilah setiap langkah para ustadz dan ustadzah yang telah menjaga cahaya Al-Qur’an. Mudahkan setiap proses pendataan, sempurnakan ikhtiar ini, dan jadikan setiap data yang tercatat sebagai bagian dari amal jariyah untuk lahirnya generasi yang mencintai Al-Qur’an, mengamalkannya, dan meneruskan cahaya kebaikan kepada generasi berikutnya. Mari bersama melanjutkan langkah, menuju pendataan TKA-TPA DIY yang lebih akurat, terstruktur, dan bermanfaat. Pendataan & Updating Data TKA-TPA Tahap KeduaBatas akhir: 30 Oktober 2026Litbang Badko TKA-TPA DIY
Baca Serunya!
319
Semarakkan FASI XIII DIY, Badko TKA-TPA DIY Gelar Lomba Ekshibisi Seni Islami
Yogyakarta- Ada banyak cara untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada Islam. Salah satunya dengan memberi ruang kepada mereka untuk bernyanyi, bergerak, berekspresi, sekaligus menunjukkan bahwa menjadi generasi Qur’ani juga bisa dilakukan dengan penuh kegembiraan. Dalam rangka memeriahkan Festival Anak Sholih Indonesia (FASI) XIII DIY, Badko TKA-TPA DIY akan menyelenggarakan Lomba Ekshibisi yang menghadirkan dua cabang lomba, yakni Vocal Tunggal Lagu Islami dan Gerak Lagu Islami. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Ahad, 25 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai, bertempat di Gedung Quranic Center BADKO TKA-TPA DIY, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Bukan sekadar perlombaan, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bertumbuh bagi anak-anak untuk berani tampil, mengasah kreativitas, membangun kepercayaan diri, serta mengekspresikan kecintaan kepada Islam melalui seni yang indah dan mendidik. Di balik setiap lantunan suara dan setiap gerakan yang ditampilkan, ada keberanian seorang anak untuk melangkah ke depan. Ada proses belajar, latihan, kebersamaan, dan tentu saja doa dari orang tua, ustadz, ustadzah, serta para pembimbing. Menemukan Bakat, Menumbuhkan Keberanian Lomba Ekshibisi FASI XIII DIY juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk menemukan dan memberikan apresiasi kepada anak-anak yang memiliki potensi dalam bidang seni Islami. Sebab, setiap anak memiliki cahaya dan keistimewaannya masing-masing. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan cahaya itu, merawatnya dengan pendidikan dan keteladanan, kemudian memberinya ruang untuk bersinar. Lebih istimewa lagi, para peserta yang berhasil meraih juara akan mendapatkan kesempatan untuk tampil pada acara FASI XIII tingkat DIY, yang akan dilaksanakan pada Ahad, 8 November 2026, di Kompleks SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Kesempatan tersebut tentu bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak untuk tampil di panggung yang lebih luas, bertemu dengan generasi Qur’ani lainnya, dan membawa semangat seni Islami ke tengah perhelatan FASI XIII DIY. Pendaftaran Telah Dibuka Bagi peserta yang ingin mengikuti kegiatan ini, pendaftaran dibuka mulai 10 Agustus hingga 30 September 2026. Selanjutnya, technical meeting akan dilaksanakan pada Ahad, 4 Oktober 2026, bertempat di Quranic Center. Panitia juga telah menyiapkan trofi dan uang pembinaan bagi para peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi atas semangat, kreativitas, dan prestasi yang ditampilkan. Informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui: Kak Muchlis Umaidi: 0818259253 Kak Junendra Rohmad: 0878-6003-4953 Kak Uji Ikhtiarini Istiqomah: 0813-2641-2343 Semoga Menjadi Panggung Kebaikan Pada akhirnya, setiap panggung akan usai. Lampu akan dipadamkan, tepuk tangan akan berhenti, dan piala akan berpindah tangan. Namun, semoga nilai yang ditanamkan dalam kegiatan ini tidak pernah selesai. Semoga dari panggung sederhana ini lahir anak-anak yang semakin percaya diri, semakin mencintai seni Islami, semakin dekat dengan Al-Qur’an, serta tumbuh menjadi generasi yang cerdas dalam pikiran, indah dalam akhlak, dan kuat dalam pengabdian. Semoga setiap lantunan suara menjadi doa, setiap gerakan menjadi pesan kebaikan, setiap langkah menuju perlombaan menjadi bagian dari perjuangan, dan setiap pertemuan menjadi pintu silaturahmi yang membawa keberkahan. Mari ikut serta, saksikan, dan ramaikan Lomba Ekshibisi FASI XIII DIY. Karena anak-anak hari ini adalah wajah Yogyakarta dan Indonesia di masa depan. Dan melalui mereka, kita menitipkan sebuah harapan: lahirnya generasi Qur’ani yang tidak hanya mampu membaca ayat-ayat Allah, tetapi juga mampu menghadirkan keindahan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Seni Islami, Hati Berbakti, Generasi Qur’ani. Semoga Allah memberikan kelancaran, keberkahan, dan kesuksesan bagi seluruh rangkaian kegiatan ini. Semoga setiap anak yang hadir mendapatkan pengalaman terbaik, menemukan sahabat-sahabat baik, dan membawa pulang bukan hanya trofi, tetapi juga inspirasi dan kenangan indah yang menumbuhkan cinta kepada Al-Qur’an dan Islam. Aamiin.
Baca Serunya!
341
Belajar dari yang Terbaik, Bertumbuh untuk Umat: Menyibak Jejak Inspiratif TKA-TPA Al Muhsin Banaran, Kulon Progo
"Lembaga yang hebat bukan sekadar melahirkan santri yang pandai membaca Al-Qur'an, tetapi mampu menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Qur'an sepanjang hidupnya." Di sudut tenang Padukuhan Bunder Kulon, Banaran, Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. berdiri sebuah lembaga yang telah menemani perjalanan ribuan anak mengenal Kalamullah. Namanya Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Muhsin, rumah besar bagi TKA-TPA-TQA Al Muhsin yang selama lebih dari tiga dekade mengabdikan diri dalam pendidikan Al-Qur'an. Selama bertahun-tahun, seluruh halamannya menjadi saksi langkah-langkah kecil anak-anak yang datang dengan penuh rasa ingin tahu, lalu pulang membawa ayat demi ayat yang mulai bersemayam di hati mereka. Di tempat inilah huruf-huruf hijaiyah pertama kali dilafalkan, doa-doa dipanjatkan bersama, dan benih-benih cinta kepada Al-Qur'an ditanam sejak usia dini. Perjalanan panjang itu bukan sekadar dihitung dari angka tahun berdirinya. Ia tercermin dalam senyum para santri yang tumbuh penuh percaya diri, dalam doa-doa orang tua yang mengiringi setiap langkah anaknya, dalam ketulusan para ustadz dan ustadzah yang mengajar tanpa lelah, serta dalam berbagai prestasi yang lahir dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesabaran. Al Muhsin menjadi salah satu bukti bahwa sebuah TKA-TPA dapat tumbuh menjadi pusat pendidikan Al-Qur'an yang profesional dan terus berkembang, tanpa pernah kehilangan ruh dakwah, keikhlasan, dan semangat melayani umat. Awal Perjalanan yang Penuh Keikhlasan TKA-TPA-TQA Al Muhsin berdiri pada 2 Januari 1993 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Muhsin. Semua berawal dari sebuah niat sederhana, tetapi mulia: menghadirkan tempat bagi anak-anak untuk belajar Al-Qur'an sekaligus menanamkan akhlak, karakter, dan kecintaan kepada Islam sejak usia dini. Sejak awal, para pendiri menyadari bahwa mengajarkan Al-Qur'an bukan hanya soal membuat anak mampu membaca dengan benar. Jauh lebih penting adalah menumbuhkan hati yang mencintai Al-Qur'an, sehingga kelak ia menjadi cahaya yang membimbing perjalanan hidup mereka. Komitmen itulah yang terus dijaga hingga Al Muhsin memperoleh akreditasi A, sebuah pengakuan atas kualitas tata kelola dan proses pembelajaran yang dilakukan secara konsisten. Perjalanan itu pun semakin bermakna ketika pada tahun 2012, Al Muhsin dinobatkan sebagai TKA-TPA Percontohan Terbaik dalam Lomba Administrasi dan Manajemen Pengelolaan TKA-TPA se-DIY. Sebuah penghargaan yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pelayanan terbaik selalu lahir dari kerja yang tertata, sungguh-sungguh, dan penuh tanggung jawab. Bukan Hanya TKA-TPA Seiring waktu, YPI Al Muhsin terus berkembang menjadi lingkungan pendidikan Islam yang saling menguatkan. Di dalamnya terdapat: Madrasah Diniyah, sebagai tempat memperdalam ilmu agama yang telah memiliki izin operasional dan menorehkan berbagai prestasi. Masjid Al Hikmah, yang menjadi pusat ibadah, kajian, pembinaan masyarakat, hingga berbagai kegiatan keislaman. Majelis Taklim Al Husna, ruang belajar bagi para orang tua dan masyarakat agar semangat menuntut ilmu terus hidup di setiap tahap kehidupan. Di sinilah pendidikan tidak berhenti pada anak-anak. Orang tua ikut belajar, masyarakat ikut bertumbuh, dan masjid menjadi pusat kehidupan yang menghidupkan lingkungan sekitarnya. Sebuah gambaran indah tentang pendidikan Islam yang tumbuh bersama keluarga dan masyarakat. Dipimpin oleh Orang-Orang yang Mengabdi Di balik perjalanan panjang Al Muhsin, ada banyak tangan yang bekerja dalam diam dan hati yang memilih untuk terus mengabdi. Di jajaran kepengurusan adalah : H. Maryanto, S.Ag. sebagai Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Muhsin, yang menjaga arah perjuangan dan nilai-nilai yang menjadi ruh lembaga. H. Ari Gunawan, M.Pd.I. sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Muhsin, yang terus menggerakkan organisasi agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur'an. Firman Ashofa, S.Pd. sebagai Direktur TKA-TPA-TQA Al Muhsin, yang memimpin pengelolaan pendidikan sehari-hari, membina para guru, dan memastikan setiap santri memperoleh layanan pendidikan terbaik. Jajaran Pengurus Al Muhsin Kulonprogo Namun sesungguhnya, kemajuan sebuah lembaga tidak pernah dibangun oleh satu atau dua orang saja. Ia tumbuh dari semangat kebersamaan seluruh ustadz, ustadzah, pengurus, wali santri, dan masyarakat yang percaya bahwa pendidikan Al-Qur'an adalah investasi terbaik bagi masa depan umat. Visi yang Menjadi Cahaya Perjalanan Al Muhsin memiliki visi yang sangat indah, "Menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul dalam membentuk generasi Qur'ani berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan cinta Al-Qur'an serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah." Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai misi, antara lain: menanamkan iman dan ketakwaan sejak usia dini melalui pembelajaran Al-Qur'an yang menyenangkan; mengembangkan kemampuan membaca, menulis, menghafal, memahami, hingga mengamalkan Al-Qur'an; membentuk karakter Islami melalui keteladanan dan pembiasaan; mengembangkan potensi intelektual, spiritual, dan sosial santri secara seimbang; melatih jiwa kepemimpinan, kemandirian, serta semangat berprestasi; membangun lingkungan belajar yang religius, aman, ramah anak, serta bersinergi bersama keluarga dan masyarakat. Semua itu bukan sekadar kalimat yang tertulis dalam dokumen lembaga. Nilai-nilai tersebut hadir dalam setiap pertemuan belajar, dalam setiap hafalan yang disetorkan, dalam setiap salam yang diajarkan, dan dalam setiap kebiasaan baik yang terus ditumbuhkan hari demi hari. Pilihan Program yang Menyesuaikan Kebutuhan Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, begitu pula setiap keluarga memiliki kebutuhan yang tidak selalu sama. Karena itu Al Muhsin menghadirkan berbagai pilihan program agar setiap santri dapat belajar sesuai kondisi dan kemampuannya. Program Reguler Belajar tiga kali setiap pekan pada sore hari. Program Semi Pondok Belajar enam kali dalam sepekan pada malam hari. Program Pondok Khusus Program intensif dengan pembelajaran enam kali dalam seminggu disertai sistem muqim pada akhir pekan sebagai penguatan hafalan, karakter, dan pembiasaan ibadah. Selain itu tersedia jenjang pembelajaran yang berkesinambungan: TKA untuk santri usia di bawah tujuh tahun. TPA bagi santri usia di atas tujuh tahun. TQA sebagai pendalaman Al-Qur'an. Madrasah Diniyah untuk penguatan ilmu agama. Pondok Khusus Tahfidz bagi santri yang ingin lebih fokus menghafal Al-Qur'an. Dengan sistem seperti ini, setiap anak memperoleh ruang untuk bertumbuh sesuai tahap usianya, tanpa kehilangan kesempatan mengembangkan potensi terbaik yang Allah titipkan. Santri yang Terus Bertambah Pada tahun pelajaran 2025/2026, Al Muhsin membina 413 santri, dengan 79 santri baru. Angka-angka itu tentu membanggakan. Namun sesungguhnya, yang lebih berharga adalah kepercayaan yang tersimpan di balik setiap angka tersebut. Ada ratusan orang tua yang menitipkan amanah terbesar dalam hidup mereka. Ada harapan agar anak-anak mereka kelak tumbuh menjadi generasi Qur'ani yang mampu menjaga agama, membahagiakan keluarga, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Kepercayaan seperti itulah yang menjadi kekuatan terbesar bagi Al Muhsin untuk terus berbenah. Guru yang Terus Belajar Al Muhsin meyakini bahwa kualitas sebuah lembaga tidak akan pernah melampaui kualitas para pendidiknya. Karena itulah para ustadz dan ustadzah terus didorong untuk belajar, mengikuti pembinaan, dan meningkatkan kompetensi. Banyak di antaranya telah memiliki Syahadah Tartil pada berbagai jenjang. Semangat belajar para guru menjadi teladan bagi para santri. Sebab seorang pendidik yang terus belajar akan melahirkan generasi yang juga mencintai proses belajar sepanjang hayat. Prestasi yang Terus Mengalir Prestasi tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Ia lahir dari doa yang tidak pernah putus, latihan yang terus diulang, kesabaran dalam membimbing, dan kerja sama yang terjalin selama bertahun-tahun. Al Muhsin berhasil meraih berbagai penghargaan, di antaranya: Juara Umum FASI XII Rayon Galur. Juara Umum FASI XII Kabupaten Kulon Progo. Berbagai kejuaraan FASI tingkat Provinsi DIY. Prestasi PORSADIN tingkat Kabupaten dan Provinsi. Prestasi Tapak Suci dalam berbagai kejuaraan. Mengirimkan delegasi DIY pada FASI Nasional, PORSADIN Nasional, hingga MTQ Tingkat Nasional. Setiap piala tentu membanggakan. Namun yang lebih membanggakan adalah proses yang membentuk anak-anak menjadi pribadi yang disiplin, percaya diri, berani mencoba, dan siap memberikan yang terbaik. Aktivitas yang Membentuk Karakter Belajar di Al Muhsin tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Santri dibiasakan mengikuti berbagai kegiatan seperti pembelajaran harian, tasmi' hafalan, khataman, ujian santri, pengajian bersama, takbir keliling, kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan lomba, pertemuan santri se-rayon, wisuda santri, hingga berbagai ajang perlombaan. Di balik setiap kegiatan itu, sesungguhnya sedang dibangun karakter. Anak-anak belajar menghargai waktu, berani tampil di depan orang lain, bekerja sama, bertanggung jawab, dan membiasakan diri mencintai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Saatnya Mengagendakan Study Tiru Apa yang dilakukan Al Muhsin menjadi pengingat bahwa sebuah TKA-TPA dapat berkembang ketika dikelola dengan sungguh-sungguh, didukung guru-guru yang terus belajar, kurikulum yang terarah, serta kepercayaan masyarakat yang terus dijaga. Karena itu, bagi para pengelola TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun daerah lainnya, sudah saatnya menjadikan study tiru sebagai budaya bersama. Salah satu lembaga yang layak dikunjungi adalah TKA-TPA Al Muhsin Banaran. Study tiru bukan untuk menyalin apa yang dilakukan orang lain. Ia adalah kesempatan untuk saling belajar, saling menguatkan, berbagi pengalaman, lalu mengembangkannya sesuai kebutuhan masing-masing lembaga. Sebab ketika satu lembaga bertumbuh, sesungguhnya yang ikut bertumbuh adalah pendidikan Al-Qur'an kita bersama. Bertumbuh Bersama BADKO TKA-TPA DIY Kemajuan satu lembaga sejatinya adalah kebahagiaan bagi semua. Ketika satu TKA-TPA berkembang, harapan baru ikut tumbuh di tempat-tempat lain. BADKO TKA-TPA DIY terus menghidupkan semangat berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, dan membangun kolaborasi agar pendidikan Al-Qur'an di Yogyakarta semakin maju tanpa kehilangan ruh dakwah yang menjadi jiwanya. Harapannya, semakin banyak TKA-TPA yang tumbuh menjadi lembaga unggulan, melahirkan generasi Qur'ani yang cerdas, berakhlak mulia, serta menjadi cahaya yang menerangi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mari terus belajar, saling menguatkan, dan melangkah bersama. Sebab setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini mungkin sedang menyiapkan lahirnya generasi yang kelak menjaga Al-Qur'an, menjaga umat, dan menjaga negeri ini. Nantikan pula liputan profil lembaga TKA-TPA lainnya di bawah naungan BADKO TKA-TPA DIY. Semoga setiap kisah yang dihadirkan bukan sekadar menjadi informasi, tetapi juga menghadirkan inspirasi, mempererat ukhuwah, menjadi bahan belajar bersama, dan menyalakan semangat untuk terus menghadirkan pendidikan Al-Qur'an terbaik bagi generasi penerus bangsa.
Baca Serunya!
98
Mahfudzat
Berikut adalah kumpulan mahfudzat pilihan yang sangat cocok untuk anak-anak TPA/TPQ. Kalimat-kalimat ini pendek, mudah dihafal, dan mengandung nilai akhlak, semangat belajar, kejujuran, serta adab sehari-hari. Mahfudzat merupakan salah satu metode pendidikan karakter yang telah lama digunakan di pesantren dan lembaga pendidikan Islam. No Mahfudzat (Arab) Arti 1 مَنْ جَدَّ وَجَدَ Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan berhasil. 2 مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ Barang siapa bersabar, ia akan beruntung. 3 مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ Barang siapa menempuh jalan yang benar, ia akan sampai tujuan. 4 الْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ Waktu bagaikan pedang. Jika tidak kau manfaatkan, ia akan merugikanmu. 5 النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيمَانِ Kebersihan adalah bagian dari iman. 6 الْأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ Adab lebih utama daripada ilmu. 7 خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. 8 الصِّدْقُ يَنْجِي وَالْكَذِبُ يُهْلِكُ Kejujuran menyelamatkan, sedangkan dusta membinasakan. 9 الْعِلْمُ نُورٌ Ilmu adalah cahaya. 10 الْأَمَانَةُ كَنْزٌ Amanah adalah harta yang berharga. 11 الْحَيَاءُ زِينَةٌ Rasa malu (yang baik) adalah perhiasan. 12 الْعِلْمُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْحَجَرِ Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu. 13 لَا تُؤَجِّلْ عَمَلَ الْيَوْمِ إِلَى الْغَدِ Jangan menunda pekerjaan hari ini sampai besok. 14 خَيْرُ الْجَلِيسِ الْكِتَابُ Sebaik-baik teman adalah buku. 15 مَنْ زَرَعَ حَصَدَ Barang siapa menanam, ia akan menuai hasilnya. 16 الْكَسَلُ عَدُوُّ النَّجَاحِ Malas adalah musuh keberhasilan. 17 رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ Rida Allah ada pada rida kedua orang tua. 18 التَّوَاضُعُ يَرْفَعُ صَاحِبَهُ Rendah hati akan mengangkat derajat seseorang. 19 لِكُلِّ مُجْتَهِدٍ نَصِيبٌ Setiap orang yang bersungguh-sungguh akan memperoleh hasil. 20 بِالْأَخْلَاقِ تَسْمُو الْأُمَمُ Dengan akhlak yang mulia, suatu bangsa menjadi luhur. Kumpulan ini sangat cocok dijadikan hafalan mingguan selama satu semester di TPA. Setiap mahfudzat dapat disertai cerita singkat, permainan, atau teladan sehari-hari agar anak tidak hanya hafal, tetapi juga memahami dan mengamalkannya.
Baca Serunya!
321
Rapat Pengurus Harian BADKO TKA TPA DIY: Menata Langkah, Menguatkan Khidmah untuk Al-Qur'an
Yogyakarta – Di balik setiap langkah besar, selalu ada ruang musyawarah yang menjadi tempat bertemunya gagasan, harapan, dan doa. Ahad sore, 2 Agustus 2026, Pengurus Harian BADKO TKA TPA Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul di Gedung Qur'anic Center BADKO TKA TPA DIY dalam sebuah rapat yang tidak sekadar membahas agenda organisasi, tetapi juga menata arah perjuangan dakwah Al-Qur'an agar semakin kokoh dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Suasana rapat berlangsung hangat, penuh semangat ukhuwah, serta dilandasi niat yang sama: menghadirkan pelayanan terbaik bagi lembaga-lembaga TKA TPA di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebab, sebuah organisasi yang tumbuh bukan hanya ditentukan oleh besarnya cita-cita, melainkan juga oleh kesungguhan dalam mengelola setiap amanah yang diemban. Salah satu pembahasan penting dalam rapat kali ini adalah rencana rekrutmen karyawan untuk mengoptimalkan pelayanan dan tata kelola Kantor Kesekretariatan BADKO TKA TPA DIY. Kehadiran sumber daya yang profesional diharapkan mampu memperkuat administrasi, meningkatkan kualitas layanan, serta mendukung berbagai program dakwah dan pembinaan yang terus berkembang. Ibarat sebuah rumah, sekretariat adalah ruang tempat segala urusan bermula dan bermuara. Ketika ruang itu tertata dengan baik, maka pelayanan kepada umat pun akan semakin baik. Oleh karena itu, BADKO TKA TPA DIY mulai mempersiapkan langkah-langkah terbaik agar kesekretariatan mampu menjadi pusat layanan yang lebih efektif, responsif, dan profesional. Bagi sahabat-sahabat yang memiliki semangat berkhidmah, senang bekerja dalam dunia pelayanan, serta ingin mengambil bagian dalam perjuangan membumikan Al-Qur'an, insya Allah dalam waktu dekat akan dibuka kesempatan untuk bergabung sebagai bagian dari keluarga besar BADKO TKA TPA DIY. Barangkali inilah jalan Allah mempertemukan niat baik dengan ladang amal yang luas. Nantikan informasi resmi mengenai persyaratan dan mekanisme pendaftaran pada pengumuman berikutnya. Selain membahas penguatan kesekretariatan, rapat juga mematangkan berbagai persiapan menjelang Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Forum pleno ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi, menyelaraskan program kerja, sekaligus memperkuat sinergi antar BADKO Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada pelaksanaan pleno kali ini, BADKO Kabupaten Bantul mendapat amanah sebagai tuan rumah. Sebuah kepercayaan yang diharapkan menjadi ruang silaturahmi, kolaborasi, serta penyatuan langkah dalam menghadirkan pelayanan terbaik bagi para guru Al-Qur'an, santri, dan lembaga TKA TPA di seluruh DIY. Seperti seorang penyiar yang mengabarkan fajar kepada para pendengarnya, BADKO TKA TPA DIY ingin terus menyampaikan kabar-kabar yang menumbuhkan harapan. Sebab setiap rapat bukanlah sekadar pertemuan, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi pendidikan Al-Qur'an. Setiap keputusan yang lahir adalah ikatan amanah, setiap langkah yang disepakati adalah titipan perjuangan, dan setiap doa yang terpanjat menjadi penguat agar Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan dalam setiap ikhtiar. Semoga setiap langkah yang dirancang hari ini menjadi sebab lahirnya generasi Qur'ani yang lebih kuat, lembaga yang semakin maju, dan pelayanan yang semakin dirasakan manfaatnya oleh umat. Aamiin.
Baca Serunya!
128
Menata Data, Meneguhkan Langkah: Badko TKA-TPA DIY Menuntaskan Tahap Pertama Updating Data Unit Tahun 2026
Yogyakarta, 31 Juli 2026 — Ikhtiar besar untuk membangun tata kelola TKA-TPA yang semakin tertib, akurat, dan berdaya saing resmi memasuki babak baru. Badan Koordinasi (BADKO) TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta telah menutup tahap pertama Updating Data Unit TKA-TPA pada Jumat, 31 Juli 2026, sebagai fondasi awal dalam membangun Sistem Informasi Data Unit yang lebih terintegrasi, modern, dan terpercaya. Melalui proses pembaruan data ini, setiap angka yang tercatat bukan sekadar deretan statistik. Ia adalah jejak pengabdian. Ia adalah kisah ribuan langkah para ustadz dan ustadzah yang setia mengajarkan huruf-huruf Al-Qur'an, senyum para santri yang tumbuh bersama cahaya ilmu, serta semangat para pegiat dakwah yang tanpa lelah menjaga keberlangsungan TKA-TPA di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil pembaruan tahap pertama menunjukkan potret yang menggembirakan. Tercatat 1.321 unit TKA-TPA, dengan 1.141 unit aktif, menaungi 57.828 santri yang dibimbing oleh 9.140 ustadz dan ustadzah. Di sisi lain, proses peningkatan mutu juga terus berjalan, ditandai dengan 206 unit yang telah menyelesaikan proses akreditasi. Data ini menjadi amanah sekaligus pijakan untuk melangkah lebih mantap dalam menyusun program pembinaan, pelatihan, akreditasi, sertifikasi, hingga pelayanan yang semakin tepat sasaran. BADKO TKA-TPA DIY menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak yang telah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam menyukseskan updating data ini. Terima kasih kepada segenap pengurus Unit TKA-TPA, BADKO Rayon, BADKO Daerah/Kabupaten/Kota, hingga BADKO Wilayah DIY yang telah bergandengan tangan, saling menguatkan, dan bekerja dengan penuh tanggung jawab. Semoga setiap isian data yang diperbarui menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir, karena di balik setiap data tersimpan harapan bagi masa depan pendidikan Al-Qur'an. Perjalanan ini tentu belum berakhir. Updating data bukan sekadar kegiatan administrasi, melainkan gerakan bersama untuk menghadirkan tata kelola lembaga yang semakin profesional, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Data yang akurat akan menjadi kompas dalam menentukan arah kebijakan, memperluas pembinaan, mempercepat pelayanan, dan memperkuat sinergi antarunit di seluruh DIY. Kepada seluruh keluarga besar TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta, mari terus menjaga semangat ini. Bagi unit yang telah menyelesaikan pembaruan data, semoga istiqamah dalam menjaga validitas dan kualitas lembaganya. Bagi yang masih memiliki hal-hal yang perlu disempurnakan pada tahapan berikutnya, jangan pernah berkecil hati. Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bagian dari ikhtiar besar dalam memuliakan Al-Qur'an dan generasi penerus umat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada seluruh santri, para ustadz dan ustadzah, pengurus unit, serta seluruh aktivis TKA-TPA se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Semoga setiap huruf Al-Qur'an yang diajarkan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, setiap tetes keringat menjadi saksi pengabdian, setiap langkah menjadi jalan menuju ridha-Nya, dan setiap lembaga TKA-TPA semakin kokoh menjadi taman tumbuhnya generasi Qur'ani yang berakhlak mulia, berilmu, dan membawa manfaat bagi agama, bangsa, serta peradaban. "Merapikan data hari ini adalah menata masa depan pendidikan Al-Qur'an. Sebab dari data yang benar, lahirlah kebijakan yang tepat; dari kebersamaan yang erat, tumbuhlah peradaban yang kuat."
Baca Serunya!
111
BADKO TKA-TPA DIY Mantapkan Sinergi Daerah demi Suksesnya FASI XIII
Yogyakarta — Semangat kebersamaan dan ikhtiar untuk menghadirkan Festival Anak Shalih Indonesia (FASI) XIII yang berkualitas terus diperkuat oleh Badan Koordinasi TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Sabtu (1/8/2026), Pengurus BADKO TKA-TPA DIY menggelar Rapat Koordinasi bersama Ketua Umum BADKO Kabupaten/Kota se-DI Yogyakarta yang bertempat di Sekretariat Bersama BADKO TKA-TPA Kota Yogyakarta, Kompleks Masjid Diponegoro, Balai Kota Yogyakarta. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari undangan resmi BADKO DIY sekaligus forum koordinasi pelaksanaan FASI XIII di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Rapat berlangsung dalam suasana hangat, penuh semangat ukhuwah, dan dilandasi tekad yang sama untuk menghadirkan FASI XIII sebagai ajang pembinaan generasi Al-Qur'an yang tidak hanya sukses dalam penyelenggaraan, tetapi juga mampu menjadi media syiar Islam, penguatan karakter, serta mempererat silaturahmi antarlembaga TKA-TPA di seluruh DIY. Agenda utama pertemuan diawali dengan laporan dari masing-masing BADKO Kabupaten/Kota mengenai perkembangan dan kesiapan pelaksanaan FASI di tingkat daerah. Setiap daerah menyampaikan progres persiapan, koordinasi kepanitiaan, kesiapan peserta, lokasi kegiatan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus saling menguatkan agar setiap daerah dapat menyelenggarakan FASI dengan sebaik-baiknya. Selain itu, rapat juga membahas tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tentang dukungan terhadap penyelenggaraan FASI XIII. Surat edaran tersebut menjadi energi positif untuk memperluas sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan Al-Qur'an, serta seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan perhelatan akbar yang menjadi wadah pembinaan santri TKA-TPA ini. Ketua Umum BADKO TKA-TPA DIY mengajak seluruh pengurus daerah agar terus memperkuat koordinasi, menjaga kekompakan, dan mengedepankan semangat melayani demi menghadirkan FASI XIII yang berkesan bagi seluruh peserta. FASI bukan sekadar perlombaan, melainkan momentum menanamkan kecintaan kepada Al-Qur'an, membangun ukhuwah, serta melahirkan generasi Qur'ani yang berakhlak mulia. Melalui kesempatan ini, BADKO TKA-TPA DIY juga mengajak seluruh pihak untuk turut memberikan doa, dukungan, dan partisipasi nyata demi kesuksesan FASI XIII. Dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, para ustadz dan ustadzah, wali santri, dunia usaha, para dermawan, serta seluruh masyarakat akan menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan penyelenggaraan FASI yang tertib, meriah, dan penuh keberkahan. Semoga ikhtiar bersama ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir, menghadirkan senyum bagi para santri, menguatkan perjuangan para pendidik Al-Qur'an, serta menjadi bagian dari langkah besar membangun generasi Qur'ani yang akan menerangi masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia.
Baca Serunya!
398
Sedekah Subuh Jogja: Ketika Fajar Menjadi Awal Harapan Ribuan Santri
Yogyakarta — Setiap fajar selalu membawa harapan baru. Di saat langit masih berbalut semburat jingga dan doa-doa dipanjatkan dalam keheningan, ada satu amalan sederhana yang diyakini mampu menghadirkan keberkahan luar biasa: sedekah subuh. Berangkat dari semangat itulah, UPZ BADKO TKA-TPA DIY menghadirkan Gerakan Sedekah Subuh Jogja, sebuah gerakan kolaboratif yang mengajak seluruh keluarga besar Al-Qur'an untuk menjadikan sedekah sebagai kebiasaan mulia yang dilakukan setiap pagi. Bukan sekadar menghimpun donasi, gerakan ini hadir untuk menumbuhkan budaya berbagi, menguatkan dakwah Al-Qur'an, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat. Di balik setiap rupiah yang dititipkan, tersimpan harapan seorang santri untuk terus belajar, semangat seorang ustadz dan ustadzah untuk terus mengajar, serta doa-doa dari mereka yang mendambakan kehidupan yang lebih baik. Menanam Kebaikan, Menuai Keberkahan Gerakan Sedekah Subuh lahir sebagai ikhtiar memperkuat dakwah Al-Qur'an melalui penghimpunan infak dan sedekah yang dikelola secara amanah, transparan, dan produktif. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk mendukung berbagai program dakwah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, di antaranya: Beasiswa bagi santri yang membutuhkan. Pembinaan, pelatihan, dan peningkatan kompetensi ustadz dan ustadzah TKA-TPA. Penguatan kelembagaan unit-unit TKA-TPA. Santunan bagi anak yatim, piatu, dhuafa, dan keluarga yang membutuhkan. Pengadaan buku Iqra', Al-Qur'an, serta sarana pembelajaran. Program kemanusiaan dan pemberdayaan umat. Berbagai program dakwah Al-Qur'an lainnya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Lebih dari sekadar membantu memenuhi kebutuhan, setiap sedekah yang ditunaikan menjadi investasi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya. Sebab, setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca oleh seorang santri, setiap ilmu yang diajarkan seorang guru, dan setiap senyum yang kembali merekah di wajah mereka yang membutuhkan, akan menjadi bagian dari jejak kebaikan para dermawan. Dari Kebiasaan Menjadi Budaya Gerakan ini juga membawa misi yang lebih besar: membangun budaya bersedekah secara rutin di tengah masyarakat. Kebaikan tidak selalu lahir karena keadaan yang mudah. Ia tumbuh karena terus dilatih, diulang, dan dijaga. Sedekah Subuh Jogja ingin menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling mengingatkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya, dan menolong tidak harus menunggu mampu sepenuhnya. Satu langkah kecil yang dilakukan setiap pagi dapat menjadi cahaya bagi banyak kehidupan. Harapannya, Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak hanya dikenal sebagai gerakan penghimpunan sedekah, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan karakter dermawan, mempererat ukhuwah, serta menjadikan semangat berbagi sebagai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Siap Diluncurkan Menyapa Seluruh Keluarga Besar Al-Qur'an Gerakan Sedekah Subuh Jogja akan memulai soft launching pada awal Agustus 2026 melalui sosialisasi kepada jajaran Pengurus BADKO TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya, grand launching direncanakan berlangsung dalam kegiatan Pleno BADKO TKA-TPA DIY yang insyaallah akan diselenggarakan di Kabupaten Bantul. Tahapan ini menjadi awal perjalanan sebuah gerakan yang diharapkan terus bertumbuh dan menginspirasi masyarakat luas. Menggerakkan Ribuan Hati Sasaran utama gerakan ini adalah seluruh keluarga besar TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari Pengurus BADKO TKA-TPA DIY, pengurus BADKO kota dan kabupaten, pengurus rayon, unit-unit TKA-TPA, ustadz dan ustadzah, wali santri, hingga seluruh pegiat dakwah Al-Qur'an. Ke depan, Gerakan Sedekah Subuh Jogja diharapkan mampu menjangkau masyarakat umum sehingga manfaat sedekah dapat dirasakan lebih luas, memperkuat kepedulian sosial, serta menghadirkan dampak nyata bagi kesejahteraan umat. Bersama Menghidupkan Cahaya Subuh Gerakan ini dikoordinasikan oleh Yuliana Azizah, S.M. bersama jajaran pengurus UPZ BADKO TKA-TPA DIY, yang berkomitmen membangun sistem penghimpunan dan penyaluran sedekah secara profesional, amanah, dan berorientasi pada kemanfaatan jangka panjang. Mereka percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah. Dan mungkin, salah satu langkah kecil itu adalah sedekah yang kita sisihkan setiap selesai menunaikan salat Subuh. Saatnya Menjadi Bagian dari Gerakan Kebaikan Bayangkan ketika satu sedekah kecil mampu menghadirkan satu mushaf Al-Qur'an, membantu seorang santri tetap belajar, menguatkan seorang ustadz untuk terus mengajar, atau menguatkan keluarga yang sedang diuji kehidupan. Bayangkan jika ribuan orang melakukannya setiap pagi. Maka yang lahir bukan sekadar kumpulan donasi, melainkan gelombang kebaikan yang terus bergerak, menyinari Yogyakarta, menguatkan dakwah Al-Qur'an, dan mengalirkan manfaat hingga ke masa depan. Karena setiap fajar adalah kesempatan baru. Karena setiap sedekah adalah harapan yang dititipkan kepada Allah. Mari menjadi bagian dari Gerakan Sedekah Subuh Jogja. Mari mengawali pagi dengan berbagi, menebar manfaat, dan bersama menghidupkan cahaya Al-Qur'an untuk Indonesia yang lebih berkeadaban.
Baca Serunya!
446
FASI XIII Rayon Banguntapan: Menyemai Cahaya Al-Qur'an, Menumbuhkan Generasi Rabbani
Banguntapan, Bantul — Ahad, 26 Juli 2026, halaman dan ruang-ruang belajar SMA Negeri 2 Banguntapan menjelma menjadi taman peradaban yang dipenuhi lantunan ayat suci, senyum para santri, serta semangat para pendidik. Di tempat inilah Festival Anak Sholih (FASI) XIII Tingkat Rayon Banguntapan diselenggarakan dengan penuh khidmat sebagai ruang bertumbuhnya generasi Qur'ani yang kelak akan menjadi pelita bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Sebanyak 475 peserta dari berbagai TKA-TPA se-Rayon Banguntapan hadir membawa harapan terbaik. Mereka bukan sekadar datang untuk mengikuti perlombaan, melainkan membawa mimpi, doa orang tua, serta ikhtiar para ustaz dan ustazah yang selama ini dengan sabar menanamkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam setiap langkah kehidupan. Ketua Rayon Banguntapan, Muhammad Fadli, M.Pd. , dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya FASI XIII dengan dukungan berbagai pihak. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan festival ini sebagai ajang mempererat ukhuwah, membangun kepercayaan diri, serta mengukir prestasi dengan tetap menjunjung tinggi akhlak mulia. Baginya, kemenangan sejati bukan semata-mata berdiri di atas podium, tetapi ketika setiap anak pulang dengan membawa semangat untuk semakin mencintai Al-Qur'an. Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia FASI XIII Rayon Banguntapan, Andre Bangun Prabowo, S.Kom., memberikan apresiasi atas semangat seluruh panitia, para pembina TKA-TPA, orang tua, dan peserta yang telah bersama-sama menyukseskan penyelenggaraan FASI XIII. Beliau berharap festival ini menjadi wasilah untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam kompetisi, tetapi juga kokoh dalam iman, indah dalam akhlak, serta siap menjadi penerus perjuangan dakwah Al-Qur'an di masa depan. Dalam menjaga kualitas dan objektivitas perlombaan, jajaran BADKO TKA-TPA Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta turut mengambil bagian sebagai dewan juri. Di antaranya Muhadi Hidayat, Nihayaturruhama', Junendra, Yuliana Azizah, Didik Setiawan, Prayitna, Muhammad Dahlan, serta jajaran pengurus BADKO TKA-TPA DIY lainnya. Kehadiran para dewan juri menjadi wujud komitmen bersama untuk menghadirkan penilaian yang profesional, objektif, sekaligus mendidik bagi seluruh peserta. Lebih dari sekadar kompetisi, FASI XIII merupakan perjumpaan indah antara ilmu, akhlak, dan persaudaraan. Di setiap lantunan ayat, tersimpan harapan agar Al-Qur'an senantiasa hidup dalam hati anak-anak. Di setiap senyum peserta, terpancar optimisme bahwa estafet dakwah akan terus berlanjut melalui generasi yang tumbuh dengan iman, ilmu, dan amal. Semoga Festival Anak Sholih XIII Tingkat Rayon Banguntapan menjadi langkah kecil yang melahirkan perubahan besar. Dari Banguntapan, cahaya Al-Qur'an kembali dipancarkan, menerangi hati, menguatkan langkah, dan menghidupkan harapan bahwa masa depan umat sedang dipersiapkan melalui tangan-tangan mungil para santri hari ini. "Sebab peradaban tidak lahir hanya dari tingginya ilmu pengetahuan, tetapi juga dari hati-hati yang mencintai Al-Qur'an. Dan di setiap langkah anak-anak yang belajar mengaji, sesungguhnya sedang tumbuh cahaya yang akan menerangi masa depan negeri."
Baca Serunya!Galeri Foto Ceria
Video Keseruan Kita
Tanya Jawab Ceria (FAQ)
Informasi umum & jawaban pertanyaan seputar Badko TKA-TPA DIY