Membangun Generasi Qurani Menyongsong Masa Depan Gemilang
Memuat Waktu...
Pendaftaran Terbuka

Mari Bergabung Bersama Badko TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta

Bersama membina generasi Qur'ani yang cerdas, ceria, dan berakhlak mulia di seluruh wilayah DIY. Bergabunglah bersama ribuan unit TKA-TPA & ustadz/ustadzah lainnya!

Pembinaan Resmi Kurikulum Standar Badko Jejaring Se-DIY
Daftar Sekarang Proses Cepat & Mudah
Info Santri
Pendaftaran dan Updating Data tahap kedua sudah dibuka..., 66 Hari menuju FASI XIII Tingkat Provinsi Yogyakarta

TPAM Sunan Geseng Jolosutro: 36 Tahun Menanam Cahaya Al-Qur’an, Menumbuhkan Generasi Berakhlak Mulia

Penulis 20 Aug 2026 123 Kali
TPAM Sunan Geseng Jolosutro: 36 Tahun Menanam Cahaya Al-Qur’an, Menumbuhkan Generasi Berakhlak Mulia

Bantul — Tiga puluh enam tahun bukan sekadar bilangan. Ia adalah jejak panjang tentang kesetiaan, perjuangan, dan doa yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (TPAM) Sunan Geseng Jolosutro memperingati milad ke-36, menandai perjalanan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an yang telah tumbuh bersama masyarakat di Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

TPAM Sunan Geseng Jolosutro saat ini merupakan lembaga terakreditasi A, dengan nomor unit 0213001 dalam penilaian dan pendataan administratif lembaga pembina BADKO TKA-TPA Wilayah DIY, berafiliasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan. Lembaga ini mengelola enam tempat pembelajaran, yakni Unit Jolosutro serta Cabang Jombokan, Kaligatuk, Pandeyan, Ngelosari, dan Pangol. Dengan dukungan 73 ustadz dan ustadzah, TPAM ini membina 285 santri.

Angka-angka tersebut menjadi gambaran bahwa TPAM Sunan Geseng Jolosutro bukan lagi sekadar sebuah tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang berusaha menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sekaligus membentuk generasi yang berakhlak mulia.

Perjalanan itu bermula dari semangat Ukhuwah Islamiyah di Dusun Jolosutro. Pada 1997, organisasi keislaman tersebut bergerak melalui kajian yang diikuti generasi muda dari wilayah Kring Jolosutro. Setahun kemudian, mereka mengundang tim Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Kotagede Yogyakarta untuk memperkenalkan sistem pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Iqra’.

Pada fase berikutnya, lembaga pendidikan Al-Qur’an kemudian berkembang dengan nama Madrasah Diniyah Al-Qur’an Muhammadiyah (MDAM) Sunan Geseng Jolosutro. Kehadiran lembaga ini pada awalnya tidak serta-merta diterima seluruh masyarakat. Perbedaan metode pembelajaran menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Namun, waktu dan ketekunan perlahan membuka pintu penerimaan. Masyarakat akhirnya melihat manfaat keberadaan lembaga tersebut.

Dalam profil lembaga tercatat bahwa pada 20 Agustus 1990, keberadaan TPAM Sunan Geseng Jolosutro memperoleh pengakuan dari LPTQ Team Tadarus AMM Kotagede Yogyakarta melalui SK LPTQ Nasional Nomor 004/01/XII/90. Dokumen profil juga mencatat proses perubahan nama dan perkembangan kelembagaan dalam rentang sejarahnya.

Dari satu tempat belajar, semangat itu kemudian menjalar. Cabang Jombokan berdiri pada 1990, disusul Kaligatuk pada 1991, Pandeyan pada 26 Desember 1991, Ngantunan pada 1993, Sambisari pada 1998 yang kemudian menjadi Cabang Kenongo, Ngelosari pada 2000, serta Pangol pada 2009. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an yang dirintis di Jolosutro mampu menemukan tempat di hati masyarakat sekitar.

Visi yang diusung pun sederhana, tetapi dalam: “Mewujudkan generasi qur’ani yang unggul, berkemajuan dan berakhlak mulia.” Misi tersebut diwujudkan melalui ikhtiar memberantas buta huruf Al-Qur’an serta mendorong penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan belajar dilaksanakan secara rutin pada sore hari. Unit Jolosutro misalnya, melaksanakan pembelajaran setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 15.00–17.00 WIB. Pola pembelajaran juga berjalan di lima cabang lainnya dengan jadwal masing-masing.

Prestasi menjadi bagian lain dari perjalanan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, TPAM Sunan Geseng Jolosutro mencatat berbagai capaian, antara lain Juara 1 Nasyid FASI Kabupaten dan Juara 2 Nasyid FASI DIY tahun 2024. Pada FASI Kecamatan Piyungan 2026, para santri juga meraih sejumlah prestasi, termasuk Juara 1 Ceramah Islami Putra, Juara 1 Ceramah Islami Putri, Juara 1 Tilawah, Juara 2 Tilawah, serta Juara 2 Ikrar dan Puitisasi.

Jauh sebelum prestasi-prestasi tersebut, TPAM Sunan Geseng Jolosutro juga pernah menorehkan prestasi penting sebagai Juara 2 Unit Percontohan TKA-TPA yang diselenggarakan oleh BADKO TKA-TPA DIY bersama Kanwil Kementerian Agama DIY pada tahun 2012. Prestasi tersebut menjadi salah satu penanda bahwa tradisi pembinaan dan pengelolaan lembaga telah dibangun dengan kesungguhan sejak lama.

Kini, memasuki usia ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro diharapkan tidak berhenti pada pencapaian masa lalu. Milad hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas kemanfaatan, serta melahirkan semakin banyak generasi yang bukan hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan hidup.

Selamat Milad ke-36, TPAM Sunan Geseng Jolosutro.

Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang pernah diajarkan menjadi cahaya yang terus mengalir, setiap langkah para ustadz dan ustadzah menjadi amal jariyah, dan setiap santri yang tumbuh di dalamnya menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Semoga Allah SWT menjaga TPAM Sunan Geseng Jolosutro agar tetap teguh melangkah, semakin maju dalam pengabdian, luas dalam kemanfaatan, dan panjang dalam keberkahan.

Dan kiranya TPAM Sunan Geseng Jolosutro dapat menjadi salah satu referensi studi tiru bagi unit-unit TPA lainnya. Sebab, dari Jolosutro kita belajar bahwa lembaga yang besar tidak selalu bermula dari bangunan yang megah, melainkan dari hati yang ikhlas, guru yang istiqamah, masyarakat yang peduli, dan doa yang tidak pernah putus.

Semoga dari Jolosutro, cahaya itu terus menyala; dari satu mushaf yang dibaca, tumbuh ribuan akhlak yang terjaga; dari satu generasi yang dibina, lahir generasi-generasi berikutnya yang mencintai Al-Qur’an dan menghidupkan ajarannya.

Komentar Santri & Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Kamu

Belum ada komentar. Jadi yang pertama memberikan tanggapan!