Kabar Santri Terbaru
43
Sedekah Air, Menguatkan Harapan di Tengah Kekeringan: Komunitas Sedekah Subuh Jogja Salurkan 25 Tangki Air Bersih untuk Purwosari dan Panggang
GUNUNGKIDUL — Di tengah kemarau yang menghadirkan keterbatasan air bersih bagi masyarakat, kepedulian tumbuh menjadi sumber harapan. Melalui gerakan berbagi yang berangkat dari ketulusan dan semangat gotong royong, Komunitas Sedekah Subuh Jogja, salah satu program di bawah Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badko TKA-TPA DIY, menginisiasi kegiatan penyaluran air bersih bagi masyarakat di wilayah Purwosari dan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Sebanyak 25 tangki air bersih disiapkan untuk didistribusikan secara bertahap kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyerahan secara simbolis dilaksanakan di Masjid Nurul Huda, Dringo, Girijati, Purwosari, Gunungkidul. Dalam seremoni tersebut, empat tangki air bersih disiapkan sebagai bagian dari penanda dimulainya ikhtiar bersama untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Bantuan ini merupakan hasil penghimpunan kepedulian dari Komunitas Sedekah Subuh Jogja bersama PRA Prenggan Kotagede. Keduanya menyatukan semangat berbagi dalam sebuah gerakan yang sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi warga yang tengah menghadapi kesulitan memperoleh air bersih. Bagi sebagian orang, air mungkin begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga kehadirannya kerap luput dari perhatian. Namun, bagi masyarakat yang sedang mengalami kekeringan, setetes air dapat menjadi jawaban atas kecemasan, penawar kegelisahan, sekaligus penguat keyakinan untuk terus menjalani hari. Hadir bersama, menguatkan kepedulian Kegiatan penyerahan simbolis tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Badko TKA-TPA Wilayah DIY, Bapak H. Suprapto, S.Ag., M.A., beserta jajaran; Ketua UPZ Badko TKA-TPA DIY, Bapak Muchlis Umaidi, beserta jajaran Komunitas Sedekah Subuh Jogja; serta Ketua Umum Badko TKA-TPA Daerah Gunungkidul, Bapak Arif Tyas Firitiyanto, beserta jajaran. Turut hadir takmir Masjid Nurul Huda, kepala dukuh, Ketua Badko Rayon Panggang, jamaah setempat, serta para santri TKA-TPA Nurul Huda dan TPA Daarul Hidayah. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial merupakan ruang perjumpaan yang menyatukan banyak pihak, melampaui batas organisasi dan peran masing-masing. Masjid menjadi tempat bertemunya niat baik, masyarakat menjadi penerima manfaat, dan air bersih menjadi perantara hadirnya kebahagiaan yang dapat dirasakan secara langsung. Sedekah air, amal yang menghidupkan Dalam kesempatan tersebut, Bapak Arif Tyas Firitiyanto menyampaikan pesan tentang keutamaan sedekah air. Menurutnya, air bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan juga kebutuhan mendasar yang menentukan keberlangsungan kehidupan. Ketika air sulit diperoleh, bantuan air bersih menjadi bentuk kepedulian yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Pesan tersebut sejalan dengan sebuah hadis ketika Sa'ad bin Ubadah r.a. bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sedekah yang paling utama. Rasulullah ﷺ menjawab: سَقْيُ الْمَاءِ “Memberi minum (menyediakan air).” (HR. Abu Dawud, no. 1679; dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis). Pesan singkat tersebut mengandung pelajaran yang mendalam: kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar dan mewah. Terkadang, menyediakan sesuatu yang paling dibutuhkan sesama justru menjadi amal yang sangat berarti. Air yang dialirkan dapat menghidupkan kembali harapan. Air yang dibagikan dapat meringankan beban keluarga. Dan air yang disedekahkan dapat menjadi saksi bahwa di tengah kesulitan, masih ada tangan-tangan yang tergerak untuk menolong. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk melihat bahwa sedekah bukan hanya tentang seberapa banyak yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa dekat pemberian itu menjawab kebutuhan orang lain. Membangun kebiasaan baik melalui Sedekah Subuh Koordinator Komunitas Sedekah Subuh Jogja, Ibu Yuliana Azizah, menyampaikan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana berkat kebaikan dan dukungan para muhsinin, yakni orang-orang yang berbuat baik dan mengulurkan bantuan melalui komunitas tersebut. Menurutnya, keberadaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak dimaksudkan sekadar menjadi ruang untuk menjalankan rutinitas bersedekah. Lebih dari itu, komunitas ini berupaya membangun habits atau kebiasaan baik, menumbuhkan lingkungan yang saling menguatkan, serta menghidupkan budaya berbagi melalui berbagai program yang dijalankan. Sedekah, dalam pandangan tersebut, bukan hanya tentang menyisihkan sebagian rezeki pada waktu tertentu. Sedekah adalah proses mendidik hati agar semakin peka, membiasakan diri untuk peduli, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kebahagiaan tidak harus berhenti pada diri sendiri. Dukungan para muhsinin menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Setiap rupiah yang dititipkan, setiap niat baik yang disatukan, dan setiap kepedulian yang dipelihara menjadi mata rantai kebaikan yang memungkinkan manfaat menjangkau lebih banyak orang. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah, tumbuh sebuah gerakan yang menghadirkan dampak lebih luas. Dari sedekah yang dihimpun bersama, lahir pertolongan yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang sedang membutuhkan. Ketika air datang, harapan kembali tumbuh Bagi masyarakat setempat, bantuan air bersih ini memiliki arti yang jauh melampaui jumlah tangki yang disalurkan. Di balik setiap tangki, terdapat kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, kecemasan yang selama ini dipendam, serta harapan agar kehidupan sehari-hari tetap dapat berjalan. Salah seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa syukur dan kelegaan atas terlaksananya kegiatan tersebut. “Kami para warga di sini banyak yang bingung, besok mau makan apa, mau minum bagaimana. Alhamdulillah, datang pertolongan Allah melalui droping air bersih ini sebagai penghapus keraguan, menambah keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa beratnya beban yang dirasakan warga ketika kebutuhan dasar semakin sulit dipenuhi. Dalam situasi demikian, bantuan air bersih bukan hanya meringankan persoalan sehari-hari, tetapi juga memberikan ketenangan batin. Ketika air datang, ada kecemasan yang perlahan mereda. Ketika bantuan diberikan, tumbuh keyakinan bahwa masyarakat tidak menghadapi kesulitan seorang diri. Dan ketika kepedulian hadir secara nyata, kepercayaan kepada sesama kembali menemukan ruang untuk bertumbuh. Pertolongan Allah dapat hadir melalui berbagai jalan, termasuk melalui tangan orang-orang yang tergerak untuk berbagi. Di situlah nilai kemanusiaan dan keimanan bertemu: ketika kepedulian tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi diwujudkan menjadi tindakan yang meringankan beban sesama. Distribusi tahap pertama masih berlangsung Penyaluran sebanyak 25 tangki air bersih ini menjadi bagian dari upaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan di wilayah Rayon Purwosari dan Rayon Panggang. Distribusi dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di wilayah sasaran. Hingga berita ini disusun, proses distribusi air bersih masih berlangsung di Rayon Purwosari dan Rayon Panggang. Diharapkan bantuan tersebut dapat menjangkau warga secara bertahap dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan persoalan sosial membutuhkan kepedulian yang berkelanjutan. Ketika kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi, kerja sama berbagai pihak menjadi penting agar bantuan dapat hadir secara tepat dan memberi manfaat sebesar-besarnya. Badko TKA-TPA DIY: membina generasi, merawat kepedulian sosial Kegiatan droping air bersih ini menunjukkan bahwa kiprah Badko TKA-TPA Wilayah DIY bersama unit-unit program dan jejaringnya tidak semata-mata berfokus pada pembinaan pendidikan Al-Qur'an. Di tengah kehidupan masyarakat yang terus menghadapi beragam tantangan, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari pengabdian. Pembinaan TKA-TPA pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca Al-Qur'an, tetapi juga tentang menumbuhkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata. Nilai kasih sayang, tolong-menolong, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama perlu tumbuh bersama pendidikan yang diberikan kepada para santri. Karena itu, kegiatan sosial semacam ini memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya menjadi ikhtiar membantu masyarakat memperoleh air bersih, melainkan juga menjadi teladan bahwa ajaran kebaikan perlu hadir dalam tindakan sehari-hari. Terlebih, perhatian terhadap masyarakat di sekitar unit-unit TKA-TPA yang dinaungi menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan Al-Qur'an yang dekat dengan kehidupan, peka terhadap persoalan sosial, serta mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Inilah wajah pengabdian yang diharapkan terus tumbuh: membina generasi agar dekat dengan Al-Qur'an sekaligus menanamkan kepedulian agar mereka kelak mampu menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat. Menyalakan harapan, mengalirkan kebaikan Dua puluh lima tangki air bersih mungkin belum mampu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Namun, setiap upaya yang dilakukan dengan ketulusan memiliki arti. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari kesediaan untuk mengambil bagian, mengulurkan tangan, dan tidak membiarkan kesulitan sesama berlalu tanpa kepedulian. Dari Sedekah Subuh Jogja, PRA Prenggan Kotagede, para muhsinin, Badko TKA-TPA Wilayah DIY, Badko TKA-TPA Daerah Gunungkidul, hingga masyarakat setempat, terjalin sebuah pesan sederhana: kebaikan akan menemukan jalannya ketika banyak hati bersedia berjalan bersama. Semoga air yang mengalir menjadi keberkahan bagi setiap keluarga penerima manfaat, menjadi amal jariyah bagi para pemberi, serta menjadi penguat persaudaraan di tengah masyarakat. Semoga ikhtiar ini juga menumbuhkan semakin banyak kebiasaan baik, sehingga sedekah tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya yang menghidupkan kepedulian. Sebab, pada akhirnya, yang mengalir bukan hanya air, melainkan juga kasih sayang, harapan, dan keyakinan bahwa di tengah kesulitan, kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk hadir. Pantau jalannya kegiatan Masyarakat dan para Sahabat Kebaikan dapat mengikuti dokumentasi serta perkembangan kegiatan penyaluran air bersih melalui tautan berikut: dokumentasi dan pemantauan kegiatan dokumentasi Komunitas Sedekah Subuh Jogja — merawat kebiasaan baik, menguatkan kepedulian, dan mengalirkan manfaat bagi sesama.
Baca Serunya!
94
FASI XIII Sleman Himpun 720 Santri, Kalasan Raih Predikat Rayon Terbaik
SLEMAN, Yogyakarta — Semangat syiar Al-Qur’an dan pembinaan generasi Qur’ani terasa kuat dalam pelaksanaan Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) XIII Daerah Sleman yang digelar pada Ahad, 11 Oktober 2026, di SMA Negeri 1 Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 720 peserta dari berbagai rayon mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Sejak kegiatan dimulai, suasana lokasi dipenuhi semangat para santri, pendamping, orang tua, serta para pengurus Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TKA-TPA). Mereka hadir bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi juga membawa semangat untuk menunjukkan kemampuan, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dari seluruh rayon yang berpartisipasi, Rayon Kalasan berhasil meraih predikat sebagai Juara Umum FASI XIII Daerah Sleman. Prestasi tersebut menjadi buah dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan sekaligus menjadi motivasi bagi para santri dan pembina untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran BADKO TKA-TPA Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hadir Ustadz H. Suprapto, S.Ag., selaku Ketua Umum BADKO TKA-TPA DIY, yang menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada seluruh peserta, pendamping, dan tamu undangan. Dalam suasana yang penuh semangat tersebut, Ustadz H. Suprapto mendorong para santri agar menjadikan FASI bukan semata-mata sebagai ajang mengejar juara, tetapi sebagai bagian dari proses membangun karakter, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta membentuk generasi yang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik. FASI diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi ruang pembinaan dan penguatan generasi Qur’ani yang mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Selain menghadiri rangkaian FASI, BADKO TKA-TPA DIY juga turut mendampingi Ustadz Wahyu Pujananto, selaku pengurus UPZ BADKO TPA DIY, dalam kegiatan pentasyarufan yang diinisiasi oleh Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Pentasyarufan tersebut merupakan bagian dari program yang dikembangkan Komunitas Sedekah Subuh Jogja sebagai anak program UPZ BADKO TPA DIY, dengan sasaran khusus santri berprestasi. Bantuan ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus apresiasi terhadap santri yang telah menunjukkan prestasi dan kesungguhan dalam mengikuti proses pendidikan serta pembinaan keagamaan. Kehadiran program tersebut memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan FASI XIII Sleman. Di tengah suasana kompetisi, para santri tidak hanya mendapatkan pengalaman bertanding dan menunjukkan kemampuan, tetapi juga merasakan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan generasi muda dan pendidikan Al-Qur’an. Suasana di SMA Negeri 1 Prambanan berlangsung semarak. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan perlombaan. Sorak dukungan dari pendamping dan orang tua sesekali terdengar mengiringi penampilan para santri. Di sisi lain, para panitia dan pembina terlihat aktif memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar. Momentum FASI XIII juga menjadi ruang silaturahmi bagi para pengelola TKA-TPA, ustadz dan ustadzah, orang tua, serta para santri dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman. Pertemuan tersebut mempertemukan banyak pihak dalam satu semangat yang sama, yakni membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki karakter Islami. Pelaksanaan FASI XIII Daerah Sleman mendapat dukungan dari berbagai pihak. Apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, jajaran BADKO TKA-TPA, panitia pelaksana, pengurus rayon, para ustadz dan ustadzah, orang tua, komunitas, donatur, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, fasilitas maupun doa. Dukungan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan memberikan pengalaman berharga bagi ratusan santri yang terlibat. Pelaksanaan FASI XIII Daerah Sleman diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan TKA-TPA sekaligus meningkatkan kualitas generasi Qur’ani di Sleman. Lebih dari sekadar mencari pemenang, FASI diharapkan mampu melahirkan anak-anak yang berprestasi, percaya diri, berakhlak mulia, serta memiliki kecintaan yang kuat terhadap Al-Qur’an. Para peserta yang belum berhasil meraih juara juga diharapkan tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai akhir dari perjuangan. Sebaliknya, pengalaman mengikuti FASI dapat menjadi bekal untuk terus belajar, berlatih, dan memperbaiki diri. Sementara bagi para juara, prestasi yang diraih diharapkan menjadi amanah untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjadi inspirasi bagi santri lainnya. Dengan semangat kompetisi yang sehat, silaturahmi yang kuat, dan pembinaan yang berkelanjutan, FASI XIII Daerah Sleman diharapkan tidak hanya meninggalkan catatan prestasi, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan dalam perjalanan pembentukan generasi Qur’ani di Kabupaten Sleman. FASI XIII Sleman akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara, melainkan tentang bagaimana 720 santri belajar untuk berani tampil, berprestasi, mencintai Al-Qur’an, dan tumbuh menjadi generasi yang membawa manfaat bagi masa depan.
Baca Serunya!
149
1.287 Santri Bersemangat, FASI XIII Bantul Menguatkan Langkah Menuju Generasi Saleh
BANTUL – Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) XIII Daerah Bantul berlangsung pada Ahad, 11 Oktober 2026, bertempat di Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) II Kabupaten Bantul. Kegiatan ini diikuti sebanyak 1.287 santri TKA-TPA dari berbagai rayon di Kabupaten Bantul, sebagai wujud semangat generasi muda Islam dalam mengembangkan potensi, keterampilan, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dalam penyelenggaraan tahun ini, Rayon Kapanewon Banguntapan berhasil meraih gelar juara umum. Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus buah dari kerja keras para santri, ustaz dan ustazah, orang tua, serta seluruh pihak yang turut mendukung proses pembinaan santri di lingkungan TKA-TPA. Hadir dalam kegiatan tersebut, Ustaz H. Anas Yusuf selaku Pengurus BADKO TKA-TPA Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain memberikan sambutan, ia juga mendampingi kegiatan pentasyarufan tali asih kepada santri pilihan. Kegiatan sosial ini diinisiasi oleh Komunitas Sedekah Subuh Jogja, sebuah program anak dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BADKO TKA-TPA DIY. Pentasyarufan tali asih tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan FASI, bahwa di balik semarak perlombaan, terdapat nilai kepedulian, kebersamaan, dan semangat untuk saling menguatkan. Perhatian kepada santri diharapkan menjadi penyemangat agar mereka terus bertumbuh, berprestasi, dan istiqamah dalam menuntut ilmu serta mengamalkan nilai-nilai Islam. Lebih dari Perlombaan, FASI Menjadi Ruang Pembentukan Karakter Ustadzah Aqiella Fadia Risqi, S.I.Kom. sekretaris Panitia Fasi XIII Bantul. Menyampaikan harapannya agar semangat FASI tidak berhenti ketika perlombaan usai. Menurutnya, antusiasme dan euforia yang hadir selama kegiatan perlu terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari para santri. “Semoga euforia dan semangat FASI tidak hanya terasa saat hari perlombaan saja, tetapi terus hidup di keseharian anak-anak untuk senantiasa rajin belajar, mengaji, dan berakhlak mulia,” ungkapnya. Pesan tersebut menegaskan bahwa FASI bukan semata-mata ajang untuk mengejar prestasi dan memperebutkan piala. Lebih dari itu, FASI merupakan sarana pembinaan generasi Qur’ani yang memiliki kecakapan, keberanian, kedisiplinan, serta akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh ustaz, ustazah, dan orang tua yang telah mendampingi perjalanan anak-anak dalam belajar dan berproses. Kesabaran para pendidik dan keluarga dalam membimbing santri sejak tahap awal menjadi bagian penting dari keberhasilan pembinaan generasi penerus bangsa. Lelah yang dirasakan panitia, pendidik, dan orang tua dalam mempersiapkan kegiatan ini bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Sebaliknya, setiap waktu, tenaga, dan perhatian yang diberikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak Indonesia. Merawat Solidaritas, Menumbuhkan Generasi Qur’ani Penyelenggaraan FASI XIII Daerah Bantul juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antarlembaga, rayon, pengurus BADKO, serta unsur kepemudaan Islam. Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menghadirkan lebih banyak ruang positif bagi anak-anak dan santri untuk belajar, berkarya, berkompetisi secara sehat, serta mengembangkan potensi diri. Harapan pun disampaikan agar BADKO dan kepemudaan Islam terus solid, inovatif, dan tidak pernah lelah menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi generasi muda. Semangat Bantul Bisa Juara Satu diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian tertinggi dalam kompetisi. Lebih dari sekadar piala dan gelar juara, kemenangan sejati adalah ketika para santri tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua dan guru, serta menghadirkan manfaat bagi sesama. FASI XIII Daerah Bantul pun menjadi pengingat bahwa membangun generasi saleh tidak cukup dilakukan dalam satu hari perlombaan. Dibutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, ketulusan para pendidik, dukungan keluarga, serta kepedulian masyarakat agar semangat kebaikan terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, prestasi boleh mengantarkan santri ke atas panggung juara, tetapi karakter dan ketulusanlah yang akan menuntun mereka menjadi generasi penerus bangsa yang sesungguhnya. berikut ini adalah dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan FASI XIII Daerah Bantul : dokumen foto (Kamera Fadhli) dokumentasi Video
Baca Serunya!
79
Semarak FASI XIII Kota Yogyakarta: 1.002 Santri Berkompetisi, Kepedulian Sosial Turut Menginspirasi
Yogyakarta, 11 Oktober 2026 — Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Kota Yogyakarta berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, bertempat di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 1.002 peserta dari berbagai unit TKA-TPA, sebagai wujud semangat dalam membangun generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak mulia, dan berprestasi. Pelaksanaan FASI XIII menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sekaligus mengembangkan potensi santri dalam bidang keagamaan. Melalui berbagai cabang perlombaan, para santri mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan, melatih keberanian, serta membangun jiwa kompetitif yang sehat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Pada penyelenggaraan tahun ini, Rayon Umbulharjo berhasil meraih predikat juara umum. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi bagi seluruh santri, ustadz-ustadzah, pengelola TKA-TPA, dan orang tua untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ustadz Fajar Wijanarko, pengurus Badko Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kehadiran perwakilan Badko Wilayah DIY menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur’an serta pembinaan generasi muda Islam melalui kegiatan yang edukatif dan kompetitif. Ketua Badko Kota Yogyakarta Sampaikan Harapan Dukungan Pemerintah Ketua Umum Badko Kota Yogyakarta, Ustadz Dicky Artanto, M.Pd., menyampaikan kesan, pesan, dan harapannya agar penyelenggaraan FASI ke depan mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah. Menurutnya, dukungan tersebut penting untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan pembinaan dan pengembangan potensi santri TKA-TPA. Ia juga berharap Badko DIY dapat mengambil peran aktif dalam menjembatani komunikasi dengan pemerintah, sehingga terbangun keselarasan visi dan kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. “Ke depan, diharapkan ada anggaran dari pemerintah. BADKO DIY harus berperan aktif dalam menjembatani komunikasi dengan pemerintah, sehingga pemerintah daerah dapat satu frekuensi dengan pemerintah provinsi,” demikian harapan yang disampaikan Ustadz Dicky Artanto, M.Pd. Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan Al-Qur’an membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pengelola TKA-TPA, Badko di tingkat kota maupun provinsi, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah. Kolaborasi yang kuat diharapkan mampu menghadirkan pembinaan santri yang lebih terarah, berkelanjutan, dan menjangkau lebih banyak anak. Tali Asih Komunitas Sedekah Subuh Jogja, Wujud Kepedulian terhadap Santri Selain semangat kompetisi dan prestasi, kegiatan ini juga diwarnai dengan apresiasi atas terselenggaranya pentasyarufan Tali Asih dari Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Penyerahan tali asih pada kesempatan tersebut didampingi langsung oleh Ustadz Fajar Wijanarko. Pentasyarufan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Kehadiran program tali asih di tengah kegiatan pendidikan Al-Qur’an memberikan pesan bahwa perhatian terhadap santri tidak hanya diwujudkan melalui pembinaan ilmu dan keterampilan, tetapi juga melalui dukungan, kepedulian, dan kebersamaan. Apresiasi patut disampaikan kepada Komunitas Sedekah Subuh Jogja atas ikhtiar menebarkan manfaat melalui program berbagi tersebut. Semoga setiap amanah yang ditunaikan menjadi keberkahan bagi para penerima, membawa kebaikan bagi para donatur, serta menguatkan semangat seluruh pihak yang terus berjuang dalam pendidikan dan pembinaan generasi Qur’ani. Terus Melangkah, Santri TKA-TPA, Jadilah Generasi Qur’ani yang Menginspirasi! FASI bukan sekadar perlombaan untuk mencari juara. Lebih dari itu, FASI merupakan ruang pembelajaran untuk membentuk karakter, menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri. Bagi seluruh santri TKA-TPA, teruslah belajar, berlatih, dan berani bermimpi. Jangan pernah merasa kecil ketika belum menjadi juara, sebab setiap langkah dalam mempelajari Al-Qur’an adalah bagian dari perjuangan yang mulia. Bagi yang meraih prestasi, jadikan kemenangan sebagai motivasi untuk semakin rendah hati dan terus berkembang. Terima kasih kepada seluruh panitia, pengurus Badko, ustadz-ustadzah, orang tua, para pendukung, serta Komunitas Sedekah Subuh Jogja yang telah mengambil bagian dalam ikhtiar memajukan generasi Qur’ani. “Dari TKA-TPA, kita semai cinta Al-Qur’an. Dari FASI, kita tumbuhkan prestasi. Dengan kepedulian dan kebersamaan, kita kuatkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat.” Semoga FASI XIII Kota Yogyakarta menjadi langkah bermakna dalam melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam iman, luhur dalam akhlak, dan luas manfaatnya bagi masyarakat.
Baca Serunya!
64
Perkuat Sinergi Dakwah, BADKO TKA-TPA DIY Audiensi dengan AMM di Kotagede
YOGYAKARTA – Dalam upaya memperkuat sinergi dakwah dan meningkatkan dukungan terhadap pembinaan generasi Qur’ani, Badan Koordinasi (BADKO) TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaksanakan audiensi dan silaturahmi dengan Angkatan Muda Masjid dan Mushola (AMM) pada Jumat, 9 Oktober 2026, bertempat di Gedung Museum AMM, Kotagede, Yogyakarta. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan kelembagaan, membangun kolaborasi, serta membahas dukungan terhadap berbagai program dakwah dan pendidikan Al-Qur’an yang diselenggarakan BADKO TKA-TPA DIY. Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an bersama yang dipandu oleh Ustaz Iwan Susanto. Suasana khidmat tersebut menjadi pembuka pertemuan yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam menguatkan dakwah Islam dan pembinaan umat. Rombongan BADKO TKA-TPA DIY dipimpin oleh Ketua Umum BADKO Wilayah DIY, Bapak Suprapto, bersama Bapak Anas Yusuf, Bapak Endro Suwarno, Ibu Nihayaturruhama’, dan Fajar Wijanarko. Sementara itu, pihak AMM di antaranya diwakili oleh Ibu Er, Bapak Roihan, Ustaz Iwan Susanto, serta sejumlah perwakilan lainnya. BADKO DIY Sampaikan Program Strategis dan Agenda Mendatang Dalam prakata sekaligus sambutannya, Ketua Umum BADKO Wilayah DIY, Bapak Suprapto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada AMM yang kembali berkenan menerima kunjungan silaturahmi BADKO DIY. Ia berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus diperkuat melalui kerja sama nyata dalam berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. Pada kesempatan tersebut, Bapak Suprapto juga menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) XIII tingkat DIY yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 8 November 2026, di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam memberikan ruang bagi santri TKA-TPA untuk mengembangkan kemampuan, menunjukkan prestasi, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. BADKO DIY berharap AMM dapat turut berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan FASI XIII, baik melalui dukungan tenaga, pemikiran, maupun bentuk dukungan lainnya. Selain itu, Bapak Suprapto menginformasikan bahwa BADKO DIY saat ini telah memiliki Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Salah satu program yang dikembangkan adalah KSSJ ( Komunitas Sedekah Subuh Jogja ) sebagai bagian dari upaya mendukung keberlangsungan kegiatan BADKO DIY, termasuk penyelenggaraan FASI dan berbagai program pembinaan santri TKA-TPA. Melalui program tersebut, masyarakat Muslim diajak untuk mengambil bagian dalam gerakan kebaikan melalui sedekah subuh dan berbagai bentuk kepedulian lainnya. Dukungan yang diberikan diharapkan dapat menjadi energi bersama dalam menjaga keberlanjutan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. Gerakan Peduli Air Bersih dan Milad ke-36 BADKO DIY Dalam kesempatan yang sama, Bapak Suprapto turut menyampaikan rencana penyaluran donasi air bersih ke wilayah Gunungkidul pada 17 Oktober 2026. Hingga saat audiensi berlangsung, donasi yang telah terkumpul mencapai 25 tangki air. Program ini merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan akses air bersih. BADKO DIY mengajak masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi agar manfaat bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga. “Yuk, ambil bagian dalam kebaikan! Satu donasi dari kita bisa menjadi harapan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan air bersih. Jangan tunggu mampu memberi banyak, mulai dari yang kita bisa. Bareng-bareng, kita hadirkan manfaat nyata untuk Gunungkidul!” Selain program sosial tersebut, BADKO DIY juga tengah mempersiapkan peringatan Milad ke-36 BADKO TKA-TPA DIY pada 28 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan milad direncanakan menghadirkan Ustaz Mangun Budiyanto untuk memberikan motivasi, disertai sejumlah kegiatan lain yang akan menjadi sarana refleksi, penguatan organisasi, dan peningkatan semangat dakwah. Bapak Suprapto juga menyampaikan bahwa BADKO DIY terus berupaya menjaga prestasi di tingkat nasional. Dalam berbagai kegiatan keagamaan yang diikuti, BADKO DIY disebut konsisten masuk dalam jajaran 10 besar sebagai perwakilan DIY. Capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan santri, kompetensi ustaz dan ustazah, serta tata kelola organisasi. AMM Tegaskan Dukungan terhadap Program BADKO DIY Menanggapi pemaparan tersebut, perwakilan AMM, Ustaz Roihan, menyampaikan dukungan terhadap berbagai kegiatan dakwah yang dijalankan BADKO DIY. Dukungan AMM selama ini diwujudkan melalui beragam bentuk kontribusi, antara lain penyediaan buku, pelatihan, dan dukungan terhadap peningkatan kapasitas para penggerak pendidikan Al-Qur’an. AMM juga menyampaikan adanya dukungan infak untuk kegiatan FASI, baik di tingkat DIY maupun daerah. Hal ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas organisasi dalam mendukung pembinaan generasi muda Islam melalui pendidikan Al-Qur’an. Terkait pelaksanaan FASI XIII DIY, Ibu Er menyampaikan bahwa pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, AMM turut memberikan dukungan berupa fasilitas tempat dan konsumsi bagi dewan juri. Untuk pelaksanaan tahun ini, informasi lebih lanjut mengenai bentuk dukungan akan disampaikan melalui dewan pembina. Dalam audiensi tersebut, AMM juga menyampaikan dukungan berupa seragam bagi seluruh pengurus BADKO DIY. Penyerahan simbolis seragam menjadi salah satu bentuk perhatian dan dukungan kelembagaan terhadap keberlangsungan aktivitas organisasi. Selain membahas dukungan program, pertemuan turut menyinggung rencana silaturahmi kepada KH Hasyim. AMM juga membuka peluang koordinasi terkait permohonan munaqis atau penguji ujian bacaan Al-Qur’an di wilayah Yogyakarta yang dapat dikoordinasikan dan dilimpahkan kepada BADKO DIY sesuai kebutuhan dan mekanisme yang disepakati. Berbagai hal yang dibahas dalam audiensi ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan koordinasi yang berkelanjutan, sehingga kerja sama antara BADKO DIY dan AMM semakin terarah serta memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Menguatkan Dakwah Melalui Kolaborasi dan Kepedulian Audiensi BADKO DIY dengan AMM bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kebersamaan dalam mengembangkan dakwah Islam, pendidikan Al-Qur’an, pembinaan generasi muda, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Keberhasilan program-program BADKO TKA-TPA DIY tentu membutuhkan dukungan banyak pihak. Karena itu, partisipasi masyarakat, lembaga, komunitas, dan para dermawan sangat berarti dalam menjaga keberlanjutan kegiatan pembinaan santri TKA-TPA. Mari bersama mendukung gerakan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an BADKO TKA-TPA DIY! Dukungan dapat diwujudkan melalui sedekah subuh, infak, donasi, maupun partisipasi langsung dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Tidak harus menunggu memiliki banyak untuk berbagi, sebab setiap kebaikan yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi bagian penting dari perjuangan bersama. Semoga sinergi BADKO DIY dan AMM semakin kokoh, membawa keberkahan, serta melahirkan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, berprestasi, dan siap memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Baca Serunya!
210
FASI XIII Kulonprogo Terlaksana : Semangat Bupati untuk FASI XIII Kulon Progo, membuka”
KULON PROGO — Sebanyak 639 santri dari berbagai unit TKA, TPA, dan TQA se-Kabupaten Kulon Progo berkumpul dalam semarak Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Kabupaten Kulon Progo, Ahad, 27 September 2026. Kegiatan yang dipusatkan di SD Negeri Percobaan 4 Wates, Kulon Progo, itu menjadi ruang bertemunya anak-anak terbaik dari berbagai penjuru Kulon Progo dalam suasana penuh semangat, persaudaraan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. SD Negeri Percobaan 4 Wates sendiri merupakan satuan pendidikan negeri yang berada di Wates, Kabupaten Kulon Progo. (Referensi Data Kemendikdasmen) Dari total 639 peserta, 188 santri berasal dari jenjang TKA, 235 santri dari TPA, dan 216 santri dari TQA. Mereka hadir membawa kemampuan, keberanian, dan doa dari unit masing-masing untuk mengikuti berbagai cabang perlombaan yang menjadi bagian dari FASI XIII. Gelaran ini menjadi catatan penting bagi perjalanan FASI di Daerah Istimewa Yogyakarta. FASI XIII Kabupaten Kulon Progo menjadi FASI tingkat kabupaten pertama se-DIY yang dilaksanakan pada tahun 2026. Pagi itu, halaman dan ruang-ruang kegiatan di SD Negeri Percobaan 4 Wates seolah berubah menjadi lautan anak-anak Qur’ani. Ada yang datang dengan wajah penuh percaya diri, ada yang tampak tegang menunggu giliran tampil, sementara orang tua, ustaz, ustazah, dan para pendamping memberikan dukungan dari belakang. Namun, lebih dari sekadar kompetisi, FASI menjadi pertemuan besar yang mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan: membentuk generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, berakhlak, berani tampil, dan terus bertumbuh. FASI sebagai Ruang Evaluasi Pembelajaran Dalam sambutannya, Ketua Umum Badko TKA-TPA Daerah Kabupaten Kulon Progo H. Agus Wantoro, S.H. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan FASI XIII. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bupati dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, BAZNAS, serta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Kulon Progo yang turut memberikan dukungan sehingga pelaksanaan FASI Kulon Progo dapat berjalan semakin kuat. Menurutnya, pelaksanaan FASI tidak hanya dimaknai sebagai ajang perlombaan. Lebih jauh, FASI menjadi sarana evaluasi pembelajaran bagi unit-unit TKA-TPA. Dari panggung FASI, kemampuan santri dapat terlihat, proses pembinaan dapat dievaluasi, sekaligus menjadi pemantik bagi para ustaz dan ustazah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh sejak pelaksanaan FASI di tingkat rayon. Sejumlah rayon di Kulon Progo sebelumnya juga telah menggelar FASI XIII sebagai tahapan menuju tingkat kabupaten. menempatkan FASI sebagai wadah pengembangan potensi, kreativitas, kecintaan terhadap nilai-nilai Islam, sekaligus silaturahmi antarsantri. “Bukan untuk Menentukan Siapa yang Menang dan Kalah” Ketua Umum Badko TKA-TPA Wilayah DIY, Suprapto, S.Ag., dalam sambutannya mengingatkan bahwa FASI sejatinya tidak berhenti pada persoalan menang dan kalah. “Bukan untuk menentukan siapa yang menang dan kalah, karena sesungguhnya santri-santri yang datang ke tempat ini adalah santri-santri yang berprestasi.” Pesan itu menjadi pengingat bahwa keberanian seorang santri untuk tampil, belajar, berlatih, dan datang mengikuti FASI sudah merupakan bagian dari sebuah prestasi. Lebih dari itu, FASI menjadi momentum untuk membangun ukhuwah Islamiyah dari berbagai penjuru Kulon Progo. Di satu tempat, santri-santri bertemu. Mereka mungkin berasal dari rayon, desa, masjid, dan unit TKA-TPA yang berbeda. Namun di FASI, perbedaan itu bertemu dalam satu suasana persaudaraan. “Dan kegiatan ini penuh dengan rasa ukhuwah,” lanjut Suprapto. Semangat tersebut terasa kuat sepanjang kegiatan. Tepuk tangan tidak hanya diberikan ketika peserta dari kelompok sendiri tampil, tetapi juga mengiringi penampilan santri-santri lainnya. Sebab di atas panggung FASI, setiap anak memiliki kesempatan untuk bersinar. KSSJ Hadir, Santri Berprestasi Mendapat Tali Asih Usai sambutan Ketua Umum Badko TKA-TPA Wilayah DIY, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan tali asih atau pentasyarufan kepada santriwan dan santriwati berprestasi. Pentasyarufan tersebut dilaksanakan oleh tim Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) kepada santri-santri berprestasi yang telah ditunjuk oleh Badko TKA-TPA Daerah Kabupaten Kulon Progo. Dukungan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar untuk menjaga semangat para santri agar terus belajar dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Sebab terkadang, sebuah tali asih bukan hanya tentang nilai yang diterima. Di baliknya ada pesan sederhana yang begitu berarti bagi seorang anak: “Teruslah belajar. Teruslah berprestasi. Ada orang-orang yang percaya kepada masa depanmu.” Bupati Kulon Progo: “Kalau Satu Gedung Tidak Cukup, Kita Siapkan Dua Gedung” Kehadiran Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., semakin memberikan warna pada perhelatan FASI XIII Kabupaten Kulon Progo. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan rasa haru sekaligus kebahagiaan melihat semangat ratusan santri yang hadir. Sebagai pemerintah daerah, ia mengaku merasa senang melihat kegiatan yang menghadirkan begitu banyak anak-anak dalam suasana keislaman. Di tengah derasnya arus informasi yang begitu mudah diakses anak-anak, menurutnya, masih ada ikhtiar bersama untuk membangun pondasi keimanan dan keislaman sejak dini. Ia menyampaikan kebanggaannya kepada para santri yang hadir. “Saya sangat bangga dengan kalian anak-anak hebat, anak-anak sholeh yang ada di tempat ini dan di manapun.” Bupati juga menyampaikan harapan agar festival seperti FASI mendapatkan dukungan dari berbagai pihak dan terus dikembangkan. Bahkan, ia memberikan gambaran dukungan yang begitu besar terhadap kegiatan tersebut. “Kalaupun satu gedung tidak cukup, kita siapkan dua gedung. Kalau dua gedung tidak cukup, kita siapkan tempat yang lebih besar. Bahkan kalau perlu, kita hias, kita siapkan Alun-Alun Wates untuk menyambut anak-anak hebat ini.” Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada anak-anak. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, anak-anak membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Mereka membutuhkan lingkungan yang tidak hanya membuat mereka cerdas, tetapi juga mengenalkan mereka kepada nilai-nilai kebaikan, agama, akhlak, dan Al-Qur’an. Dan FASI adalah salah satu ruang itu. Rayon Galur Raih Juara Umum Di penghujung rangkaian kegiatan, prestasi para santri akhirnya diumumkan. Rayon Galur berhasil meraih Juara Umum FASI XIII Kabupaten Kulon Progo. Predikat tersebut menjadi buah dari proses panjang pembinaan, latihan, doa, dan keberanian para santri untuk tampil memberikan kemampuan terbaiknya. Namun, kemenangan Rayon Galur tidak menghapus makna perjuangan dari seluruh peserta. Karena pada akhirnya, FASI bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang piala. Ada santri yang belajar mengatasi rasa gugup. Ada yang belajar menerima hasil dengan lapang dada. Ada yang menemukan keberanian untuk tampil di hadapan banyak orang. Ada pula yang pulang membawa pengalaman baru dan tekad untuk berlatih lebih giat. Semua itu adalah kemenangan dalam bentuk yang berbeda. Dari Kulon Progo Menuju FASI XIII Tingkat Provinsi FASI XIII Kabupaten Kulon Progo kini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju tahapan berikutnya. Para santri terbaik akan membawa pengalaman dan prestasi yang mereka raih menuju FASI XIII Tingkat Provinsi DIY yang akan dilaksanakan pada 8 November 2026. Namun, pesan untuk seluruh santri tidak hanya ditujukan kepada mereka yang nantinya menjadi wakil Kulon Progo. Kepada seluruh santri TKA, TPA, dan TQA di manapun berada, teruslah berlatih. Teruslah membaca Al-Qur’an. Teruslah belajar. Jangan takut tampil, jangan takut gagal, dan jangan merasa kecil ketika melihat prestasi teman-teman yang lain. Sebab setiap anak memiliki cahaya masing-masing. Hari ini mungkin belum menjadi juara. Tetapi dengan latihan, doa, ketekunan, dan bimbingan para ustaz-ustazah serta orang tua, hari esok selalu memiliki ruang untuk menjadi lebih baik. FASI XIII Kulon Progo telah membuka langkah. Dari 639 santri yang datang dengan semangat, lahir cerita tentang keberanian, persaudaraan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Kini saatnya melangkah lebih jauh. Selamat kepada seluruh santri yang telah berjuang di FASI XIII Kabupaten Kulon Progo. Selamat kepada Rayon Galur sebagai Juara Umum. Dan untuk seluruh santri TKA-TPA-TQA di seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta: Teruslah bersinar. Teruslah berprestasi. Teruslah mencintai Al-Qur’an. Mari kita sambut FASI XIII Tingkat Provinsi DIY, 8 November 2026 dengan semangat yang lebih besar, persaudaraan yang lebih erat, dan persiapan yang lebih matang. Bukan sekadar mencari siapa yang terbaik, tetapi bersama-sama menumbuhkan generasi terbaik. Sampai bertemu di FASI XIII Tingkat Provinsi DIY. Dari panggung kecil hari ini, semoga tumbuh mimpi-mimpi besar untuk masa depan umat. ( Pembukaan FASI XIII Daerah Kulonprogo )
Baca Serunya!
186
Dari Kirab Menuju Cahaya Al-Qur’an: Wisuda XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro, Menyemai Generasi Unggul dan Berakhlak Mulia
Bantul — Lapangan Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, D.I. Yogyakarta, pada Sabtu, 19 September 2026, berubah menjadi ruang penuh haru dan kebahagiaan. Bukan sekadar lapangan tempat berkumpul, tetapi menjadi saksi sebuah perjalanan panjang anak-anak dalam mengenal, membaca, mencintai, dan belajar mengamalkan Al-Qur’an. Di tempat itulah Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (TPAM) Sunan Geseng Jolosutro menggelar Wisuda Santri XVIII Tahun 2026. Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Qur’ani yang Unggul, Berkemajuan dan Berakhlak Mulia”, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para santri, orang tua, ustaz dan ustazah, sekaligus seluruh keluarga besar TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Hari itu, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab santri. Langkah-langkah kecil para santri menjadi gambaran perjalanan panjang yang telah mereka tempuh. Dengan wajah ceria, mereka berjalan membawa kebanggaan sebagai generasi yang sedang belajar menapaki jalan Al-Qur’an. Kirab tersebut seolah menjadi simbol bahwa perjalanan seorang santri tidak berhenti pada satu halaman atau satu juz yang telah dibaca. Ia adalah perjalanan seumur hidup—dari mengenal huruf, mengeja ayat, menghafalnya, hingga berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupan. Setelah rangkaian kirab, kegiatan berlanjut menuju acara puncak, yakni prosesi Wisuda Santri XVIII, yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian akbar yang disampaikan oleh Bapak H. Fachrudin, S.Ag. 112 Santri, Sebuah Perjalanan dan Harapan Dalam sambutan Direktur TPAM Sunan Geseng Jolosutro, Ustadz Sudaryanto, S.Pd.I., disampaikan bahwa pada wisuda ke-18 ini terdapat 112 santri yang diwisuda dari sejumlah cabang TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Para santri tersebut berasal dari berbagai unit, yakni Unit Jolosutro sebanyak 63 santri, Cabang Jombokan 4 santri, Cabang Pandeyan 7 santri, Cabang Kaligatuk 21 santri, Cabang Ngelosari 8 santri, dan Cabang Pangol 7 santri. Jumlah tersebut bukan sekadar angka. Di balik setiap nama yang disebut dalam prosesi wisuda, ada perjuangan panjang. Ada waktu yang diluangkan orang tua untuk mengantar dan menjemput. Ada kesabaran ustaz dan ustazah dalam mendampingi. Ada pula doa-doa yang mungkin tak pernah terdengar, tetapi terus dipanjatkan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Dalam sambutannya, Sudaryanto menyampaikan harapan agar para santri yang diwisuda kelak menjadi anak-anak yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, serta pada kemudian hari mampu menjadi pemimpin negeri dengan penuh amanah. Harapan itu terasa begitu sederhana, tetapi sekaligus dalam. Sebab pendidikan Al-Qur’an memang tidak semata-mata tentang seberapa banyak ayat yang mampu dibaca atau dihafalkan. Lebih dari itu, ada cita-cita agar nilai-nilai Al-Qur’an tumbuh menjadi akhlak yang melekat dalam diri seorang anak. 36 Tahun Menanam, 36 Tahun Menyaksikan Tumbuhnya Generasi Wisuda XVIII ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang TPAM Sunan Geseng Jolosutro yang telah genap berusia 36 tahun pada 20 Agustus 2026. Tiga puluh enam tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada banyak generasi yang telah datang dan belajar di tempat ini. Ada anak-anak yang dahulu duduk sebagai santri, kemudian tumbuh dewasa dan melanjutkan pengabdiannya di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Direktur TPAM Sunan Geseng Jolosutro menyampaikan bahwa selama perjalanan tersebut, TPAM telah mencetak generasi-generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Sebagian lulusan TPAM bahkan telah mengabdi sebagai abdi negara di berbagai bidang. Karena itu, momentum wisuda bukan hanya tentang melepas para santri dari satu jenjang pembelajaran, tetapi juga tentang menitipkan harapan kepada generasi berikutnya. Menanam hari ini, berharap tumbuh esok hari. Membaca Al-Qur’an hari ini, berharap kelak lahir manusia-manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Sinergi untuk Pendidikan Al-Qur’an Wisuda Santri XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro turut dihadiri sejumlah tokoh dan unsur masyarakat. Hadir dari Badan Koordinasi TKA-TPA Wilayah DIY, Bapak Endro Suwarno, S.E. dan Bapak Didik Setiawan. Turut hadir pula jajaran Forkompimkap Piyungan, Polsek Piyungan, Koramil Piyungan, PCM serta berbagai unsur dan jajaran terkait yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar bersama masyarakat dalam menyiapkan generasi masa depan. Sebab anak-anak yang hari ini duduk sebagai santri, kelak akan menjadi bagian dari wajah masyarakat. Mereka akan menjadi guru, pemimpin, orang tua, pengusaha, abdi negara, ulama, dan berbagai profesi lainnya. Apa yang ditanamkan kepada mereka hari ini akan ikut menentukan seperti apa kehidupan masyarakat pada masa mendatang. Terima Kasih untuk Semua yang Telah Membersamai Di penghujung sambutannya, Sudaryanto juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, baik berupa materi, pemikiran maupun tenaga, sehingga rangkaian wisuda dapat berjalan dengan lancar. Doa pun dipanjatkan agar segala bentuk bantuan dan pengabdian tersebut mendapatkan imbalan yang sepadan dari Allah SWT. “Mudah-mudahan santri yang saat ini diwisuda menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi masyarakat serta di kemudian hari menjadi pemimpin negeri ini dengan penuh amanah.” Kalimat itu menjadi salah satu pesan penting yang mengiringi langkah para santri meninggalkan panggung wisuda. Karena sejatinya, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah pintu menuju perjalanan yang lebih panjang. Hari ini mereka mengenakan pakaian terbaik, menerima penghargaan, dan berdiri di hadapan orang tua dengan senyum yang mungkin bercampur haru. Namun setelah panggung dibongkar dan lapangan kembali lengang, perjalanan sesungguhnya justru dimulai. Al-Qur’an yang telah dibaca harus terus dibaca. Ayat yang telah dihafalkan harus terus dijaga. Ilmu yang telah dipelajari harus diwujudkan dalam akhlak dan amal. Dari Jolosutro, dari sebuah lembaga yang telah menapaki perjalanan 36 tahun, kembali lahir harapan-harapan baru. Sebanyak santri yang diwisuda hari itu membawa satu pesan yang sama: semoga mereka tumbuh menjadi generasi Qur’ani—unggul dalam ilmu, berkemajuan dalam langkah, dan mulia dalam akhlak. Semoga langkah kecil dalam kirab itu menjadi langkah panjang menuju masa depan. Dan semoga setiap ayat Al-Qur’an yang pernah mereka baca menjadi cahaya yang terus menyala, menerangi jalan hidup mereka, keluarga, masyarakat, hingga negeri tercinta. untuk menyaksikan jalannya kegiatan Wisuda Santri XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro, silahkan klik Wisuda XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutronth 2026
Baca Serunya!
216
Menjaga Nyala Silaturahmi, Menapaki Jalan Takwa Bersama Aktivis LDPQ-BADKO
Banguntapan, 16 September 2026 — Ada malam-malam yang tidak sekadar berlalu. Ia menjadi ruang untuk kembali duduk bersama, menyambung silaturahmi, menenangkan hati, sekaligus mengingatkan diri tentang ke mana sebenarnya langkah kehidupan hendak diarahkan. Suasana itulah yang akan mewarnai Silaturahim dan Majlis Ta'lim Aktivis Malam Kamis Pahing yang digelar pada Rabu malam, 16 September 2026, pukul 18.00–21.00 WIB, bertempat di rumah Bapak H. M. Ridho Hisyam, Salakan, Banguntapan. Kegiatan ini menjadi momentum berkumpulnya rekan-rekan aktivis LDPQ-BADKO dalam suasana kekeluargaan. Bukan sekadar bertemu dan berbincang, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk berjalan bersama dalam kebaikan. Dalam undangan kegiatan tersebut, panitia mengharapkan kehadiran rekan-rekan aktivis untuk bersama-sama mengikuti rangkaian silaturahmi dan majelis taklim. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan, sebab dalam perjuangan di jalan dakwah, langkah yang berat akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama. Menapaki Jalan Takwa Majelis taklim malam itu membawa tema besar tentang “Jalan Menuju Takwa”. Materi pengajian menjelaskan bahwa takwa bukan sekadar sebuah kata yang indah diucapkan, melainkan sikap hidup yang diwujudkan dalam keseharian. Dalam materi tersebut, takwa dijelaskan berdasarkan Taisirul Khollaq karya Syekh Hafizh Hasan al-Mas'udi sebagai upaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Untuk menuju takwa, ada dua proses penting yang perlu berjalan beriringan, yaitu at-takhalli dan at-tahalli. At-takhalli berarti membersihkan diri dari akhlak tercela, sedangkan at-tahalli berarti menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Pesannya sederhana, tetapi dalam: seseorang tidak cukup hanya meninggalkan keburukan. Hati yang telah dibersihkan juga perlu diisi dengan kebaikan. Sebab, seperti sebuah wadah, hati akan menjadi tempat tumbuhnya sesuatu sesuai dengan apa yang kita masukkan ke dalamnya. Materi pengajian juga mengingatkan bahwa takwa merupakan jalan menuju petunjuk sekaligus pegangan yang kuat bagi keselamatan manusia. Takwa menjadi bekal yang tidak hanya dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di dunia, tetapi juga untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Tiga Hal yang Membangkitkan Ketakwaan Ada tiga hal yang dapat membangkitkan ketakwaan dalam diri seseorang. Pertama, menyadari kehinaan diri di hadapan Allah. Manusia adalah makhluk yang lemah, sementara Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Kesadaran ini semestinya melahirkan kerendahan hati dan membuat manusia tidak mudah merasa besar di hadapan Sang Pencipta. Kedua, mengingat berbagai kebaikan dan nikmat Allah. Ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya dipenuhi nikmat dan kebaikan Allah, muncul rasa malu untuk membalas nikmat tersebut dengan kemaksiatan. Ketiga, mengingat kematian. Ajal dapat datang kapan saja. Kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas akan mendorong seseorang untuk segera bertobat dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal perjalanan berikutnya. Takwa pun ditempatkan sebagai salah satu ukuran kemuliaan manusia. Bukan harta, kedudukan, atau penampilan yang menjadi ukuran utama, melainkan ketakwaan kepada Allah. Membersihkan Hati, Menghiasinya dengan Kebaikan Dalam pembahasan at-takhalli, materi pengajian mengingatkan sejumlah penyakit hati dan akhlak tercela yang perlu dibersihkan. Di antaranya dendam, dengki, ghibah, adu domba, sombong, merasa tertipu oleh kelebihan diri sendiri, serta dusta. Sebaliknya, setelah hati dibersihkan, ia perlu dihiasi dengan akhlak terpuji atau at-tahalli. Beberapa akhlak yang dibahas antara lain jujur, amanah, ikhlas, santun dan mampu menahan amarah, menjaga kebersihan, menjaga kehormatan diri, dermawan, tawadhu, memiliki harga diri, serta berlaku adil. Menariknya, pesan tentang ikhlas menjadi salah satu bagian yang begitu dekat dengan kehidupan para aktivis. Amal yang dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi karena mengharap rida Allah. Dengan begitu, pujian tidak membuat seseorang terbang dan cacian tidak membuatnya berhenti berbuat baik. Pada akhirnya, jalan menuju takwa memang bukan jalan yang selesai dalam satu malam. Ia adalah perjalanan panjang—langkah demi langkah, hari demi hari. Kadang seseorang harus membersihkan hati, kemudian belajar mengisinya kembali. Jatuh, bangkit, memperbaiki diri, lalu berjalan lagi. Dan mungkin, di situlah makna silaturahmi malam Kamis Pahing ini menemukan ruhnya. Bertemu untuk saling menguatkan. Mengaji untuk saling mengingatkan. Dan berjalan bersama agar cahaya kebaikan tidak padam di tengah perjalanan. Sebagaimana sebuah pelita, cahaya yang dijaga bersama akan lebih lama menerangi jalan. Malam itu, di Salakan, Banguntapan, para aktivis LDPQ-BADKO kembali dipertemukan dalam satu ikhtiar: merawat persaudaraan, menumbuhkan akhlak, dan bersama-sama menapaki jalan menuju takwa. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh H. Evan Riyanto Arifin, S.Pd., H. Suprapto, MA., dan H. M. Ridlo Hisyam, SH. Semoga pertemuan yang sederhana ini menjadi pintu bagi lahirnya langkah-langkah besar dalam kebaikan, serta menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju rida Allah Subhaanahu wa ta'ala.
Baca Serunya!
281
Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Panjatan: Akreditasi TPA Menjadi Ikhtiar Menumbuhkan Pendidikan yang Lebih Baik
Kulon Progo, 12 September 2026 — Pagi ini, di Rayon Panjatan, Kulon Progo, ikhtiar untuk merawat pendidikan Al-Qur’an kembali menemukan jalannya. Bukan sekadar tentang lembar penilaian, kelengkapan administrasi, atau sebuah predikat akreditasi. Lebih dari itu, akreditasi menjadi ruang untuk berhenti sejenak, melihat apa yang telah dilakukan, lalu melangkah kembali dengan semangat yang lebih baik. Sabtu, 12 September 2026, dilaksanakan kegiatan Supervisi dan Akreditasi TKA-TPA Rayon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas TKA-TPA sebagaimana diajukan oleh Badko TKA-TPA Kabupaten Kulon Progo kepada Badko TKA-TPA Provinsi DIY melalui Biro Supervisi dan Akreditasi. Titik kumpul kegiatan berada di TPA Nurul Hadi, Pedukuhan II Panjatan, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sebanyak lima unit TPA tercatat sebagai peserta akreditasi, yaitu TPA Nurul Hadi -Panjatan II, TPA Nurul Hasan -Ngentak lor Garongan, TPA Baiturrahman -Depok II, Depok, TPA Baiturrohim -Kepuh Kidul, Krembangan dan TPA Thoriquljannah -Cerme VII, Cerme. Di balik kegiatan tersebut, tersimpan harapan sederhana namun sangat berarti: bagaimana TPA di Panjatan tidak hanya terus berjalan, tetapi juga terus bertumbuh. Ketua Badko Rayon Panjatan, Bapak Sularso, S.Pd., menyampaikan harapannya agar pelaksanaan akreditasi dapat menjadi jalan bagi unit-unit TPA di wilayah Panjatan untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan tersebut terasa penting, sebab pendidikan Al-Qur’an sejatinya bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ia adalah perjalanan panjang yang dibangun dari kesabaran para ustadz dan ustazdah, dukungan orang tua, semangat para pengelola, serta langkah-langkah kecil anak-anak yang setiap hari belajar mengenal huruf demi huruf Al-Qur’an. Akreditasi, dalam konteks ini, bukanlah sesuatu yang semestinya membuat pengelola TPA merasa gentar. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi cermin untuk berbenah. Melalui supervisi dan akreditasi, sebuah lembaga memiliki kesempatan untuk melihat kembali berbagai hal yang selama ini telah dikerjakan. Apa yang sudah baik dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Apa yang masih kurang dapat diperbaiki. Dengan demikian, akreditasi bukan akhir dari perjalanan, melainkan salah satu pintu menuju peningkatan mutu pendidikan Al-Qur’an. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Bapak Setia Irawan, A.Md., selaku Jawatan Sosial. Kehadiran unsur pemerintahan dan berbagai pihak yang memberikan perhatian terhadap kegiatan TKA-TPA menjadi tanda bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya tanggung jawab satu atau dua orang. Ia adalah amanah bersama. Bukan Sekadar Menilai, tetapi Menumbuhkan Hasil dari agenda akreditasi ini setidaknya memberikan sebuah pijakan penting bagi TPA di Rayon Panjatan: adanya proses evaluasi dan pembinaan untuk mendorong peningkatan kualitas lembaga secara berkelanjutan. Lima unit TPA yang mengikuti kegiatan mendapatkan ruang untuk melihat kesiapan dan tata kelola lembaganya melalui proses supervisi dan akreditasi. Namun, berdasarkan dokumen permohonan yang menjadi dasar kegiatan, dokumen tersebut tidak memuat hasil akhir atau predikat akreditasi masing-masing TPA. Karena itu, hasil kegiatan lebih tepat dimaknai sebagai bagian dari proses pembinaan dan peningkatan mutu, bukan sebagai pernyataan bahwa seluruh unit telah memperoleh predikat tertentu. Di sinilah makna akreditasi menjadi lebih luas. Sebab, sebuah TPA yang baik bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah tempat di mana hati-hati kecil dikenalkan kepada ayat-ayat Allah. Tempat di mana seorang anak belajar mengeja huruf, menghafal doa, mengenal akhlak, dan perlahan memahami bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman kehidupan. Maka, ketika administrasi diperbaiki, pembelajaran ditata, pengelolaan dikuatkan, dan para pengajar terus meningkatkan kapasitasnya, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah lembaga. Yang sedang dibangun adalah masa depan generasi Qur’ani. Menyalakan Cahaya dari Panjatan Semoga akreditasi TPA Rayon Panjatan tidak berhenti sebagai agenda administratif yang selesai setelah satu hari kegiatan. Semoga ia menjadi awal dari langkah-langkah baru: pembelajaran yang semakin baik, pengelolaan yang semakin tertib, para ustaz dan ustazah yang semakin bersemangat, serta anak-anak yang semakin dekat dan mencintai Al-Qur’an. Semoga TPA-TPA di Panjatan terus menjadi rumah yang hangat bagi generasi kecil pencinta Al-Qur’an. Dan semoga dari ruang-ruang sederhana tempat anak-anak belajar mengaji itu, kelak lahir generasi yang bukan hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu membaca kehidupan dengan cahaya Al-Qur’an. Ya Allah, berkahilah setiap langkah para pengelola, ustaz, ustazah, orang tua, dan seluruh pihak yang telah menjaga pendidikan Al-Qur’an di Panjatan. Kuatkan mereka dalam mengabdi, mudahkan setiap ikhtiar mereka, dan jadikan setiap huruf Al-Qur’an yang dipelajari anak-anak sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Sebab barangkali, sebuah perubahan besar memang selalu dimulai dari sesuatu yang tampak kecil: seorang anak, sebuah mushaf, seorang guru, dan sebuah ruang sederhana yang di dalamnya ayat-ayat Allah terus dilantunkan.
Baca Serunya!
510
Menyibak Rahasia di Balik TPA Al Amin: Ketika Berau Belajar tentang Sebuah Rumah Qur’ani yang Tumbuh dengan Profesionalisme
BANTUL — Rabu sore, 9 September 2026, matahari perlahan menurunkan cahaya ke ufuk Bantul. Di Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, sebuah rumah pendidikan Al-Qur’an menerima tamu dari jauh. Bukan sekadar kunjungan biasa. Ada niat untuk belajar, ada tekad untuk membawa pulang pengalaman, dan ada harapan agar sebuah model pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang telah berjalan secara profesional dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan TPA di Kabupaten Berau. TPA Al Amin Kertopaten menjadi tujuan rombongan DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Berau dalam kegiatan study banding tersebut. Kunjungan yang direncanakan pukul 15.00 WIB hingga selesai itu memang sejak awal dimaksudkan sebagai ruang untuk bertukar pengalaman. Dalam surat permohonan resmi DPD BKPRMI Kabupaten Berau, disebutkan bahwa kunjungan ini bertujuan meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kualitas pengelolaan TPA sekaligus menggali inspirasi mengenai sistem pengelolaan, metode pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan santri, pengembangan kompetensi ustaz/ustazah, administrasi kelembagaan, serta program-program unggulan. Dan sore itu, tujuan tersebut menemukan tempatnya. Dari Berau untuk Belajar, dari Al Amin untuk Menginspirasi Hadir dari Kabupaten Berau, Kabag Kesra Kabupaten Berau, Bapak Toto Marjito beserta staf, serta Sekjen BKPRMI Kabupaten Berau, Bapak Eko. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana namun bermakna: mencari model TPA yang dianggap terbaik dan telah dikelola secara profesional untuk kemudian dipelajari dan, bila memungkinkan, diterapkan di Kabupaten Berau. Di sisi lain, TPA Al Amin menyambut dengan tangan terbuka. Hadir dalam penyambutan tersebut Ketua TPA Al Amin, Muchlis Umaidi, Sekretaris Devi Istriyani dan Anisa, Bendahara Diantar K, Seksi Kurikulum Iwan Rustiawan, Seksi Sarana dan Prasarana Zainal Arifin, serta para ustaz dan ustazah. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Yang hadir bukan sekadar pejabat, pengurus, dan pendidik, tetapi orang-orang yang dipertemukan oleh kecintaan yang sama: bagaimana pendidikan Al-Qur’an dapat dikelola dengan sebaik-baiknya demi tumbuhnya generasi Islam yang berkualitas. Suasana pun berlangsung hangat, kekeluargaan, komunikatif, dan menyenangkan. Percakapan mengalir. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Pengalaman dibagikan. Hal-hal kecil yang selama ini mungkin dianggap biasa di TPA Al Amin justru menjadi sesuatu yang menarik perhatian tamu dari Berau. “Luar Biasa…” — Ketakjuban yang Tumbuh dari Sebuah Sistem Salah satu hal yang membuat rombongan Kabupaten Berau kagum adalah kurikulum yang diterapkan di TPA Al Amin. Bagi mereka, kurikulum bukan sekadar susunan materi pembelajaran. Ia menjadi napas yang menghidupkan seluruh proses pendidikan—menentukan arah, membangun kebiasaan, dan memastikan setiap santri mendapatkan proses pembinaan yang terarah. Namun, kekaguman tidak berhenti di sana. Sistem pembagian tugas di TPA Al Amin menjadi salah satu bagian yang paling mencuri perhatian. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali membuat seorang pengelola harus mengenakan banyak “topi” sekaligus, Al Amin justru membangun pembagian kerja yang lebih terstruktur. Ada dua orang yang khusus menangani administrasi, dua orang bagian kebersihan, satu orang menangani urusan rumah tangga, satu orang bagian sarana dan prasarana, serta 38 ustaz/ustazah yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi santri. Mendengar dan melihat sistem tersebut, kekaguman pun menyeruak. “Luar biasa.” Dua kata sederhana, tetapi rasanya cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kesan yang dibawa pulang dari Kertopaten. Sebab di balik banyaknya nama dan pembagian tugas itu, ada sebuah filosofi penting: bahwa pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan orang-orang yang baik, tetapi juga membutuhkan sistem yang baik. Ketika Insentif Menjadi Bentuk Penghargaan Perbincangan juga menyentuh tentang kesejahteraan para ustaz dan ustazah. Di Kabupaten Berau, para ustaz/ustazah mendapatkan insentif sebesar Rp1.250.000 setiap bulan. Sementara dalam pengelolaan di Berau, terdapat pula ketentuan melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang mengaitkan jumlah santri dengan besaran anggaran atau gaji. Sebagai gambaran, 40 santri mendapatkan alokasi Rp6 juta. Pembahasan semacam ini menjadi penting, sebab keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang gedung, kurikulum, dan jumlah santri. Di balik setiap huruf hijaiyah yang diajarkan, ada seorang ustaz atau ustazah yang meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan hati. Maka ketika kesejahteraan mereka mulai mendapatkan perhatian, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya seorang pendidik. Yang sedang dirawat adalah masa depan generasi. Al Amin, Sebuah Nama yang Menjadi Cerita Ada tempat-tempat yang besar karena bangunannya. Ada tempat-tempat yang dikenang karena kemegahannya. Namun ada pula tempat yang menjadi besar karena nilai yang hidup di dalamnya. TPA Al Amin Kertopaten adalah salah satu ruang yang perlahan menulis ceritanya sendiri. Di tempat ini, pendidikan Al-Qur’an tidak sekadar berlangsung dari satu halaman ke halaman berikutnya. Ia tumbuh bersama sistem, kebersamaan, kedisiplinan, pembagian tugas, dan ketulusan orang-orang yang berada di dalamnya. Kertopaten mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Bantul. Tetapi sore itu, dari titik kecil tersebut, sebuah inspirasi sedang berjalan jauh—menyeberangi jarak hingga Kabupaten Berau. Al Amin seperti sebuah lentera yang tidak bertanya sejauh apa gelap berada. Ia hanya memilih untuk menyala. Dan ketika cahaya itu dilihat oleh mereka yang datang dari jauh, cahaya tersebut tidak menjadi berkurang. Justru semakin banyak yang ingin menyalakannya. Dari Kertopaten Menuju Berau Kunjungan ini pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dimiliki TPA Al Amin dan apa yang belum dimiliki TPA di Kabupaten Berau. Lebih dari itu, pertemuan ini adalah tentang saling belajar. Berau datang membawa pengalaman dan semangatnya sendiri. Al Amin menerima dengan pengalaman yang telah dibangun bertahun-tahun. Dari perjumpaan itu lahir sebuah harapan: semoga praktik-praktik baik yang ditemukan di TPA Al Amin dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan sistem TPA di Kabupaten Berau. Semoga perjalanan rombongan dari Berau tidak berhenti ketika mereka meninggalkan Kertopaten. Semoga apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sore itu berubah menjadi gagasan. Gagasan berubah menjadi program. Program berubah menjadi sistem. Dan sistem itu kelak tumbuh menjadi manfaat bagi ribuan santri di Kabupaten Berau. Menanam Hari Ini, Memanen Generasi Esok Hari Untuk TPA Al Amin Kertopaten, semoga perjalanan panjang yang telah dibangun tidak berhenti pada pencapaian hari ini. Semoga Al Amin terus menjadi rumah yang nyaman bagi anak-anak untuk mengenal Al-Qur’an, tempat para ustaz dan ustazah bertumbuh, serta ruang yang terus melahirkan inovasi dalam pendidikan Islam. Semoga profesionalisme yang telah dibangun tetap berjalan seiring dengan kehangatan dan kekeluargaan. Sebab pendidikan Al-Qur’an membutuhkan keduanya: sistem yang kuat dan hati yang hangat. Dan untuk Kabupaten Berau, semoga kunjungan ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Semoga model-model baik yang ditemukan dapat disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan potensi masyarakat Berau. Semoga semakin banyak TPA yang mampu tumbuh secara profesional, semakin baik kesejahteraan para ustaz dan ustazah, serta semakin kuat pembinaan generasi muda Islam. Karena pada akhirnya, setiap TPA bukan hanya sedang mengajarkan anak membaca Al-Qur’an. Mereka sedang menanam sesuatu yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Menanam ayat hari ini, untuk memanen akhlak di masa depan. Dan sore di Kertopaten itu menjadi saksi bahwa sebuah TPA kecil dapat memiliki cerita yang jauh lebih besar daripada batas-batas wilayahnya. Dari Al Amin Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, sebuah inspirasi berangkat. Menuju Berau. Membawa satu pesan sederhana: Bahwa ketika pendidikan Al-Qur’an dikelola dengan ilmu, profesionalisme, kebersamaan, dan keikhlasan, sebuah TPA tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Ia dapat menjelma menjadi rumah yang menyalakan masa depan.
Baca Serunya!
459
BADKO DIY Bangun Sinergi | SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terpilih menjadi tempat pelaksanaan FASI
Yogyakarta, 1 September 2026 — Langkah persiapan menuju pelaksanaan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai dimatangkan. Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan melalui audiensi dan silaturahmi Badan Koordinasi (BADKO) TKA-TPA/TKQ Wilayah DIY ke SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Dalam audiensi tersebut, BADKO Wilayah DIY menyampaikan rencana pelaksanaan FASI XIII Provinsi DIY yang dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 dengan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan. Rombongan BADKO Wilayah DIY hadir bersama jajaran pengurus dan panitia, di antaranya Ketua Umum, sekretaris, bendahara, ketua panitia, bidang perlengkapan, serta sejumlah unsur kepanitiaan lainnya. Rombongan diterima langsung oleh Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta beserta Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana serta jajaran terkait. Ketua Umum BADKO Wilayah DIY, Bapak Suprapto, S.Ag., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan serta penerimaan pihak SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terhadap kunjungan tersebut. Ia menjelaskan, BADKO Wilayah DIY merupakan lembaga pembina yang memiliki peran dalam membina unit-unit pendidikan Al-Qur'an, khususnya TKA, TPA, dan TKQ yang tersebar di wilayah DIY. Saat ini, terdapat sekitar 4.000 unit yang menjadi bagian dari pembinaan tersebut. “BADKO hadir untuk membina dan menguatkan lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur'an yang ada di DIY. FASI menjadi salah satu ruang untuk memberikan apresiasi sekaligus mengembangkan potensi anak-anak santri,” demikian substansi yang disampaikan dalam audiensi tersebut. Dalam kesempatan itu, BADKO Wilayah DIY juga menyampaikan permohonan izin untuk menggunakan tempat beserta fasilitas yang tersedia di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan FASI XIII tingkat provinsi. FASI sendiri merupakan ajang kompetisi anak-anak santri yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat rayon, daerah, provinsi, hingga tingkat nasional. Ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang untuk menumbuhkan keberanian, kreativitas, kecintaan terhadap Al-Qur'an, serta semangat berprestasi di kalangan generasi muda. Menanggapi rencana tersebut, Bapak Kustejo,S.Pd.I, M.Pd. Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan BADKO Wilayah DIY. Ia mengaku senang sekolah yang dipimpinnya mendapat kunjungan sekaligus kepercayaan untuk menjadi bagian dari pelaksanaan FASI XIII DIY. Menurutnya, kunjungan BADKO DIY menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta dikenal dan dipercaya oleh berbagai pihak. Pihak sekolah pun memberikan izin penggunaan tempat dan fasilitas SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta untuk mendukung pelaksanaan FASI XIII DIY. Terkait persiapan teknis, pihak sekolah membuka ruang koordinasi bagi panitia untuk melakukan penataan lokasi, ruang, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Penataan tersebut dapat dilaksanakan pada Sabtu sebelum pelaksanaan kegiatan dengan dukungan dari bagian sarana dan prasarana serta petugas kebersihan. Dari sisi keamanan, pihak sekolah juga menyatakan kesiapan untuk membantu melalui petugas keamanan atau satpam, termasuk dalam pengaturan parkir selama kegiatan berlangsung. Kepala sekolah juga menekankan pentingnya menjaga fasilitas sekolah. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, fasilitas yang digunakan diharapkan dapat dikembalikan seperti semula. Apabila selama persiapan maupun pelaksanaan terdapat kebutuhan teknis, panitia dapat berkoordinasi dengan bagian sarana dan prasarana sekolah. Menariknya, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta juga memiliki ruang baru yang kedap suara di lantai tiga. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu ruang pendukung untuk pelaksanaan cabang nasyid dalam rangkaian FASI. Audiensi tersebut menjadi awal dari sebuah ikhtiar bersama. BADKO DIY membawa semangat pembinaan generasi Qur'ani, sementara SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta membuka pintu dengan kesiapan fasilitas dan dukungan. Di balik setiap perlombaan, ada harapan yang jauh lebih besar: lahirnya anak-anak yang tidak hanya berani tampil dan meraih prestasi, tetapi juga tumbuh dengan kecintaan kepada Al-Qur'an, akhlak mulia, dan semangat menjadi generasi penerus yang membawa kebaikan. Dengan sinergi antara BADKO Wilayah DIY, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, para pengelola TPA, panitia, orang tua, serta seluruh pihak yang terlibat, FASI XIII Provinsi DIY pada 8 November 2026 diharapkan dapat menjadi perhelatan yang sukses, tertib, semarak, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi Qur'ani di Yogyakarta. Sebab, ketika anak-anak belajar mencintai Al-Qur'an sejak dini, sesungguhnya di sanalah masa depan sedang ditanam—perlahan, penuh kesabaran, dan dengan doa yang panjang.
Baca Serunya!
260
Dari Seribu Batu Menuju Seribu Kebaikan: Komunitas Sedekah Subuh Jogja Resmi Diluncurkan
Mangunan, Bantul, Ahad, 30 Agustus 2026. Ada pagi yang tidak hanya menghadirkan matahari, tetapi juga menyalakan sebuah harapan. Di antara rimbun pepohonan dan sejuknya udara Mangunan, Dlingo, Bantul, sebuah gerakan kebaikan resmi dimulai. Dalam rangkaian Pleno Badko Wilayah DIY yang digelar di Seribu Batu, Mangunan, Dlingo, Bantul, pada kesempatan tersebut Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) resmi diluncurkan sebagai ikhtiar bersama untuk menumbuhkan kebiasaan berbuat baik, dimulai dari waktu yang paling hening: subuh. Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja dilakukan oleh Bapak Suprapto, S.Ag., selaku Ketua Umum Badko TKA-TPA DIY, bersama Bapak Muhshonef, S.H.I., M.H.I., selaku Ketua Dewan Pakar Badko DIY. Keduanya hadir sebagai bagian dari ikhtiar untuk meneguhkan bahwa gerakan dakwah tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang, ia cukup dimulai dari sebuah niat yang sederhana, dari seribu rupiah yang disisihkan, dari satu kebaikan yang dilakukan setiap pagi. Peluncuran tersebut turut didampingi Bapak Muchlis Umaidi selaku Ketua UPZ Badko TKA-TPA DIY. Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pula penyerahan Surat Keputusan (SK) Komunitas dari Ketua UPZ kepada Yuliana Azizah selaku Koordinator Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Penyerahan SK tersebut menjadi penanda bahwa gerakan ini bukan sekadar gagasan yang berhenti di atas kertas. Ia adalah langkah awal sebuah perjalanan—perjalanan untuk mengajak sebanyak mungkin orang berjalan bersama dalam kebaikan. Bukan Sekadar Sedekah, Tetapi Membangun Kebiasaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja hadir dengan sebuah filosofi sederhana namun dalam. Gerakan ini tidak semata-mata mengajak masyarakat untuk bersedekah. Lebih jauh, KSSJ ingin membangun kebiasaan untuk berbuat baik. Sebab satu kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dijaga akan membentuk karakter. Dan karakter baik, insyaAllah, akan menjadi salah satu jalan menuju ridha dan surga-Nya. Karena itulah KSSJ membawa semangat: “Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan.” Subuh dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah awal hari, saat dunia belum sepenuhnya ramai, ketika hati memiliki ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Sebelum subuh, seseorang menyiapkan niat. Saat subuh, hati diingatkan. Setelah subuh, kebaikan diwujudkan. Tidak harus besar. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu sempurna. Bahkan Rp1.000 setiap subuh, jika dilakukan dengan istiqamah dan dilakukan bersama-sama, dapat tumbuh menjadi gerakan yang besar. Sebagaimana filosofi yang dibawa KSSJ: kecil dan konsisten mengalahkan besar tetapi hanya sesekali. Dari Rp1.000 Menjadi Gerakan Kebaikan Bayangkan jika satu orang bersedekah Rp1.000. Lalu seratus orang melakukan hal yang sama. Kemudian seribu orang. Seribu rupiah yang tampak kecil di tangan seseorang dapat berubah menjadi Rp100.000 ketika dilakukan seratus orang, dan menjadi Rp1.000.000 ketika dilakukan seribu orang setiap hari. Di sanalah kekuatan komunitas menemukan maknanya. Bukan tentang seberapa besar yang diberikan seseorang, melainkan tentang berapa banyak hati yang bersedia bergerak bersama. KSSJ ingin membangun sebuah ekosistem kebaikan. Dari satu orang menuju keluarga. Dari keluarga menuju TKA-TPA. Dari TKA-TPA menuju rayon. Dari rayon menuju daerah. Hingga akhirnya, tumbuh menjadi kebiasaan kebaikan bersama di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Lima Pilar yang Menjaga Denyut Kebaikan Untuk menjaga agar gerakan ini tidak berhenti sebagai slogan, KSSJ membangun aktivitas harian yang ringan, konsisten, dan terukur. Ada Misi Harian, sebagai pemantik untuk melakukan satu kebaikan kecil. Ada Quotes Subuh, sebagai pengingat hati dan ajakan bersedekah setiap fajar. Ada Sedekah Subuh, dengan pembiasaan berbagi Rp1.000 yang ringan namun diupayakan istiqamah. Ada Laporan dan Dokumentasi, sebagai bagian dari menjaga amanah dan transparansi. Dan ada Tumbuh Bersama, agar setiap anggota menyadari bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. Sebab KSSJ tidak ingin anggotanya hanya menjadi orang yang mentransfer sejumlah uang. Gerakan ini ingin mengajak setiap orang mengalami sendiri proses berbuat baik. Hari ini mungkin tersenyum kepada seseorang. Besok mendoakan orang lain. Lusa berbagi makanan. Pada hari lain membaca Al-Qur'an, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, atau melakukan kebaikan sederhana lainnya. Sebab kebaikan yang terus dilakukan, perlahan akan menjadi bagian dari diri. Amanah yang Kembali kepada Umat Dana yang dihimpun melalui Komunitas Sedekah Subuh Jogja akan disalurkan melalui UPZ Badko TKA-TPA DIY untuk berbagai program kemanfaatan. Di antaranya untuk mendukung pendidikan Al-Qur'an, bantuan unit TKA-TPA di DIY, beasiswa santri, santunan yatim dan dhuafa, pelatihan ustadz-ustadzah, program kemanusiaan dan pemberdayaan, program dakwah, serta berbagai program kebaikan lainnya. KSSJ juga menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai bagian penting dari gerakan. Laporan disampaikan secara berkala melalui grup WhatsApp sebagai bentuk pertanggungjawaban dan amanah kepada para anggota. Karena setiap rupiah yang dititipkan umat bukan sekadar angka. Di dalamnya ada kepercayaan. Ada doa. Ada harapan. Dan ada amanah yang harus dijaga. Saatnya Bergabung dan Menyebarkan Kebaikan Peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja menjadi awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang. Karena gerakan ini tidak membutuhkan penonton. Ia membutuhkan penggerak. Para ustadz dan ustadzah, pengurus Badko, pengelola TKA-TPA, santri, wali santri, keluarga, alumni, komunitas, dan siapa pun yang ingin menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan—semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian. KSSJ mengajak seluruh masyarakat untuk bergabung dalam Komunitas Sedekah Subuh Jogja, kemudian mengajak orang-orang di lingkungan masing-masing untuk ikut bergerak. Mulai dari keluarga. Mulai dari TKA-TPA. Mulai dari teman. Mulai dari komunitas. Mulai dari daerah masing-masing. Dan yang paling penting: mulai dari subuh ini. Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Karena boleh jadi, seribu rupiah yang kita sisihkan setiap subuh bukanlah sesuatu yang besar bagi kita. Namun ketika seribu orang melakukan hal yang sama, ia dapat menjelma menjadi kekuatan yang menghidupkan banyak harapan. Scan barcode KSSJ, bergabunglah dalam komunitas, dan ajak orang lain untuk ikut berjalan. klik disini untuk bergabung dengan komunitas SCAN • JOIN • MULAI SUBUH INI Mulai dari Subuh Sebuah Doa dari Mangunan Dari Seribu Batu, Mangunan, sebuah langkah kecil telah dimulai. Mungkin hari ini ia hanya berupa sebuah komunitas. Mungkin baru berupa beberapa nama yang bergabung. Mungkin baru berupa seribu rupiah yang berpindah tangan. Namun setiap gerakan besar selalu memiliki awal yang sederhana. Semoga Komunitas Sedekah Subuh Jogja tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para pemberi, tetapi menjadi ruang tumbuhnya manusia-manusia yang mencintai kebaikan. Semoga dari satu subuh lahir subuh-subuh berikutnya yang lebih berarti. Dari satu rupiah lahir kebermanfaatan. Dari satu keluarga lahir keluarga-keluarga yang peduli. Dari satu TKA-TPA lahir gerakan yang menjalar ke seluruh penjuru Yogyakarta. Dan semoga setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, setiap rupiah yang dititipkan dengan amanah, setiap ajakan yang disampaikan dengan ketulusan, menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi jalan menuju keberkahan-Nya. Karena sedekah bukanlah tujuan akhir. Sedekah adalah salah satu cara melatih diri untuk mencintai kebaikan. Mari berjalan bersama. Mari tumbuh bersama. Mari pulang membawa kebaikan. Mulai dari Subuh, Tumbuh dalam Kebaikan. Start with Giving, End with Blessing. Komunitas Sedekah Subuh Jogja — KSSJ 2026
Baca Serunya!
197
Dari Mangunan, Menyatukan Langkah untuk Generasi Qurani: Pleno III BADKO TKA TPA DIY Menguatkan Sinergi Menjelang FASI XIII
Bantul — Sejuknya udara Mangunan pada Ahad, 30 Agustus 2026, seolah menjadi saksi bertemunya hati dan langkah para pejuang pendidikan Al-Qur'an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Rumah Kaca, kompleks Seribu Batu Songgo Langit, Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, keluarga besar BADKO TKA TPA DIY berkumpul dalam Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah, menguatkan koordinasi, sekaligus meneguhkan kembali semangat bersama dalam mengemban amanah pendidikan generasi Qurani. Rapat Pleno III merupakan bagian dari sarana koordinasi program kerja BADKO TKA TPA DIY periode 2025–2029, dengan agenda utama penyampaian program kerja serta laporan kegiatan BADKO wilayah dan daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus BADKO TKA TPA Wilayah DIY, para Ketua BADKO Kabupaten/Kota beserta jajaran, serta para Ketua Rayon se-Kabupaten Bantul. Pertemuan ini mempertemukan para penggerak TKA-TPA dari berbagai wilayah DIY dalam satu ruang kebersamaan, membawa cerita perjuangan dari daerah masing-masing, sekaligus merajut harapan untuk masa depan pendidikan Al-Qur'an yang semakin baik. Kegiatan dibuka dengan rangkaian acara yang diawali pembacaan Kalam Ilahi, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TPA. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan semangat. Susunan acara Pleno III juga mencakup sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA Bantul, sambutan Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, sosialisasi Komunitas Sedekah Subuh Jogja, dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia, penyampaian program kerja, laporan BADKO daerah, hingga pengambilan keputusan bersama. Pembinaan Dewan Pakar: Menguatkan Arah dan Semangat Perjuangan Salah satu bagian penting dalam Rapat Pleno III adalah kehadiran Ketua Dewan Pakar BADKO DIY, Bapak Muhsonef, S.HI., M.HI., yang memberikan pembinaan kepada seluruh peserta. Dalam susunan kegiatan, beliau dijadwalkan menyampaikan materi mengenai dinamika penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Indonesia. Pembinaan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan besar dalam membina anak-anak tidak dapat dilakukan dengan langkah yang sendiri-sendiri. TKA dan TPA bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca huruf-huruf hijaiyah. Lebih dari itu, TKA-TPA adalah ruang pertama tempat banyak anak mengenal Al-Qur'an, belajar adab, menemukan teladan, dan perlahan membangun kecintaan kepada agama. Di tangan para ustadz dan ustadzah, huruf-huruf Al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi ditanamkan menjadi cahaya. Karena itulah, setiap program, kegiatan, dan evaluasi yang dilakukan BADKO memiliki satu tujuan besar: menjaga agar cahaya pendidikan Al-Qur'an terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketua Umum Sampaikan Informasi Organisasi, FASI, dan KSSJ Dalam sambutannya, Ketua Umum BADKO TKA TPA DIY, Bapak Suprapto,S,Ag. menyampaikan berbagai informasi terkini berkaitan dengan perkembangan organisasi, persiapan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI), serta peluncuran Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ). Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menyatukan pemahaman seluruh jajaran BADKO, mulai dari tingkat wilayah hingga daerah. Sebab sebuah organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan banyak program, tetapi juga membutuhkan kesamaan arah. FASI menjadi salah satu perhatian utama dalam pleno kali ini. Persiapan menuju pelaksanaan FASI XIII menjadi tema yang terus mengemuka dalam laporan dari berbagai daerah. Berbagai aspek dipersiapkan, mulai dari kesiapan peserta, pendanaan, koordinasi pelaksanaan, hingga berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Di sisi lain, hadirnya Komunitas Sedekah Subuh Jogja atau KSSJ menjadi warna baru dalam gerakan kebersamaan BADKO DIY. Sosialisasi KSSJ memang menjadi salah satu agenda resmi dalam Pleno III, yang disampaikan oleh tim KSSJ BADKO DIY. Gerakan tersebut membawa semangat bahwa kebaikan yang dilakukan secara bersama-sama akan melahirkan kekuatan yang lebih besar. Satu tangan mungkin hanya mampu membawa sedikit, tetapi banyak tangan yang saling menggenggam mampu mengangkat beban yang jauh lebih berat. Program Kerja Ketua I, II, dan III: Menyatukan Bidang dalam Satu Tujuan Setelah penyampaian informasi organisasi oleh Ketua Umum, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program kerja BADKO TKA TPA DIY. Ketua Umum didampingi oleh Ketua I, Ketua II, dan Ketua III menyampaikan arah program sesuai bidang masing-masing. Agenda penyampaian program kerja tersebut memang menjadi salah satu inti Rapat Pleno III sebagai sarana koordinasi organisasi. Setiap bidang memiliki tugas dan fokus masing-masing. Namun dalam satu kepengurusan, semua bidang sejatinya berjalan menuju tujuan yang sama: memperkuat pelayanan, pembinaan, dan perkembangan TKA-TPA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pleno menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa langkah tersebut tetap berada dalam satu irama. Sebab dalam perjalanan organisasi, sebuah program yang baik akan semakin kuat ketika dipahami, didukung, dan dikerjakan bersama. Gunungkidul Siapkan FASI dan Rencana SIM TPA Memasuki sesi laporan kegiatan BADKO daerah dan kota, masing-masing Ketua BADKO Kabupaten/Kota atau perwakilan menyampaikan perkembangan serta program yang telah dan akan dilaksanakan. BADKO Gunungkidul mengawali daerah yang menyampaikan laporan mengenai persiapan pelaksanaan FASI. Selain itu, Gunungkidul juga menyampaikan rencana peluncuran aplikasi SIM TPA (Sistem Informasi Manajemen Taman Pendidikan Al-Qur'an). Rencana tersebut menjadi salah satu langkah menarik dalam upaya menjawab kebutuhan pengelolaan TKA-TPA yang semakin berkembang. Aplikasi SIM TPA diharapkan dapat membantu memantau perkembangan unit-unit TKA-TPA secara lebih terstruktur serta mempermudah proses pendataan dan supervisi. Melalui sistem tersebut, berbagai informasi diharapkan dapat terpantau dengan lebih baik, mulai dari kehadiran santri, data ustadz dan ustadzah, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan administrasi, termasuk infaq atau pembayaran TPA. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak, digitalisasi dapat menjadi jembatan untuk memperkuat pelayanan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan Al-Qur'an. Teknologi diharapkan bukan menggantikan peran manusia, melainkan membantu para pengelola agar memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan hal yang paling penting: mendampingi anak-anak. Sleman, Kulon Progo, Kota Yogyakarta, dan Bantul Mantapkan Kesiapan Laporan kemudian berlanjut dari BADKO Sleman, BADKO Kulon Progo, BADKO Kota Yogyakarta, dan terakhir BADKO Bantul. Secara umum, laporan dari masing-masing daerah memperlihatkan semangat yang sama, yakni memantapkan kesiapan dalam menyongsong pelaksanaan FASI XIII. Berbagai persiapan terus dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah. Mulai dari kesiapan pendanaan, persiapan peserta, koordinasi panitia, hingga pelaksanaan kegiatan di tingkat daerah. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Namun perbedaan itulah yang kemudian dipertemukan dalam sebuah pleno. Daerah yang telah menemukan jalan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Daerah yang sedang menghadapi tantangan dapat memperoleh dukungan dari saudara seperjuangan. Di situlah makna koordinasi menemukan bentuknya. Bersama Menjaga Api Perjuangan Rapat Pleno III BADKO TKA TPA DIY bukan sekadar pertemuan organisasi yang diisi dengan laporan dan program kerja. Lebih dari itu, pertemuan di Mangunan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun generasi Qurani adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kebersamaan. Dari Gunungkidul hingga Kulon Progo, dari Sleman hingga Kota Yogyakarta dan Bantul, setiap daerah membawa cerita perjuangannya sendiri. Ada unit-unit TKA-TPA yang tumbuh dengan kuat, ada pula yang masih membutuhkan pendampingan. Ada program yang telah berjalan dengan baik, ada pula gagasan yang masih menunggu untuk diwujudkan. Namun semuanya bertemu dalam satu keyakinan: pendidikan Al-Qur'an harus terus hidup dan berkembang. Ketika rapat memasuki sesi tanggapan dan pengambilan keputusan oleh Ketua Umum BADKO DIY, kemudian ditutup dengan ramah tamah, pertemuan itu meninggalkan satu pesan sederhana namun mendalam. Bahwa dalam perjuangan ini, tidak ada wilayah yang benar-benar berjalan sendiri. Yang kuat diharapkan menguatkan. Yang telah menyala diharapkan mampu menyalakan. Dan yang sedang redup, jangan sampai dibiarkan kehilangan cahaya. Dari sejuknya Mangunan, langkah-langkah itu kembali pulang ke daerah masing-masing. Membawa catatan, membawa program, membawa tanggung jawab. Namun lebih dari semuanya, mereka membawa kembali semangat kebersamaan. Sebab generasi Qurani tidak akan lahir hanya dari satu orang, satu lembaga, atau satu daerah. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang saling menguatkan. Dan selama tangan-tangan itu tetap bergandengan, insyaallah cahaya TKA-TPA akan terus menyala untuk anak-anak Indonesia.
Baca Serunya!
292
Akreditasi TPA Rayon Sedayu Digelar, Tiga Unit Berani Membuka Diri untuk Terus Bertumbuh
BANTUL _Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana pagi di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, Sedayu, Bantul, terasa berbeda. Di tempat yang menjadi titik kumpul pembinaan itu, para pengelola dan ustadz-ustadzah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) berkumpul membawa satu semangat yang sama: memastikan bahwa lembaga tempat anak-anak belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an terus tumbuh, bertahan, dan dipercaya masyarakat. Hari itu menjadi salah satu catatan penting bagi perjalanan pembinaan TKA-TPA di Rayon Sedayu. Akreditasi dilaksanakan secara serentak pada tiga unit, yakni TPA Al Jihad, Surobayan; TPA Al Firdaus, Sumberan, Argodadi; serta TPA Hamas Baiturrohman, Jambon, Argosari. Akreditasi tersebut bukan sekadar kegiatan administratif. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana sebuah lembaga TPA berjalan, bagaimana para ustadz-ustadzah mendampingi santri, serta sejauh mana lembaga tersebut mampu memberikan pelayanan pendidikan Al-Qur’an yang baik kepada masyarakat. Wakil Ketua Rayon Sedayu, Ustadz Muslim, menyampaikan bahwa pelaksanaan akreditasi kali ini merupakan momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya akreditasi secara masal dilaksanakan di Rayon Sedayu. Tiga unit mengikuti proses tersebut, sementara beberapa unit lainnya masih belum berani untuk mengajukan akreditasi. “Ini pertama kali di Rayon Sedayu dilaksanakan akreditasi masal. Total ada tiga unit, beberapa unit masih belum berani diakreditasi,” ujarnya. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak selalu mudah. Ada unit yang sudah siap, ada pula yang masih membutuhkan waktu untuk membenahi berbagai hal. Namun, ketakutan terhadap akreditasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Akreditasi bukanlah ruang untuk mencari kesalahan, melainkan ruang untuk bercermin. Di sana, sebuah TPA dapat melihat apa yang sudah baik, apa yang masih perlu diperbaiki, dan apa yang harus dipersiapkan agar perjalanan lembaganya menjadi semakin kuat. Ketua Badkoda Bantul, Ustadz Arif Nuryanto, mengingatkan bahwa akreditasi di Rayon Sedayu sebenarnya telah dilaksanakan sejak sekitar sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 2016. Namun, belum semua unit berani atau bersedia mengikuti proses tersebut. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada tiga unit yang pada kesempatan ini berani membuka diri untuk diakreditasi. “Sampai hari ini sudah ada empat unit yang sudah diakreditasi di Rayon Sedayu,” jelasnya. Ia berharap semangat tersebut terus berkembang. Terlebih, Rayon Sedayu juga memiliki catatan prestasi dalam pembinaan santri. Pada FASI 2024, Rayon Sedayu berhasil mengirimkan lima santri untuk maju ke tingkat nasional. Harapannya, pada tahun ini jumlah santri yang mampu melangkah lebih jauh dapat bertambah. Di tengah kegiatan tersebut, Tim Asesor, Ustadz Prayitna, memberikan pembinaan yang tidak hanya berbicara tentang administrasi, tetapi juga tentang ketulusan dalam mengelola TPA. Menurutnya, mengurus TPA membutuhkan keikhlasan. Ketika menghadapi persoalan, keluhan sebaiknya pertama-tama disampaikan kepada Allah SWT. “Mengurusi TPA itu harus dengan ikhlas. Kalau mau sambat, sambatlah sama Allah SWT. Pasti dikasih jalan keluar, bukan sambat dengan sesama manusia,” pesannya. Ia menjelaskan bahwa TPA yang baik memiliki kriteria yang dapat dilihat dan diukur. Melalui akreditasi, setidaknya terdapat jaminan bahwa sebuah TPA masih ada dan eksis hingga saat ini. Akreditasi juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Bukan hanya lembaganya yang perlu terus dibenahi. Para ustadz dan ustadzah juga dituntut untuk meningkatkan kualitas diri. Sebab, guru yang baik akan menjadi salah satu jalan lahirnya santri yang baik. Salah satu bentuk pembuktian kompetensi tersebut adalah melalui ujian Syahadah. Dukungan terhadap gerakan pendidikan Al-Qur’an juga disampaikan Panewu Sedayu, Tri Budianto, S.STP. Pemerintah, menurutnya, mendukung berbagai upaya dalam membentuk generasi Qur’ani melalui gerakan TKA-TPA. Di tengah perubahan zaman, pendidikan Al-Qur’an menjadi semakin penting. Kelengahan dalam mendidik generasi masa depan dapat membawa persoalan yang lebih besar. “Sedini mungkin anak-anak dikenalkan dengan Al-Qur’an,” pesannya. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab, masa depan sebuah masyarakat pada akhirnya akan berada di tangan anak-anak yang hari ini sedang belajar mengeja huruf hijaiyah, menghafal surat-surat pendek, dan mengenal nilai-nilai Al-Qur’an. Hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Argosari, Bapak Sudarno, serta Kamituwo Argorejo, Bapak Surame. Rangkaian kegiatan kemudian diiringi dengan doa yang dipimpin oleh KUA Sedayu, Bapak Syahril Sidiq, S.Pd., MA. Dari Sedayu, sebuah pesan penting kembali mengemuka: jangan takut pada akreditasi. TPA tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berani dinilai. Justru melalui proses itulah lembaga dapat belajar menjadi lebih baik. Jangan takut membuka pintu, sebab di balik pintu itu mungkin ada banyak hal yang selama ini belum terlihat. Akreditasi bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah sebuah jeda untuk berhenti sejenak, bercermin, kemudian melangkah kembali dengan lebih yakin. Untuk seluruh unit TPA yang belum mengikuti akreditasi, tidak perlu merasa kecil atau takut. Mulailah dari apa yang ada, benahi sedikit demi sedikit, lengkapi data, kuatkan pengelolaan, dan teruslah bergerak. Sebab sebuah TPA tidak dibangun hanya dengan gedung dan administrasi. Ia dibangun dengan keikhlasan para ustadz, doa orang tua, tawa para santri, dan harapan panjang agar Al-Qur’an tetap hidup di tengah masyarakat. Dan setiap langkah kecil untuk menjaga nyala pendidikan Al-Qur’an, insyaallah, adalah langkah yang sedang menyiapkan masa depan generasi Qur’ani. Bagi unit TPA yang belum mengisi data pendaftaran unit di BADKO, diharapkan segera melakukan pengisian agar lembaga dapat terdata dan terdaftar dengan baik. Semoga dari Rayon Sedayu lahir semakin banyak lembaga TPA yang kuat, tertib, terpercaya, dan terus hidup membersamai masyarakat. Semoga semakin banyak santri berprestasi yang mampu membawa nama baik Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga ke tingkat nasional. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca anak-anak di ruang-ruang kecil TPA menjadi cahaya yang menerangi perjalanan mereka, keluarga mereka, dan masyarakat di sekitarnya. Aamiin.
Baca Serunya!
89
Satu Cahaya untuk Umat: UPZ Badko TPA DIY dan KSSJ Satukan Langkah dalam Gerakan Kebaikan
YOGYAKARTA — Semangat untuk terus menyalakan cahaya kebaikan menjadi pesan utama dalam pertemuan rutin Pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badko TPA DIY yang dilaksanakan di Yogyakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, menyatukan langkah, serta meneguhkan komitmen seluruh elemen dalam membangun gerakan pengumpulan dan pentasyarufan yang semakin luas manfaatnya bagi umat. Dalam pertemuan tersebut, satu pesan sederhana namun penuh makna mengemuka: “Satu yang menyala, jangan sampai yang lain redup. Kita harus bersama-sama menjaga terangnya.” Pesan itu menjadi gambaran tentang pentingnya saling menguatkan dalam sebuah gerakan. Setiap unsur yang bergerak di dalam UPZ Badko TPA DIY diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketika satu bagian memiliki semangat dan kekuatan untuk bergerak, maka semangat tersebut seharusnya mampu menjadi penyulut bagi yang lain. Sebab gerakan kebaikan akan semakin besar bukan hanya karena ada satu pihak yang bekerja keras, melainkan karena banyak tangan saling menggenggam, banyak hati saling menguatkan, dan banyak langkah berjalan menuju tujuan yang sama. Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ), yang merupakan bagian dari UPZ Badko TPA DIY, menjadi salah satu unsur penting dalam pergerakan tersebut. Dalam struktur kepengurusan Badko Wilayah DIY, UPZ berada di bawah koordinasi Bidang Ketua III. Kehadiran KSSJ diharapkan dapat memperkuat gerakan penghimpunan dana umat sekaligus menjadi energi baru dalam memperluas budaya sedekah di tengah masyarakat. Ketua Umum Badko Wilayah DIY, Bapak Suprapto. dalam arahannya memberikan semangat agar pergerakan UPZ dapat terus tumbuh dalam satu kesatuan yang kuat. Ia berharap daerah-daerah tidak perlu membentuk UPZ secara sendiri-sendiri. Sebaliknya, daerah diharapkan dapat mengambil peran sebagai fundraising, memperkuat jaringan pengumpulan dana, serta bergerak bersama dalam sistem yang terpusat di tingkat Badko Wilayah DIY. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan gerakan yang lebih terarah, solid, dan memiliki kekuatan yang lebih besar. Daerah-daerah yang menjadi sasaran pentasyarufan juga tidak perlu melakukan pergerakan dengan membentuk UPZ sendiri, melainkan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama yang telah dibangun secara terpusat. Dengan demikian, energi tidak habis untuk membangun banyak gerakan yang berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, seluruh kekuatan dapat disatukan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. “Ketika kita bersama, cahaya itu akan semakin terang. Jangan sampai ada yang merasa berjalan sendiri. Yang sudah menyala harus membantu menyalakan yang lain, dan yang telah terang harus bersama-sama menjaga agar terangnya tetap bertahan,” menjadi semangat yang mengiringi pertemuan tersebut. Ketua UPZ Badko TPA DIY, Muchlis Umaidi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pemahaman dan apresiasinya terhadap keberadaan Komunitas Sedekah Subuh Jogja. Menurutnya, UPZ memahami bahwa KSSJ bukanlah “toko di dalam toko”. Kehadirannya bukan untuk membangun gerakan yang terpisah, melainkan menjadi bagian yang memperkuat gerakan besar yang telah dibangun bersama. Muchlis Umaidi menyampaikan terima kasih atas kontribusi dan komitmen KSSJ dalam memperkuat pergerakan UPZ Badko TPA DIY. KSSJ menjadi bagian dari tim pengumpulan yang bergerak bersama dalam menghimpun kebaikan dari masyarakat. Setelah seluruh proses pengumpulan dan pelaporan dilakukan dengan baik, gerakan tersebut akan berlanjut pada tahap pentasyarufan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Sebuah proses yang sederhana dalam konsep, tetapi besar dalam makna. Dari tangan yang bersedekah pada waktu subuh, lahirlah harapan bagi mereka yang membutuhkan. Dari kepedulian yang mungkin terlihat kecil, tumbuh kekuatan yang mampu meringankan beban sesama. Pertemuan tersebut juga menjadi momentum penting menjelang launching Komunitas Sedekah Subuh Jogja (KSSJ) yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 30 Agustus 2026. Launching KSSJ akan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Pleno Badko Wilayah DIY. Pada kesempatan tersebut, Badko Daerah Bantul akan menjadi tuan rumah kegiatan yang bertempat di kawasan wisata Seribu Batu, Mangunan, Dlingo, Bantul. Momentum tersebut diharapkan menjadi awal baru bagi perjalanan KSSJ dalam memperkuat gerakan sedekah dan kepedulian sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih dari sekadar sebuah peluncuran organisasi atau komunitas, kehadiran KSSJ diharapkan menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang sebuah gerakan. Gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa kebaikan tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan yang besar. Kadang, kebaikan dimulai dari sesuatu yang sederhana. Dari sebuah sedekah di waktu subuh. Dari tangan yang mau berbagi. Dari hati yang percaya bahwa rezeki yang dititipkan kepada sesama tidak akan pernah benar-benar berkurang. Ke depan, UPZ Badko TPA DIY bersama KSSJ dan seluruh unsur yang terlibat diharapkan terus menjaga semangat kebersamaan. Tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang merasa lebih besar, dan tidak ada cahaya yang dibiarkan redup. Semua bergerak dalam satu barisan. Saling menguatkan. Saling menjaga. Saling menyalakan. Sebab cahaya kebaikan tidak akan pernah kehilangan jalannya selama ada hati-hati yang bersedia menjaganya. Semoga langkah UPZ Badko TPA DIY dan Komunitas Sedekah Subuh Jogja terus berkembang, menjangkau lebih banyak kebaikan, menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang, serta menjadi jalan bagi tumbuhnya kepedulian sosial di tengah masyarakat. Dari Yogyakarta, semoga cahaya itu terus menyala. Bukan hanya untuk hari ini. Bukan hanya untuk satu kelompok. Tetapi untuk umat, untuk sesama, dan untuk masa depan yang lebih penuh dengan kepedulian. Satu cahaya mungkin terlihat kecil. Namun ketika banyak cahaya dijaga bersama-sama, ia akan menjadi terang yang mampu menerangi jalan bagi banyak orang.
Baca Serunya!
134
FASI BADKO TKA TPA DIY: Merayakan Prestasi dan Semangat Santri TKA-TPA se-DIY
Yogyakarta, — Festival Anak Sholeh Indonesia XII (FASI XII) menjadi momentum apresiasi bagi para santri TKA-TPA serta ustadz dan ustadzah dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi TKA-TPA (BADKO TKA-TPA) Wilayah DIY tersebut berlangsung pada Ahad, 1 September 2024, bertempat di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. FASI XII merupakan salah satu agenda yang memberikan ruang bagi para santri TKA-TPA untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta hasil pembelajaran yang telah mereka peroleh di lembaga masing-masing. Kehadiran para peserta dari berbagai wilayah di DIY menjadikan kegiatan tersebut sebagai wadah silaturahmi sekaligus bentuk penghargaan terhadap proses pendidikan Al-Qur’an yang berlangsung di tengah masyarakat. Selain menjadi ajang bagi santri untuk berprestasi, FASI juga memiliki makna penting bagi para ustadz dan ustadzah yang selama ini mendampingi proses belajar anak-anak. Dedikasi para pendidik Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuhnya generasi santri yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, agama, dan nilai-nilai akhlak. Pelaksanaan FASI XII di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta berlangsung dengan lancar. Seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari panitia, peserta, pendamping, lembaga pendidikan, hingga masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. BADKO TKA-TPA Wilayah DIY menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada AMM Yogyakarta yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta sebagai lokasi pelaksanaan, SD Muhammadiyah Purbayan, paguyuban warga, serta seluruh warga sekitar yang berada di area pelaksanaan FASI XII. kunjungan ke SMP Muh 7 YK Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana kegiatan yang tertib, nyaman, dan kondusif. Kolaborasi antara lembaga, masyarakat, dan berbagai pihak menunjukkan bahwa pembinaan generasi Qur’ani membutuhkan kebersamaan dan kepedulian banyak elemen. FASI XII sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan TKA-TPA tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter, keberanian, kreativitas, dan kecintaan anak terhadap nilai-nilai keislaman. DOKUMENTASI FASI XII 2024 DIY Kini perhatian mulai diarahkan pada penyelenggaraan FASI XIII DIY tahun 2026. Setelah kesuksesan FASI XII, pertanyaan mengenai lokasi penyelenggaraan berikutnya tentu menjadi hal yang menarik untuk dinantikan. Di mana FASI XIII DIY tahun 2026 akan digelar? Tunggu informasi selanjutnya.
Baca Serunya!
221
Menanamkan Nilai, Menjaga Generasi: LPQ dan MDT DIY Didorong Jadi Ruang Pendidikan Ramah Anak
YOGYAKARTA — Pendidikan Al-Qur’an tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca dan memahami nilai-nilai keagamaan. Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) juga dituntut menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, bebas kekerasan, serta menghormati hak dan martabat anak. Arah tersebut mengemuka dalam kegiatan “Sosialisasi LPQ dan MDT Ramah Anak Tahun 2026” yang diselenggarakan Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung Kamis, 20 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat 3 Lantai 2 Kanwil Kemenag D.I. Yogyakarta. Kegiatan berjalan dengan lancar dan menjadi ruang penguatan pemahaman mengenai pentingnya penerapan prinsip ramah anak dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan. Undangan kegiatan ditujukan kepada Kasi Pakis/Pontren se-DIY, Ketua FKDT D.I. Yogyakarta, Ketua Badko TPA D.I. Yogyakarta, Direktur LPQ, serta Kepala MDT. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lembaga pendidikan keagamaan agar tidak hanya berorientasi pada capaian pembelajaran, tetapi juga memastikan terpenuhinya hak dan perlindungan anak dalam setiap proses pendidikan. Materi mengenai pemenuhan hak dan perlindungan anak yang menjadi bagian dari bahan kegiatan menegaskan bahwa pendidikan ramah anak berangkat dari prinsip-prinsip Konvensi Hak Anak (KHA). Prinsip tersebut meliputi non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghormatan terhadap pandangan atau partisipasi anak. Indonesia telah meratifikasi KHA melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Dalam konteks pendidikan, hak anak tidak berhenti pada kesempatan memperoleh akses belajar. Materi sosialisasi menekankan pendidikan yang berpusat pada anak, disiplin yang tetap memperhatikan martabat dan harga diri anak atau dilakukan tanpa kekerasan, serta pengembangan kepribadian, bakat, kemampuan, dan kepercayaan diri. Prinsip tersebut relevan untuk diterapkan di LPQ dan MDT. Setiap penyelenggaraan pendidikan Al-Qur’an perlu memastikan proses belajar berlangsung dalam suasana yang mendidik sekaligus melindungi. Anak tidak semestinya menjadi objek yang hanya menerima aturan, melainkan perlu didengar, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai potensi serta kebutuhannya. Materi juga menjelaskan bahwa satuan pendidikan ramah anak mencakup satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memenuhi hak serta memberikan perlindungan khusus bagi anak, termasuk menyediakan mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di lingkungan pendidikan. Karena itu, konsep ramah anak perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik konkret di lembaga pendidikan Al-Qur’an. Badko TPA, misalnya, dapat didorong membentuk LPQ percontohan ramah anak di masing-masing daerah. LPQ percontohan tersebut dapat menjadi tempat belajar bersama bagi lembaga lain dalam mengembangkan standar pembelajaran yang mencerminkan prinsip perlindungan dan pemenuhan hak anak. Standar tersebut dapat dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik lokal. Badko dapat menyusun standar TPA ramah anak se-DIY yang kemudian dikreasikan melalui kebijakan lokal sesuai kondisi masing-masing wilayah. Dengan demikian, ramah anak tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya yang terlihat dalam cara guru mengajar, cara pengelola membuat aturan, hingga cara lembaga merespons persoalan yang dialami santri. Penguatan kapasitas pendidik juga menjadi bagian penting. Bidang pendidikan dan pelatihan dapat mengembangkan media sederhana dan dekat dengan dunia anak, seperti tepuk, yel-yel, lagu, atau materi pembiasaan yang menanamkan pesan anti-kekerasan, saling menghormati, dan keberanian melapor ketika mengalami atau melihat kekerasan. Pendekatan semacam ini memungkinkan nilai perlindungan anak hadir secara alami dalam kegiatan belajar sehari-hari. Aspek ramah anak juga dapat dipertimbangkan dalam penilaian dan akreditasi unit TPA. Dengan memasukkan indikator perlindungan dan pemenuhan hak anak, lembaga akan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk membangun tata kelola yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. Bahan sosialisasi turut menekankan pentingnya kebijakan yang mencegah kekerasan, mekanisme pemantauan, partisipasi peserta didik, keterlibatan orang tua, peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman. Dalam proses pembelajaran, prinsip inklusif dan non-diskriminatif, pembentukan perilaku positif, serta penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan menjadi bagian penting dari satuan pendidikan ramah anak.Pada akhirnya, pendidikan Al-Qur’an yang ramah anak bukan sekadar menghadirkan tempat belajar yang nyaman. Ia merupakan ikhtiar untuk memastikan nilai-nilai agama tumbuh bersamaan dengan penghormatan terhadap kemanusiaan anak. Santri diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi generasi yang berakhlak, percaya diri, menghargai sesama, serta memahami bahwa kekerasan bukan bagian dari pendidikan. Dari ruang-ruang kecil LPQ / TPA dan MDT, budaya pendidikan yang aman dapat ditanamkan. Sebab, ketika anak merasa dihargai dan dilindungi, nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi dapat tumbuh menjadi karakter dalam kehidupan.
Baca Serunya!
176
TPAM Sunan Geseng Jolosutro: 36 Tahun Menanam Cahaya Al-Qur’an, Menumbuhkan Generasi Berakhlak Mulia
Bantul — Tiga puluh enam tahun bukan sekadar bilangan. Ia adalah jejak panjang tentang kesetiaan, perjuangan, dan doa yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (TPAM) Sunan Geseng Jolosutro memperingati milad ke-36, menandai perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an yang telah tumbuh bersama masyarakat di Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TPAM Sunan Geseng Jolosutro saat ini merupakan lembaga terakreditasi A, dengan nomor unit 0213001 dalam penilaian dan pendataan administratif lembaga pembina BADKO TKA-TPA Wilayah DIY, berafiliasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan. Lembaga ini mengelola enam tempat pembelajaran, yakni Unit Jolosutro serta Cabang Jombokan, Kaligatuk, Pandeyan, Ngelosari, dan Pangol. Dengan dukungan 73 ustadz dan ustadzah, TPAM ini membina 285 santri. Angka-angka tersebut menjadi gambaran bahwa TPAM Sunan Geseng Jolosutro bukan lagi sekadar sebuah tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang berusaha menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sekaligus membentuk generasi yang berakhlak mulia. Perjalanan itu bermula dari semangat Ukhuwah Islamiyah di Dusun Jolosutro. Pada 1997, organisasi keislaman tersebut bergerak melalui kajian yang diikuti generasi muda dari wilayah Kring Jolosutro. Setahun kemudian, mereka mengundang tim Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Kotagede Yogyakarta untuk memperkenalkan sistem pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Iqra’. Pada fase berikutnya, lembaga pendidikan Al-Qur’an kemudian berkembang dengan nama Madrasah Diniyah Al-Qur’an Muhammadiyah (MDAM) Sunan Geseng Jolosutro. Kehadiran lembaga ini pada awalnya tidak serta-merta diterima seluruh masyarakat. Perbedaan metode pembelajaran menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Namun, waktu dan ketekunan perlahan membuka pintu penerimaan. Masyarakat akhirnya melihat manfaat keberadaan lembaga tersebut. Dalam profil lembaga tercatat bahwa pada 20 Agustus 1990, keberadaan TPAM Sunan Geseng Jolosutro memperoleh pengakuan dari LPTQ Team Tadarus AMM Kotagede Yogyakarta melalui SK LPTQ Nasional Nomor 004/01/XII/90. Dokumen profil juga mencatat proses perubahan nama dan perkembangan kelembagaan dalam rentang sejarahnya. Dari satu tempat belajar, semangat itu kemudian menjalar. Cabang Jombokan berdiri pada 1990, disusul Kaligatuk pada 1991, Pandeyan pada 26 Desember 1991, Ngantunan pada 1993, Sambisari pada 1998 yang kemudian menjadi Cabang Kenongo, Ngelosari pada 2000, serta Pangol pada 2009. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an yang dirintis di Jolosutro mampu menemukan tempat di hati masyarakat sekitar. Visi yang diusung pun sederhana, tetapi dalam: “Mewujudkan generasi qur’ani yang unggul, berkemajuan dan berakhlak mulia.” Misi tersebut diwujudkan melalui ikhtiar memberantas buta huruf Al-Qur’an serta mendorong penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan belajar dilaksanakan secara rutin pada sore hari. Unit Jolosutro misalnya, melaksanakan pembelajaran setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 15.00–17.00 WIB. Pola pembelajaran juga berjalan di lima cabang lainnya dengan jadwal masing-masing. Prestasi menjadi bagian lain dari perjalanan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, TPAM Sunan Geseng Jolosutro mencatat berbagai capaian, antara lain Juara 1 Nasyid FASI Kabupaten dan Juara 2 Nasyid FASI DIY tahun 2024. Pada FASI Kecamatan Piyungan 2026, para santri juga meraih sejumlah prestasi, termasuk Juara 1 Ceramah Islami Putra, Juara 1 Ceramah Islami Putri, Juara 1 Tilawah, Juara 2 Tilawah, serta Juara 2 Ikrar dan Puitisasi. Jauh sebelum prestasi-prestasi tersebut, TPAM Sunan Geseng Jolosutro juga pernah menorehkan prestasi penting sebagai Juara 2 Unit Percontohan TKA-TPA yang diselenggarakan oleh BADKO TKA-TPA DIY bersama Kanwil Kementerian Agama DIY pada tahun 2012. Prestasi tersebut menjadi salah satu penanda bahwa tradisi pembinaan dan pengelolaan lembaga telah dibangun dengan kesungguhan sejak lama. Kini, memasuki usia ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro diharapkan tidak berhenti pada pencapaian masa lalu. Milad hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas kemanfaatan, serta melahirkan semakin banyak generasi yang bukan hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan hidup. Selamat Milad ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang pernah diajarkan menjadi cahaya yang terus mengalir, setiap langkah para ustadz dan ustadzah menjadi amal jariyah, dan setiap santri yang tumbuh di dalamnya menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Semoga Allah SWT menjaga TPAM Sunan Geseng Jolosutro agar tetap teguh melangkah, semakin maju dalam pengabdian, luas dalam kemanfaatan, dan panjang dalam keberkahan. Dan kiranya TPAM Sunan Geseng Jolosutro dapat menjadi salah satu referensi studi tiru bagi unit-unit TPA lainnya. Sebab, dari Jolosutro kita belajar bahwa lembaga yang besar tidak selalu bermula dari bangunan yang megah, melainkan dari hati yang ikhlas, guru yang istiqamah, masyarakat yang peduli, dan doa yang tidak pernah putus. Semoga dari Jolosutro, cahaya itu terus menyala; dari satu mushaf yang dibaca, tumbuh ribuan akhlak yang terjaga; dari satu generasi yang dibina, lahir generasi-generasi berikutnya yang mencintai Al-Qur’an dan menghidupkan ajarannya.
Baca Serunya!
900
Menyusuri Lima Pintu Cahaya: Supervisi Akreditasi TPA di Rayon Galur
Kulonprogo, 15 Agustus 2026. Pagi ini, Galur seperti sedang menyimpan sebuah cerita. Di antara jalan-jalan yang membelah perkampungan, pepohonan yang teduh, dan masjid-masjid yang menjadi tempat bertumbuhnya cahaya Al-Qur’an, lima lembaga TPA bersiap menerima sebuah kunjungan penting. Bukan kunjungan yang datang membawa ketakutan, melainkan sebuah perjalanan untuk melihat, menata, dan menguatkan. Itulah supervisi akreditasi TPA di Rayon Galur, Kabupaten Kulon Progo. Titik awal perjalanan dipusatkan di TPA Al Muhsin, Bunder, Banaran, Galur. Di tempat inilah pembukaan dilaksanakan. Para direktur TPA, pengurus, tim asesor, dan seluruh unsur yang terlibat berkumpul dalam suasana hangat. Sejenak mereka menyatukan langkah, sebelum perjalanan dilanjutkan menuju lima unit TPA yang menjadi bagian dari supervisi akreditasi kali ini. Lima lembaga tersebut adalah TPA Al Muhsin di Bunder, Banaran, Galur; TPA Al Falach di Sorogenen, Nomporejo, Galur; TPA Baiturrahman di Pandowan, Galur; TPA Mu’tamirin di Karangsewu, Galur; serta TPA Al Mukminun di Barongan, Karangsewu, Galur. Lima nama, lima tempat, lima kisah. Namun semuanya bermuara pada satu cita-cita: menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang semakin tertata, semakin kuat, dan semakin memberi manfaat bagi anak-anak di tengah masyarakat. Mengetuk Pintu, Melihat dari Dekat Setelah pembukaan usai, tim asesor bergerak dari satu unit ke unit lainnya. Seperti menyusuri halaman-halaman dalam sebuah kitab yang belum selesai ditulis, setiap TPA memiliki cerita, kekuatan, sekaligus ruang untuk terus dibenahi. Supervisi tidak sekadar melihat lembar-lembar administrasi. Tim juga menengok sarana dan prasarana yang tersedia, melihat bagaimana sebuah unit TPA menjalankan aktivitasnya, serta berbincang dan berbagi bersama pengurus takmir masjid maupun pengurus TPA. Di sana, akreditasi menemukan maknanya yang lebih sederhana dan manusiawi. Ia bukan sekadar angka, dokumen, atau penilaian. Ia adalah cermin untuk melihat sejauh mana sebuah lembaga telah berjalan, sekaligus jendela untuk memandang langkah apa yang perlu dilakukan setelahnya. Ada administrasi yang perlu dirapikan. Ada sarana yang perlu diperkuat. Ada kebiasaan-kebiasaan baik yang perlu dipertahankan. Dan ada pula hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian, namun ternyata memiliki arti penting dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an. Semua dibicarakan dalam suasana yang cair. Pertanyaan bertemu jawaban. Catatan bertemu pengalaman. Dan pengalaman itu kemudian menjadi bahan untuk tumbuh bersama. “Akreditasi Tidak Menakutkan” Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, perjalanan kembali bermuara di TPA Al Muhsin. Penutupan diikuti oleh seluruh direktur TPA beserta jajaran pengurusnya. Dalam sambutannya, H. Agus Wantoro, S.H. menyampaikan harapan agar semakin banyak unit TPA yang berkenan mengikuti proses akreditasi. Menurutnya, akreditasi tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Justru melalui akreditasi, setiap unit memiliki kesempatan untuk mengetahui keadaan lembaganya secara lebih utuh, menemukan kekurangan, sekaligus memperkuat hal-hal baik yang selama ini telah berjalan. Pesan itu terasa seperti membuka jendela yang sebelumnya mungkin tertutup: bahwa akreditasi bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan salah satu cara untuk memastikan perjalanan pendidikan Al-Qur’an terus berada di jalan yang semakin baik. Dari Daftar Hadir hingga Budaya Tertib Rangkaian kemudian berlanjut dengan evaluasi dan pembinaan yang disampaikan oleh Sekretaris Umum BADKO Wilayah DIY, Fajar Wijanarko, S.T. Dalam evaluasinya, ia menyoroti salah satu hal yang masih sering terabaikan di sejumlah unit TPA, yakni daftar hadir, baik untuk santri maupun ustadz dan ustadzah. Barangkali daftar hadir tampak seperti selembar kertas sederhana. Namun dari lembar sederhana itulah sebuah lembaga dapat merekam perjalanan: siapa yang hadir, siapa yang belajar, siapa yang mengajar, dan bagaimana kedisiplinan sebuah proses pendidikan berlangsung. Sebab lembaga yang besar sering kali tidak hanya dibangun oleh gagasan-gagasan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tertib, berulang, dan penuh kesadaran. Administrasi yang rapi pada akhirnya bukan sekadar urusan berkas. Ia adalah jejak perjalanan sebuah pengabdian. Menyalakan Api Semangat Suasana semakin hangat ketika Dewan Pakar BADKO TPA Kulon Progo, H. Maryanto, S.Ag., memberikan motivasi kepada seluruh peserta. "Tetaplah Istiqomah dalam jalan ini, jagalah apa yang sudah ada dari perjalanan dakwah di TPA ini, Jogonen!". Pesan-pesan yang disampaikan menjadi penguat bahwa mengelola TPA adalah bagian dari perjalanan panjang menanam kebaikan. Tidak semua benih yang ditanam akan segera terlihat menjadi pohon. Tidak semua perjuangan akan langsung menghasilkan buah. Namun anak-anak yang hari ini belajar membaca huruf demi huruf Al-Qur’an, kelak mungkin akan tumbuh menjadi generasi yang membawa cahaya itu lebih jauh. Di situlah letak indahnya pengabdian di TPA. Mungkin namanya tidak selalu disebut. Mungkin lelahnya tidak selalu terlihat. Tetapi setiap huruf yang berhasil dibaca seorang santri, setiap doa yang dilafalkan, dan setiap akhlak baik yang tumbuh, adalah bagian dari buah panjang yang sedang dipersiapkan. Lima TPA, Satu Langkah untuk Terus Bertumbuh Supervisi akreditasi di Rayon Galur pun ditutup dengan suasana penuh keakraban. Lima unit TPA telah dikunjungi. Berbagai catatan telah dihimpun. Beragam pengalaman telah dibagikan. Hari itu, Galur seolah menulis satu halaman kecil dalam perjalanan panjang pendidikan Al-Qur’an di Kulon Progo. Lima TPA telah membuka pintunya. Lima lembaga telah memperlihatkan ikhtiarnya. Dan dari sana, sebuah pesan sederhana kembali diteguhkan: Akreditasi bukan untuk mencari siapa yang paling sempurna, tetapi untuk bersama-sama menemukan jalan agar setiap lembaga menjadi lebih baik. Sebab perjalanan pendidikan Al-Qur’an tidak pernah benar-benar selesai. Ia seperti sungai yang terus mengalir—melewati kampung, masjid, ruang-ruang sederhana, dan hati anak-anak yang sedang belajar mengenal Kalam-Nya. Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika anak-anak itu telah tumbuh dewasa, mereka akan mengenang tempat-tempat kecil ini sebagai salah satu pintu pertama yang memperkenalkan mereka kepada cahaya. Dari Galur, langkah itu kembali dimulai: menata lembaga, menguatkan pengabdian, dan menumbuhkan generasi Qur’ani, satu TPA demi satu TPA.
Baca Serunya!
127
Badko TKA-TPA DIY Perkuat Legalitas Kelembagaan, Tindak Lanjut Pengurusan SK Kemenkumham
Yogyakarta, 14 Agustus 2026. Langkah kecil dalam sebuah penandatanganan berkas, sering kali menjadi bagian penting dari perjalanan panjang sebuah lembaga. Begitulah suasana pengurusan pembaruan data kepengurusan dan keanggotaan BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Bertempat di Kantor Notaris Pandam Nur Wulan, S.H., pada pukul 13.00 WIB, sejumlah pengurus yang terpanggil hadir untuk melakukan penandatanganan bersama dokumen yang diperlukan dalam proses pengurusan SK Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Penandatanganan dilakukan di hadapan notaris sebagai bagian dari proses administrasi dan penguatan legalitas kelembagaan. Adapun pengurus yang hadir dalam proses tersebut adalah: 1. Suprapto 2. Nihayaturruhama' 3. Kushartanto 4. Endro Suwarno 5. Fajar Wijanarko 6. Didik Setiawan 7. Anas Yusuf 8. Yuni Hastariningsih 9. Dai Iskandar Memperbarui Data, Menguatkan Lembaga Pengurusan ini merupakan tindak lanjut dari SK Kemenkumham sebelumnya, yang membutuhkan upgrading atau pembaruan data, terutama berkaitan dengan struktur kepengurusan dan keanggotaan organisasi. Pembaruan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif. Di balik lembar-lembar dokumen yang ditandatangani, terdapat ikhtiar untuk memastikan bahwa organisasi tetap memiliki data kelembagaan yang tertib, mutakhir, dan sesuai dengan perkembangan organisasi. Bagi sebuah lembaga pembina yang menaungi begitu banyak unit TKA-TPA, tertib administrasi menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kelembagaan yang semakin kuat. Mengapa SK Kemenkumham Penting? SK Kemenkumham menjadi salah satu bentuk pengakuan administratif terhadap keberadaan dan legalitas sebuah organisasi berbadan hukum. Dengan legalitas yang jelas, lembaga memiliki dasar yang lebih kuat dalam menjalankan kegiatan, membangun kerja sama, mengelola program, serta berhubungan dengan berbagai pihak secara kelembagaan. Legalitas juga memberikan kepastian mengenai identitas organisasi, struktur kepengurusan, serta keberlangsungan kelembagaan. Terlebih bagi organisasi yang bergerak dalam pembinaan pendidikan Al-Qur'an, keberadaan lembaga yang tertib dan memiliki legalitas menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat dan memperluas kemanfaatan. Namun lebih dari sekadar dokumen, legalitas adalah ikhtiar agar gerakan pembinaan TKA-TPA dapat berjalan semakin tertata, profesional, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman. Manfaatnya Kembali kepada Unit TKA-TPA Pada akhirnya, setiap proses penguatan kelembagaan BADKO TKA-TPA DIY diharapkan bermuara pada satu tujuan: semakin luasnya manfaat bagi unit-unit TKA-TPA yang berada dalam naungan dan binaan BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta. Ketika lembaga pembina semakin kuat, tertib, dan memiliki legalitas yang jelas, maka ruang untuk mengembangkan program pembinaan pun semakin terbuka. Pendampingan kelembagaan, peningkatan kompetensi ustadz dan ustadzah, pengembangan kualitas pembelajaran Al-Qur'an, penguatan administrasi, hingga berbagai program peningkatan mutu TKA-TPA dapat dilakukan dengan pijakan kelembagaan yang lebih kokoh. Sebab di balik setiap data yang diperbarui, ada unit-unit TKA-TPA yang terus menyalakan cahaya Al-Qur'an. Di balik setiap tanda tangan, ada harapan agar semakin banyak anak-anak Yogyakarta tumbuh bersama Al-Qur'an, mengenalnya dengan cinta, membacanya dengan gembira, dan menjadikannya bekal dalam kehidupan. Mari Bertumbuh Bersama BADKO TKA-TPA DIY Penguatan kelembagaan ini sekaligus menjadi momentum untuk mengajak seluruh unit TKA-TPA di D.I. Yogyakarta untuk terus membangun kebersamaan. BADKO TKA-TPA DIY bukan sekadar tempat berhimpun, tetapi rumah bersama untuk belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan memperjuangkan pendidikan Al-Qur'an. Bagi unit TKA-TPA yang belum bergabung, mari menjadi bagian dari gerakan ini. Karena perjalanan mendidik generasi Qur'ani tidak harus ditempuh sendirian. Mari bergabung bersama BADKO TKA-TPA D.I. Yogyakarta. Bersama menguatkan lembaga, bersama meningkatkan mutu, bersama menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Qur'an. Karena ketika langkah-langkah kecil disatukan dalam satu barisan, insyaallah akan tumbuh menjadi gerakan besar yang manfaatnya jauh melampaui apa yang kita bayangkan.
Baca Serunya!Galeri Foto Ceria
Video Keseruan Kita
Tanya Jawab Ceria (FAQ)
Informasi umum & jawaban pertanyaan seputar Badko TKA-TPA DIY